TutupJangan Lupa Klik Like Dan Follow ya!

Wednesday, January 13, 2016

Biografi Fidel Castro

Image result for fidel castro
Fidel Alejandro Castro Ruz (lahir 13 Agustus 1926) adalah Presiden Kuba sejak 1976 hingga 2008. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Perdana Menteri atas penunjukannya pada Februari 1959 setelah tampil sebagai komandan revolusi yang gagal Presiden Dewan Negara merangkap jabatan sebagai Dewan Menteri Fulgencio Batista pada tahun 1976. Castro tampil sebagai sekretaris pertama Partai Komunis Kuba (Communist Party of Cuba) pada tahun 1965 dan mentransformasikan Kuba ke dalam republik sosialis satu-partai. Setelah tampil sebagai presiden, ia tampil sebagai komandan Militer Kuba. Pada 31 Juli 2006, Castro menyerahkan jabatan kepresidenannya kepada adiknya, Raúl untuk beberapa waktu.

Pada tahun 1947, ia ikut dalam upaya kudeta diktator Republik Dominika Rafael Trujillo dan lari ke New York (Amerika Serikat) karena adanya ancaman akan dihabisi lawan politiknya. Setelah meraih doktor di bidang hukum pada 1950, ia memprotes dan memimpin gerakan bawah tanah anti-pemerintah atas pengambil-alihan kekuasaan lewat kudeta oleh Fulgencio Batista pada 1952. Tahun 1953, ia memimpin serangan ke barak militer Moncada Santiago de Cuba, namun gagal. Sebanyak 69 orang dari 111 orang yang ambil bagian dalam serbuan itu tewas dan ia dipenjara selama 15 tahun.

Setelah mendapatkan pengampunan dan dibebaskan pada 15 Mei 1955, ia langsung memimpin upaya penggulingan diktator Batista. Perlawanan ini kemudian dikenal dengan Gerakan 26 Juli. Pada 7 Juli 1955, ia lari ke Meksiko dan bertemu dengan pejuang revolusioner Che Guevara. Bersama 81 orang lainnya, ia kembali ke Kuba pada 2 Desember 1956 dan melakukan perlawanan gerilya selama 25 bulan di Pegunungan Sierra Maestra.

Di luar Kuba, Castro mulai menggalang kekuatan untuk melawan dominasi Amerika Serikat dan bekas negara Uni Soviet. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, cita-cita dan impiannya mulai diwujudkan dengan bertemu Hugo Chávez di Venezuela dan Evo Morales dari Bolivia.

Salah satu negara yang paling dibenci Amerika adalah Kuba. Meski demikian, Amerika masih bisa mengambil sebongkah tanah milik Kuba untuk kepentingan penjaranya, yaitu Guantanamo. Penjara yang semasa penggulingan rezim Saddam Husein ter-sebut dipenuhi oleh banyak orang Irak yang tersiksa, selalu di-tuntut oleh Castro untuk segera dikembalikan. Castro memang seorang yang gigih dalam memperjuangkan prinsip hidupnya. la tidak pernah takut untuk berhadapan dengan siapa pun dan negara manapun. Barangkali karena prinsip hidup Castro yang keras dan tidak mau tunduk kepada kepentingan ekonomi serta politik Amerika inilah yang membuat Amerika memandangnya sebagai sebuah ancaman. Agar Castro dipandang sebagai musuh dunia, Amerika memberikan cap negatif kepada Fidel Castro, yaitu sebagai seorang diktator komunis.

Dituduh sebagai seorang diktator komunis tentu saja memberi efek kurang baik bagi Castro, baik di lingkungan internasional maupun di lingkup Kuba sendiri. la bahkan pernah ditu-ding sebagai seorang diktator yang tega memeras rakyatnya demi keuntungan kantong pribadinya. Untuk itu, Castro pun memberikan jawaban lantang, “Jika mereka mampu membuktikan aku memiliki rekening di luar negeri… bahkan jika itu berisi satu dolar, aku akan mengundurkan diri dari kedudukanku!”

Jelas bahwa Castro bukan orang yang suka memanfaatkan negaranya untuk kepentingan pribadinya. Sangkaan jelek terhadap Castro tentu dilontarkan oleh lawan-lawan politiknya yang didalangi oleh Amerika. Sekali lagi, Fidel Castro tidak akan pernah tunduk atas kemauan buruk seperti itu.

Gagal mendiskreditkan pribadi Fidel Castro, Amerika kemudian memberikan serangkaian embargo, termasuk ekonomi kepada Kuba. Akan tetapi, Castro tetap eksis di kursi singgasananya. Namun sekali lagi, Amerika tidak pernah tinggal diam. Fidel Castro telah berkali-kali mengalami percobaan pembunuhan karena telah berani melawan Amerika Serikat.

Segala macam cara di tempuh oleh CIA, badan intelijen Amerika, untuk melenyapkan Fidel Castro dari muka bumi, mulai dari memberi racun dan bahan peledak pada cerutu yang biasa dihisapnya, memberi dosis kematian LSD, memasukkan sianida pada susu coklatnya, memberi infeksi tuberkolosis pa-da baju yang dipakainya, ancaman-ancaman pembunuhan pada setiap kunjungan kenegaraan, hingga memberi obat perontok rambut dan jenggot agar wibawa serta karismanya merosot di mata rakyat.


Amerika menggunakan segala macam cara untuk meng-gulingkan Castro, termasuk melalui sebuah skenario besar dan terkenal di masa lalu, yaitu peristiwa Teluk Babi. Peristiwa Teluk Babi merupakan sebuah operasi rahasia Amerika yang gagal. Peristiwa ini telah mencoreng wajah Amerika Serikat dan mem-buatnya negara adidaya tersebut malu di tahun 1961.

Peristiwa yang dirancang dan didanai oleh Amerika Serikat itu dilakukan oleh orang-orang Kuba sendiri yang berada di pembuangan. Dilancarkan di wilayah Kuba barat daya. Pe¬ristiwa ini menandai klimaks dari sikap anti Kuba oleh Amerika Serikat (AS).

Ketegangan AS-Kuba telah bertumbuh sejak Castro menggulingkan rezim diktator militer sayap kanan Jenderal Fulgen-cio Batista yang didukung AS, pada 1 Januari 1959. Pemerintah-an Amerika ketika dipimpin oleh Eisenhower dan Kennedy me-nilai bahwa pergeseran Castro kepada Uni Soviet tidak bisa di-terima, dan karena itu mereka berusaha menggulingkannya. Na-mun, keinginan AS itu tidak berhasil dicapai melalui invasi Teluk Babi sebab memang gagal total dan ternyata menjadi noda internasional bagi pemerintahan Kennedy sendiri.

Apa pun alasannya, yang jelas invasi itu telah menjadikan Castro lebih populer dari sebelumnya. Melalui peristiwa itu, Cas¬tro bahkan memperoleh kekuatanbaru untuk menanamkan sentimen-sentimen nasionalistik di tubuh rakyat, dalam rangka mencari dukungan untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan ekonominya. Dan yang lebih menyakitkan lagi bagi Amerika adalah bahwa Kuba berhasil menyandera seribu lebih tawanan Amerika Serikat, yang pada akhirnya justru Amerika Serikatlah yang harus memasok sejumlah makanan dan obat-obatan seharga 53 juta dolar sebagai pembayaran untuk membebaskan para tawanan itu. “Untuk pertama kalinya dalam sejarah,” kata Castro, “Imperialisme telah membayar kerugian perang!”


“Menyeberang” ke Marxisme
Meski Castro memiliki jiwa militan dan cenderung revolu-sioner, namun orientasi politik yang dimilikinya sebenarnya adalah liberal. Karena itu dalam gerakan mahasiswa ia sering bentrok dengan kaum komunis. Fidel Castro sendiri juga bukan seorang Marxis pada awalnya. Di kemudian hari dalam suatu pidatonya pada Desember 1961, ia, seperti ditulis Current Bi¬ography 1970, mengesankan bahwa Marxisme baru benar-benar terbentuk dalam dirinya setelah ia berada pada pucuk kekuasaan.

Gagal menggebrak secara legal, Fidel Castro mengorganisasi para pemuda idealis untuk memberontak, “demi demok-rasi, keadilan sosial, dan menegakkan konstitusi 1940″. Dengan mengerahkan 165 orang massanya, pada 26 Juli 1953 Fidel Cas¬tro melancarkan serangan, dengan senjata seadanya, ke Moncada Barrack di Santiago. la sangat berharap ketika itu bahwa dengan adanya serangan maka semangat pemberontakan umum di Provinsi Oriente akan terbakar. Akan tetapi, semua harapannya itu tidak tercapai sama sekali. Serangan yang dilakukan bersa-maan dengan serbuan ke garnisun Bayamo itu terbukti gagal. Setengah dari kawanan pemberontak tewas dibantai oleh tentara Batista. Selebihnya, sebagian besar tertawan, termasuk Fidel dan adiknya, Raul.

Proses peradilan diselenggarakan di sebuah rumah sakit tentara yang tersembunyi dalam bangunan bawah tanah di Havana, lokasi yang seperti diucapkan Fidel Castro dalam pledoinya, “menandakan bahwa pengadilan ini benar-benar tidak sehat.”

Berdasarkan amnesti umum 15 Mei 1955, Fidel Castro pun dilepaskan. Dan segera sesudah itu laki-laki ini mencoba kembali mengkoordinasikan kegiatan anti-Batistanya, kali ini benar-benar tanpa kekerasan.

Pada Juli di tahun yang sama, Fidel Castro mengungsi ke Mexico City. Di sini Castro memulai babak baru perjuangannya. Secara rahasia Castro kemudian mem-persiapkan perjuangan bersenjata di ba-wah pimpinan mantan Jenderal Alberto Bayo Girau, veteran perang pembe-basan Spanyol di tahun 1936 yang hijrah ke Meksiko.

Pada 24 November 1956 dari Tuxpan di Meksiko, dengan semboyan “kalau saya berangkat, saya sampai; kalau saya sampai, saya masuk; kalau saya masuk, saya menang”, pukul 1:30 dini hari berangkatlah kapal dengan nama Granma. Kapal itu membawa 82 orang, termasuk Che Guevara, lengkap dengan sen-jata dan bekal makanan serta minuman, dengan tujuan pantai Las Coloradas di Oriente, Kuba sebelah Timur.

Mereka terpisah-pisah, saling tidak mengetahui nasib te-man-temannya. Fidel sempat terpisah bersama dua tentara lainnya. Setelah beberapa hari kemudian baru bisa bertemu dengan Raul, adiknya. Dengan demikian seluruh pasukan mereka hanya tinggal tersisa dua belas orang dengan kekuatan delapan senjata. Ketika mereka ditemukan oleh petani, Fidel menyerukan, “Dengan delapan senjata kita bisa menang!”.

Batista tidak memahami sendiri tentang kondisi dalam negerinya, di mana penderitaan rakyat meningkat, sementara Ame-rika sendiri sebagai salah satu negara demokrasi, sejak awal tidak pernah mendukung aksi kudetanya secara tulus. Wawancara Fidel Castro dan
beberapa kawannya yang tersisa dengan wartawan The New Times,. Herbert L. Matthews, yang diterbitkan pada edisi 24 Februari 1957, kemudian membuyarkan sikap lengah pemerintahan Batista itu.


Strategi Menggulingkan Batista
Fidel Castro bersama dua belas orang temannya, dari hari ke hari makin mendapat tambahan kekuatan. Para sukarelawan berdatangan dan bergabung. Rakyat banyak berdiri di belakang barisan Castro. Barangkali penampilan Fidel Castro sendiri yang sangat simpatik dan kharismatik itu yang membuat rakyat me-milih mendukungnya. Seperti digambarkan Matthews, Castro adalah laki-laki dengan kepribadian mengagumkan. Berpen-didikan, penuh dedikasi sekaligus fanatik, dan selalu bersema-ngat dengan kepemimpinan yang sangat kuat.

Daya pikat itu dan situasi dalam negeri yang rawan di bawah Batista, yang membuat banyak orang bergabung bergerilya, menjadi titik tolak bagi tindakan Fidel Castro berikutnya. la kemudian memproklamasikan perang total, yang dimulai pada 1 April 1958. Rakyat mulai membentuk barisan dan memang-gul senjata. Pada bulan-bulan selanjutnya para gerilyawan ini segera memperoleh berbagai kemenangan dan itu memberikan inspirasi kepada pelbagai gerakan perlawanan sipil di kota-kota di Kuba.

Serangan yang berlangsung bertubi-tubi itu, pada akhirnya membuat Batista kewalahan. Beberapa kota telah dikuasai oleh kaum pemberontak di bawah pimpinan Castro. Akibatnya, akhir Desember 1958, Batista terpaksa mengakui kekalahannya. la kemudian melarikan diri ke Republik Dominika, pada tengah ma-lam di tahun baru 1959. Pelarian ini merupakan suatu pertanda bahwa sebuah rezim telah berakhir di Kuba. Fidel Castro ber-sama pasukannya berderap gagah memasuki ibukota Havana pada 1 Januari 1959. Sementara itu Santiago, kota terbesar ke-dua di Kuba setelah Havana, pada saat yang sama sudah pula dikuasai para pemberontak.


. . “Menanam” Marxisme di Kuba
Setelah naik ke puncak kekuasaan, Castro pun melakukan banyak pembenahan di lingkup pemerintahan Kuba. Pembenahan itu tentunya berangkat dari ukuran politik serta prinsip ideo-logi yang dianut Castro sendiri. Salah satu hal yang dilakukan Castro adalah menjadikan Kuba sebagai negara sosialis. Niatan itu sebetulnya bukan datang begitu saja ketika ia duduk di tam-puk kekuasaan, melainkan baru dalam beberapa tahun kemu-dian setelah Castro memikirkan sejumlah pertimbangan.

Di tahun 1961, bersamaan dengan pidato May Day, Castro menyatakan bahwa Kuba resmi menganut paham sosialis. Saat itu pula ia menyatakan bahwa pemerintah tidak lama lagi akan menyelenggarakan pemilihan umum, dengan ketentuan bahwa “Revolusi tak akan memberi kesempatan sedikit pun kepada kelas penindas untuk tampil lagi menegakkan kekuatan”. Pada 2Desember 1961 iamenegaskankembali bahwa program Marxistis-Leninistis akan diterapkan sesuai dengan kondisi subjektif negeri Kuba.

Selama bertahun-tahun di bawah pemerintahan Castro, Kuba terus bertumbuh, termasuk bidang ekonominya. Di tahun 1983 pertumbuhan ekonomi Kuba telah mencapai 5%. Itu berlangsung di tengah kondisi negara-negara Amerika Latin umumnya sedang terseok-seok.

Pada tingkat sekolah dasar, sebelum pelajaran dimulai para murid biasa mengucapkan “hymne” lisan, “Pioneros pol el communismo. Seremos como el Che” (“Komunis sebagai pelopor. Kami ingin menjadi Che”).

Sejak tahun 2000, pemerintah Kuba menggelar program yang dinamakan “University for All”. Program ini memberi kesempatan bagi seluruh rakyat Kuba, laki-laki, perempuan, sudah menikah ataupun belum, untuk menempuh pendidikan hingga universitas. Tujuannya untuk menjadikan Kuba sebagai Negara “nation becomes a university.” Salah satu dari program ini adalah pendidikan melalui televisi. Bayangkan saja, siaran pendidikan melalui televisi ini diberikan oleh para profesor. Pemerintah memberikan waktu tayang sebanyak 394 jam siar untuk program pen-didikan setiap minggunya. Ituberarti senilai 63% dari total wak¬tu siaran televisi.


Yang Khas dari Fidel
Ada banyak hal khas yang dapat dilihat dari seorang Fidel Castro. Saat berpidato di hadapan sidang atau rapat-rapat besar PBB misalnya, Castro akan memukul mikrofon setiap kali menyebutkan kata Amerika Serikat, “The United States…plak!” demikian yang sering dilakukannya. Ada juga kalimat penutup yang nilainya kira-kira sama dengan kata “amin”. 
“Fidel Tidak Tergantikan”
Fidel Castro sampai akhir masa jabatannya, tetap mempertahankan Marxisme. Ia menerapkan partai tunggal di negaranya, hal yang selalu ditentang oleh Amerika. Bagi Castro, partai tunggal sangat perlu untuk menyatukan rakyat Kuba. Multi partai dinilai berpotensi menjadi “pintu masuk” bagi Amerika untuk mengendalikan Kuba dari Gedung Putih. Atas nama demokrasi, sejak dulu Amerika ingin begitu leluasa mengenda¬likan Kuba, meskipun tindakan itu sebetulnya jauh lebih tidak demokratis lagi karena bagaimanapun demokrasi cenderung menghargai perbedaan dan mengecam kesewenang-wenangan.

Kini Fidel Castro tetaplah Castro, pemimpin yang di mata rakyatnya dilihat sebagai seorang flamboyan. Ia kini hanya sedikit agak kaku dan cenderung bersikap kalem. Ia juga masih setia dengan kegemarannya mengulum cerutu yang konon harus dilinting di atas paha wanita cantik pilihannya.

Castro adalah orang yang sangat tegfas terutama dalam menjalankan ideologi dan prinsipnya. Dalam hal ini ia tidak peduli dengan permasalahan Hak Asasi Manusia. Suatu kali ia dengan tegas menyatakan ketidaksediaannya berkompromi dengan se-gala imbauan tentang hak-hak asasi manusia. Bukan hanya menolak organisasi semacam Amnesti Internasional bercokol di negerinya.

Segala kritik atas kebijakannya, ia timpali hanya dengan mengangkat bahu. Termasuk soal Hak Asasi Manusia yang selalu diributkan pihak Amerika. Tindakan Amerika yang selalu mengincar kematiannya, bagi Castro mungkin dianggap sebagai sebuah pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh negara yang katanya sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Dan negara semacam itu menurut Castro sebetulnya tidak pantas untuk membela dan memperjuangkan Hak Asasi Manusia.

Kini Fidel Castro yang dituduh sebagai seorang diktator oleh pemerintah Amerika itu telah meletakkan jabatannya. la tidak menjalankan niatnya untuk menjadi Presiden seumur hi-dup di Kuba seperti yang pernah disampaikannya di era 70-an silam. Jabatan Presiden Kuba telah dilepaskan Fidel Castro pada 24 Februari 2008 dan diserahkan kepada Raul Castro, adiknya. Raul adalah orang yang pernah sama-sama berjuang dengan Fidel Castro dalam menggulingkan kekuasaan Batista. Namun deniikian, di atas semuanya, tokoh sentral Kuba tetaplah Fidel Castro.

“Fidel adalah Fidel. Fidel tidak tergantikan.” kata Raul saat dilantik. 

Fidel Castro Dan Bung Karno
 
Persahabatan Bung Karno (Indonesia) dengan Fidel Castro (Kuba), sudah terjalin sangat baik. Bahkan secara pribadi, Bung Karno dan Fidel Castro memiliki beberapa persamaan karakter. Di antara sekian banyak karakter, salah satunya adalah sama-sama berjiwa progresif revolusioner. Keduanya orang-orang kiri, orang-orang sosialis, anti Nekolim. Karenanya, tentu saja, keduanya juga menjadi musuh atau setidaknya dimusuhi Amerika Serikat dan sekutunya.

Pasca tragedi Gestok (Gerakan Satu Oktober) atau yang oleh Orde Baru disebut Gerakan 30 September/PKI itu, terjadi dialog cukup intens antara Bung Karno dan Castro, antara lain melalui perantara Dubes Hanafi, orang kepercayaan Sukarno yang menjadi duta besar Indonesia di Kuba.

Nah, surat Bung Karno kepada Fidel Castro berikut ini, sedikit banyak menggambarkan situasi ketika itu.

Presiden Republik Indonesia
P.J.M. Perdana Menteri Fidel Castro, Havana

Kawanku Fidel yang baik!

Lebih dulu saya mengucapkan terima kasih atas suratmu yang dibawa oleh Duta Besar Hanafi kepada saya.

Saya mengerti keprihatinan saudara mengenai pembunuhan-pembunuhan di Indonesia, terutama sekali jika dilihat dari jauh memang apa yang terjadi di Indonesia – yaitu apa yang saya namakan Gestok dan yang kemudian diikuti oleh pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh kaum kontra revolusioner, adalah amat merugikan Revolusi Indonesia.

Tetapi saya dan pembantu-pembantu saya, berjuang keras untuk mengembalikan gengsi pemerintahan saya, dan gengsi Revolusi Indonesia. Perjuangan ini membutuhkan waktu dan kegigihan yang tinggi. Saya harap saudara mengerti apa yang saya maksudkan, dan dengan pengertian itu membantu perjuangan kami itu.

Dutabesar Hanafi saya kirm ke Havana untuk memberikan penjelasan-penjelasan kepada saudara.

Sebenarnya Dutabesar Hanafi masih saya butuhkan di Indonesia, tetapi saya berpendapat bahwa persahabatan yang rapat antara Kuba dan Indonesia adalah amat penting pula untuk bersama-sama menghadap musuh, yaitu Nekolim.

Sekian dahulu kawanku Fidel!

Salam hangat dari Rakyat Indonesia kepada Rakyat Kuba, dan kepadamu sendiri!

Kawanmu

ttd

Sukarno

Jakarta, 26 Januari 1966


Surat Bung Karno kepada Fidel Castro itu menggambarkan betapa revolusi Indonesia mundur ke titik nol. Betapa Bung Karno tengah menyusun kekuatan untuk memulihkan keadaan. Sejarah kemudian mencatat, ia digulingkan Soeharto.


sumber : http://info-biografi.blogspot.co.id/2012/09/biografi-fidel-alejandro-castro-ruz.html

Sunday, November 29, 2015

Biografi Abdoel Moeis

Abdoel moeis.jpg

Dunia kesusastraan Indonesia mengenal Abdul Muis sebagai pengarang yang cukup produktif. Bukunya ”Salah Asuhan ” yang bertemakan kritik sosial, sering dibicarakan orang. Kalangan politik, khususnya dalam masa pergerakan Nasional, mengenal Abdul Muis sebagai salah seorang tokoh Sarekat Islam (SI) yang berani dan sanggup membangkitkan semangat massa melalui pidato-pidatonya.

la lahir tanggal 3 Juli 1883 di Sungai Puar, Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Jabatan ayahnya sebagai Tuanku Laras (setingkat Wedana) memungkinkan setamat dari ELS Abdul Muis memasuki STOVIA (School tot Oleiding Voor Inlandsche Artsen) atau Sekolah Dokter Bumi Putera di Jakarta. Waktu diadakan ujian pratikum, Abdul Muis jatuh pingsan. Ternyata ia tidak tahan melihat darah. Dengan demikian gagallah cita-cita Muis untuk menjadi dokter.

la lalu beberapa waktu lamanya bekerja sebagai pegawai negeri pada Departemen Van Eredienst en Nijverhid (Departemen Agama dan Kerajinan). Sesudah itu ia pindah ke harian "Preanger Bode” surat kabar Belanda yang terbit di Bandung. Tugas Abdul Muis adalah mengoreksi karangan-karangan yang akan dimasukkan ke percetakan. Dengan sendirinya ia membaca karangan-karangan Belanda berisi penghinaan terhadap bangsa Indonesia.

Perasaan Muis tersinggung. Ia mengajukan protes kepada atasannya, tetapi tidak pernah ditanggapi. Hal itu mendorongnya untuk juga menulis karangan-karangan yang menangkis penghinaan yang dilontarkan terhadap bangsanya oleh penulis-penulis Belanda. Artikel-artikel itu dikirimnya ke hari­an ”De Express” harian berbahasa Belanda yang dipimpin oleh Douwes Deker (Danudirja Setiabudi), seorang Indo yang menentang penjajahan Be­landa.

Sementara itu pertentangannya dengan pimpinan Preanger Bode semakin meningkat. Akhimya Muis meninggalkan Preanger Bode dan pindah bekerja ke harian ”Kaum Muda”. Di sini ia diterima menjadi pimpinan redaksi.

Melalui harian ”Kaum Muda” ia dapat menyalurkan hasratnya tanpa ada yang menghalangi. Tulisan-tulisannya bernada tajam mengecap pemerintah. Ia juga mengasuh ruangan ”pojok” yang terdapat pada harian itu, yang diberinya nama ”Keok”, artinya kalah atau serba salah. Dalam ruangan pojok itu ia melontarkan sindiran yang tajam, tetapi lucu. Penggemar ”Keok” bukan saja tokoh-tokoh Pergerakan Nasional, tetapi juga pegawai pemerintah. Di samping itu ia juga membantu harian ”De Express” dan duduk dalam staf redaksi. Tulisan-tulisannya ditandai A.M. alias dari Abdul Muis.

Selain menulis, Abdul Muis terkenal pula pandai berdebat dan berpidato. Dengan bekal itu ia terjun ke dalam gelanggang pergerakan nasional. Waktu di Bandung didirikan cabang ”Sarekat Islam” (SI) Muis masuk menjadi anggota. Mula-mula ia hanya tercatat sebagai anggota biasa, tetapi berkat kegiatan dan kecakapannya, tak lama kemudian ia diangkat menjadi Wakil Ketua SI cabang Bandung, dan sebagai ketua adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Selain itu ia duduk pula sebagai anggota pimpinan sentral komite pengurus pusat SI.

Perhatiannya kepada Pergerakan Nasional semakin besar dan sejalan dengan itu, sikapnya terhadap Pemerintah Kolonial semakin tegas.

Pada bulan November 1913 Pemerintah Hindia Belanda bermaksud mengadakan perayaan besar-besaran memperingati ”100 Tahun Kemerdekaan Negeri Belanda” (Dari Penjajahan Perancis). Untuk membiayai peringatan perayaan itu pemerintah memungut uang dari rakyat. Kaum nasional Indone­sia menganggap tindakan itu sangat tidak adil. Rakyat Indonesia masih berada dalam kungkungan penjajahan, tetapi diharuskan memberikan uang untuk memperingati perayaan kemerdekaan bangsa yang sedang menjajah mereka.

Maka atas prakarsa Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Cipto Mangunkusumo dan Wignyadisastra (Harian Kaum Muda) dibentuklah ”Komite Bumi Putera”, yaitu komite yang akan merayakan ”100 tahun kemerdekaan negeri Belanda” dengan caranya sendiri berbeda dengan cara Pemerintah Kolonial merayakannya. Abdul Muis giat di dalam komite itu. ”Komite Bumi Putera” dibentuk sebagai protes terhadap tindakan pemerin­tah. Selain itu komite bermaksud pula mengirimkan telegram kepada Ratu Wilhemina supaya di Indonesia dibentuk parlemen yang sesungguhnya.

Suwardi Suryaningrat melancarkan protes melalui tulisannya yang berjudul ”Als ik eens Vederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Dengan cara halus ia menyindir pemerintah Belanda yang bermaksud meraya­kan hari kemerdekaan di tanah jajahannya. Dr. Cipto Mangunkusumo pun menulis artikel berjudul ”Kracht of Vrees” (Kekuatan atau Ketakutan).

Pemerintah segera bertindak, Suwardi, Cipto, Wignyadisastra dan Ab­dul Muis ditangkap dan ditahan di dalam penjara. Douwes Dekker membela mereka dengan menulis artikel berjudul ”Onze helden, Cipto Mangunkusumo, en R.M. Suwardi Suryaningrat” (Pahlawan kita, Cipto Mangunkusumo, dan RM. Suwardi Suryaningrat). Tulisan itu ia menyebabkan ia ditangkap dan dipenjarakan pula. Abdul Muis dan Wignyadisasira dilepaskan dari tahanan sedang ketiga orang lainnya dihukum buang dalam negeri. Atas permintaan mereka hukuman itu diganti dengan pengasingan ke negeri Belanda.

Meskipun telah mengalami penahanan, Muis tetap giat dalam politik. Dalam tahun 1916 di Bandung dilangsungkan Kongres Nasional pertama SI. Dalam kongres itu semakin keras terdengar suara-suara yang menyatakan ketidakpuasan rakyat terhadap politik jajahan. Abdul Muis dalam pidatonya mengatakan, bahwa SI memilih cara-cara itu tidak mendatangkan hasil, maka rakyat harus siap membalas kekerasan dengan kekerasan.

Sekalipun kegiatan Abdul Muis dalam partai sudah banyak menyita waktunya, namun bidang jurnalistik tidak ditinggalkannya sama sekali. Dalam tahun 1916 itu pula ia bekerja sama dengan Haji Agus Salim memimpin majalah ”Neraca”. Tugas sebagai redaksi ”Neraca” dijalankan selama delapan tahun. Karena penghasilan sebagai redaktur itu tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, maka ia pun bekerja sebagai pegawai pada "Inlandsch Credietwezen” (Urusan Kredit Bumi Putera). Sejak bekerja di sini, ia memperhatikan nasib buruh dan para pegawai.

Sementara itu tahun 1914, Eropa dilanda oleh Perang Dunia I. Negeri Belanda terlibat di dalamnya. Dengan sendirinya masalah penahanan In­donesia menjadi pembicaraan dalam sidang Volksraad (Dewan Rakyat) yang dibentuk dalam tahun 1918. Waktu itu Abdul Muis sudah menjadi anggota Volksraad. Ia bersama Cokroaminoto sudah mewakili SI. Untuk membicarakan masalah pertahanan itu dibentuk sebuah komite yang disebut ”Indie Weerbaar” (Ketahanan Hindia Belanda). Komite itu mengirim utusan ke Negeri Belanda untuk memperjuangkan, agar di Indonesia dilaksanakan milisi. Utusan itu terdiri dari Abdul Muis, Dwijosewoyo (Wakil Budi Utomo) dan D. Van Hindeloopen.

Perjuangan untuk milisi itu gagal, tetapi Abdul Muis berhasil meyakinkan Pemerintah Belanda, bahwa di Indonesia perlu didirikan sekolah tinggi teknik. Hal itu kemudian berwujud dengan didirikannya ’Technise Hooge School” (Sekarang Institut Teknologi Bandung, ITB). Gagasan itu timbul setelah Abdul Muis mencoba naik pesawat terbang. Dari pengalaman itu ia yakin bahwa kemajuan teknik barat perlu dipelajari oleh pemuda-pemuda Indonesia.

Setelah kembali ke Tanah Air suara Abdul Muis makin keras menuntut perbaikan-perbaikan untuk rakyat. Ia sering mengadakan kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah sebagai anggota Volksraad dan sebagai wakil SI. Dalam kunjungan ke Sumatera Barat ia berpidato mengenai perlunya pemerintahan sendiri bagi Indonesia. Selain itu dibahasnya pula soal rodi yang sangat memberatkan bagi penduduk.

Rodi itu dikatakan sebagai kerja paksa untuk yang dipertuan. Rakyat dianjurkan agar supaya berjuang untuk menghapuskan rodi. Daerah Sulawesi tak luput pula dari kunjungannya. Dalam kesempatannya ia berpidato, ia selalu menganjurkan para pemuda agar berusaha mencapai kemajuan. Pengalaman di luar negeri diceritakan kepada para pemuda tersebut, katanya ”Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang?!”

Pada tahun 1919 dalam SI timbul perpecahan. Semaun, Darsono, Alimin, dan tokoh-tokoh SI Semarang, sudah kemasukan ideologi komunis. Hal itu cukup membahayakan kehidupan partai. Karena itu Abdul Muis dan Agus Salim mengusulkan supaya diadakan disiplin partai, artinya orang-orang yang berhaluan komunis harus meninggalkan SI. Dengan cara demikian kelompok komunis keluar dari SI. Dalam tahun 1920 mereka mendirikan Partai Komunis Hindia kemudian menjadi PKI pada tahun 1924.

Perhatian Abdul Muis terhadap perburuhan sudah dimulai ketika ia masih menjadi pegawai urusan kredit Bumi Putera. Sejak itu ia berjuang untuk memperbaiki keadaan sosial para buruh. Dalam tahun 1920 Muis dipilih menjadi ketua pengurus besar ”Perkumpulan Buruh Pegadaian” dan setahun kemudian ia sudah memimpin pemogokan buruh pegadaian di Yogyakarta bersama Suryopranoto. Yang disebut terakhir itu kemudian justru terkenal disebut ”Stangkingskoning” (Raja Pemogokan). Pemogokan itu dianjurkan sebagai senjata buruh untuk perbaikan nasib sebagai penuntutnya. Akibatnya banyak buruh yang dipecat dan Abdul Muis beserta beberapa pimpinan pe­mogokan lainnya ditangkap.

Setelah dibebaskan, ia kembali berjuang di lapangan Politik. Kegiatannya mulai mencemaskan Pemerintahan Belanda. Dalam tahun 1926 pemerin­tah bertindak. Ia dilarang tinggal di daerah kelahirannya, Sumatera Barat. Larangan ini disusul dengan larangan keluar Pulau Jawa. Di samping itu pula ia dilarang mengadakan kegiatan Politik. Tetapi ia diperbolehkan memilih daerah yang disukainya sebagai tempat pengasingannya.

Abdul Muis memilih tempat di daerah Garut, sebab di sana banyak pengikut SI. Dengan demikian ia masih dapat akan bergerak. Akan tetapi ternyata kemudian gerak-geriknya selalu diawasi oleh pemerintah. Akibatnya kegiatan politiknya menjadi berkurang namun ia masih sempat memimpin harian ”Mimbar Rakyat”. Tulisan-tulisannya dalam harian ini tetap tajam mengeritik pemerintah. Akibatnya harian itu dilarang terbit.

Hidup di dalam pengasingan dan dilarang melakukan kegiatan politik merupakan pukulan yang berat bagi seorang politikus. Karena itu dalam tahun 1937 Muis memutuskan untuk bekerja sebagai pegawai kontroler di daerah Garut. Hal itu dilakukannya supaya ia jangan menganggur, tetapi didorong pula oleh keyakinan, bahwa ia dapat bertindak tegas terhadap orang Belanda yang menyalahi peraturan. Banyak di antara mereka yang tidak menjalankan kewajiban membayar pajak, sewa listrik, air minum dan lain-lain. Dengan memilih bekerja kepada pemerintah itu, ia mendapat kritik dari kawan-kawannya, tetapi Muis tidak mengacuhkannya, sebab ia mempunyai tujuan tertentu. Sebaliknya ada pula temannya yang menganjurkan supaya ia meminta ampun kepada pemerintah, agar ia dapat hidup senang. Anjuran itu tidak diindahkannya.

Setelah bekerja selama dua tahun, Pemerintah Belanda mencabut keputusan pengasingan Abdul Muis. Dengan demikian ia kembali sebagai orang merdeka.

Masa di Garut itu merupakan masa penting pula bagi karir Abdul Muis sebagai Sastrawan. Selama berada di pengasingan hasratnya bergejolak, tetapi ia tidak dapat menyalurkannya. Dalam keadaan demikian jiwa sastra Abdul Muis tampil ke muka. la menulis buku yang kemudian cukup terkenal hingga sekarang yakni ”Salah Asuhan”. Sebenarnya sebagian dari isi buku itu adalah kisah nyata, yaitu tentang percintaan Muis dengan seorang gadis Belanda yang bernama Carry. ketika ia masih menjadi siswa STOVIA. Dalam buku itu ia menampilkan pertentangan dua generasi yakni generasi tua dan generasi muda. Secara tersirat ia mengingatkan bahwa generasi tua tidak seluruhnya salah. Persatuan antara dua generasi itu akan membawa manfaat yang besar bagi bangsa.

Selain ”Salah Asuhan” yang sangat terkenal itu Abdul Muis juga menulis beberapa buku lainnya, di antaranya ialah ”Pertemuan Jodoh, Daman Brandal, Sabai nan Alui" (Cerita Rakyat Minangkabau) dan "contoh Surat menyurat", ia juga menterjemahkan buku dan Bahasa asing, antara lain ”Sebatang Kara", "Pangeran Krone", "Tom Sawyer", "Suku Mohawk Tumpas", "Cut Nyak Din", dan "Menuju Kemerdekaan" (sebuah buku sejarah tentang kemerdekaan dan pergerakan Nasional Indonesia karangan D.M.G. Koch).

Dalam zaman Jepang nama Abdul Muis tidak banyak terdengar. Tetapi setelah kemerdekaan diproklamasikan, keinginannya untuk melakukan ke­giatan politik bangkit kembali. Dengan beberapa temannya ia membentuk ”Persatuan Perjuangan Priangan”, yang berpusat di Wanaraja, di luar Garut. Kegiatannya dalam badan ini menyebabkan ia mempunyai dua lawan, yakni Belanda dan Dl/TII. Ia menjadi incaran kedua musuhnya dan karena itu ia terpaksa berpindah-pindah tempat ke tempat yang lain. Kepada Karto Suwiryo pimpinan DI/TII ia pernah berpesan supaya menghentikan aksi-aksi terornya. Ia sendiri rnenyatakan dengan tegas akan mempertahankan kemerdekaan yang sudah lama diperjuangkan.

Dalam mencapai usia lanjut kesehatan Abdul Muis mulai menurun. Penyakit jantung dan darah tinggi sering menyerangnya. Karena itu ia menolak tawaran untuk aktif bekerja di pemerintahan. Dalam tahun 1946 ia ditawari menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, tetapi ada saja orang yang iri. Orang itu menulis laporan palsu kepada Presiden Sukarno yang mengatakan bahwa sewaktu diasingkan di Garut, Abdul Muis pernah minta ampun kepada Pemerintah Belanda. Padahal anjuran berbuat demikian ditolaknya mentah-mentah.

Sesudah Pengakuan Kedaulatan, Abdul Muis menghentikan kegiatannya dalam bidang Politik. Ia bekerja menterjemahkan beberapa buku berbahasa asing kebahasa Indonesia. Selama hidupnya ia kawin empat kali. Dari istrinya yang kedua, wanita Priangan, ia memperoleh dua orang anak Isterinya yang keempat bernama Sunarsih, wartawati ”Pres Agenschap Hindie Timur”. Dari isteri terakhir itu ia memperoleh sebelas orang anak. Pada tanggal 17 Juli 1959 ia meninggal di Bandung dalam usia 76 tahun.

Pemerintah RI menghargai jasa-jasanya dan perjuangan Abdul Muis terhadap Bangsa Indonesia. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI. No. 218 Tahun 1959 tertanggal 30 Agustus 1959 Pemerintah R.I. menganugerahkan Abdul Muis gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Sunday, November 15, 2015

Biografi Amir Hamzah

Amir Hamzah portrait edit.jpg 

Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, Hindia Belanda, 28 Februari 1911 dari keluarga bangsawan Melayu Kesultanan Langkat di Sumatera Utara. Saat berguru di SMA di Surakarta sekitar 1930, pemuda Amir terlibat dengan gerakan nasionalis dan jatuh cinta dengan seorang teman sekolahnya, Ilik Soendari. Bahkan setelah Amir melanjutkan studinya di sekolah hukum di Batavia keduanya tetap dekat, hanya berpisah pada tahun 1937 ketika Amir dipanggil kembali ke Sumatera untuk menikahi putri sultan dan mengambil tanggung jawab di lingkungan keraton. Meskipun tidak bahagia dengan pernikahannya, dia memenuhi tugas kekeratonannya. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, ia menjabat sebagai wakil pemerintah di Langkat. Namun  pada tahun pertama negara Indonesia yang baru lahir, ia meninggal dalam peristiwa konflik sosial berdarah di Sumatera yang disulut oleh faksi dari Partai Komunis Indonesia dan dimakamkan di sebuah kuburan massal.
 
Amir mulai menulis puisi saat masih remaja meskipun karya-karyanya tidak bertanggal, yang paling awal diperkirakan telah ditulis ketika ia pertama kali melakukan perjalanan ke Jawa. Menggambarkan pengaruh dari budaya Melayu aslinya, Islam, Kekristenan, dan Sastra Timur, Amir menulis 50 puisi, 18 buah puisi prosa, dan berbagai karya lainnya, termasuk beberapa terjemahan. Pada tahun 1932 ia turut mendirikan majalah sastra Poedjangga Baroe. Setelah kembali ke Sumatera, ia berhenti menulis. Sebagian besar puisi-puisinya diterbitkan dalam dua koleksi, Njanji Soenji (1937) dan Boeah Rindoe (1941), awalnya dalam Poedjangga Baroe, kemudian sebagai buku yang diterbitkan.

Puisi-puisi Amir sarat dengan tema cinta dan agama, dan puisinya sering mencerminkan konflik batin yang mendalam. Diksi pilihannya yang menggunakan kata-kata bahasa Melayu dan bahasa Jawa dan memperluas struktur tradisional, dipengaruhi oleh kebutuhan untuk ritme dan metrum, serta simbolisme yang berhubungan dengan istilah-istilah tertentu. Karya-karya awalnya berhubungan dengan rasa rindu dan cinta, baik erotis dan ideal, sedangkan karya-karyanya selanjutnya mempunyai makna yang lebih religius. Dari dua koleksinya, Nyanyi Sunyi umumnya dianggap lebih maju. Untuk puisi-puisinya, Amir telah disebut sebagai "Raja Penyair Zaman Poedjangga Baroe" dan satu-satunya penyair Indonesia berkelas internasional dari era pra-Revolusi Nasional Indonesia.

Masa kecil

Amir lahir dengan nama Tengkoe Amir, merupakan putra bungsu dari Wakil Sultan Tengkoe Moehammad Adil dan istri ketiganya, Tengkoe Mahdjiwa. Tengkoe Moehammad Adil merupakan Wakil Sultan untuk Luhak Langkat Hulu yang berkedudukan di Binjai. Berdasarkan silsilah keluarga istana Kesultanan Langkat, Amir Hamzah adalah generasi ke-10 dari Sultan Langkat. Melalui ayahnya, ia terkait dengan Sultan Langkat kala itu, Machmoed. Kepastian tanggal lahir Amir diperdebatkan, tanggal resmi yang diakui oleh pemerintah Indonesia adalah 28 Februari 1911, tanggal yang digunakan Amir sepanjang hidupnya. Namun kakaknya, Abdoellah Hod menyatakan bahwa Amir lahir pada tanggal 11 Februari 1911. Amir kemudian mengambil nama kakeknya, Tengkoe Hamzah, sebagai nama keduanya; sehingga ia disebut sebagai Amir Hamzah. Meskipun seorang anak bangsawan, dia sering bergaul dalam lingkungan non-bangsawan. Oleh teman sepermainannya, Amir kecil biasa dipanggil dengan sebutan "Tengku Busu" ("tengku yang bungsu"). Said Hoesny, sahabat Amir pada masa kecilnya menggambarkan bahwa Amir adalah anak manis yang menjadi kesayangan semua orang.

Diketahui bahwa Amir dididik dalam prinsip-prinsip Islam, seperti mengaji, fikih, dan tauhid, dan belajar di Masjid Azizi di Tanjung Pura dari usia muda. Dia tetap seorang Muslim yang taat sepanjang hidupnya. Periode saat ia menyelesaikan studi formal juga diperdebatkan. Beberapa sumber, termasuk pusat bahasa pemerintah Indonesia, menyatakan bahwa ia mulai bersekolah pada tahun 1916, sementara biografer M. Lah Husny menulis bahwa tahun pertama sekolah formal penyair ini adalah pada tahun 1918. Di sekolah dasar berbahasa Belanda di mana Amir pertama kali belajar, ia mulai menulis dan mendapat penilaian-penilaian yang bagus; dalam biografi yang ditulisnya tentang Amir, penulis Nh. Dini menulis bahwa Amir dijuluki "abang" oleh teman-teman sekelasnya karena ia jauh lebih tinggi daripada mereka.

Pada tahun 1924 atau 1925, Amir lulus dari sekolah dasarnya di Langkat dan pindah ke Medan untuk belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, sekolah menengah pertama) di sana. Setelah menyelesaikan studinya sekitar dua tahun kemudian, ia memasuki hubungan formal dengan sepupunya dari pihak ibunya, Aja Bun. Husny menulis bahwa keduanya sengaja dipertemukan dan dijodohkan untuk menikah oleh orang tua mereka, namun Dini menganggap hubungan tersebut sebagai sumpah untuk menjadi selalu setia. Karena orang tuanya mengizinkannya untuk menyelesaikan studinya di Jawa, Amir kemudian pergi ke ibukota kolonial Hindia Belanda di Batavia untuk menyelesaikan studinya.

Belajar di Jawa

Amir pergi ke Pulau Jawa sendirian, dalam perjalanan di laut selama tiga hari di kapal Plancus. Setelah tiba di Batavia, ia masuk di Christelijk MULO Menjangan, di mana ia menyelesaikan tahun SMP terakhirnya. Anthony H. Johns dari Australian National University menulis bahwa di sekolah ini Amir mempelajari beberapa konsep dan nilai-nilai Kekristenan. Di Batavia, Amir juga terlibat dalam organisasi sosial Jong Sumatera. Saat periode ini pemuda Amir menulis puisi pertamanya. Husny menulis bahwa Amir patah hati setelah menemukan Aja Bun telah menikah dengan pria lain tanpa sepengetahuan Amir (mereka berdua tidak pernah berbicara lagi), sementara Dini berpendapat bahwa puisi "Tinggallah " ditulis tidak lama setelah Amir naik kapal Plancus, saat ia sangat rindu dengan ayah bundanya.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah dan kepulangan singkat ke Sumatera, Amir melanjutkan sekolahnya ke Algemene Middelbare School (AMS, sekolah menengah atas) yang dioperasikan Boedi Oetomo di Surakarta, Jawa Tengah, di mana ia mempelajari Sastra Timur dan bahasa, termasuk bahasa Jawa, Sansekerta, dan Arab. Lebih suka menyendiri ketimbang hiruk-pikuknya asrama, Amir lebih memilih menyewa kamar di sebuah rumah pribadi yang dimiliki oleh residen Surakarta. Kemudian ia bertemu dengan beberapa orang yang kelak menjadi penulis, termasuk Armijn Pane dan Achdiat Karta Mihardja; mereka segera menemukan bahwa Amir adalah seorang pelajar yang ramah, rajin, dan dengan catatan lengkap dan kamar tidur bersih (selimut dilipat dengan baik, Mihardja kemudian bercerita, bahwa "... lalat jang kesasar akan dapat tergelintjir atasnja"), tetapi juga seorang romantis; cenderung berpikir sedih di bawah cahaya lampu dan mengisolasi diri dari teman-teman sekelasnya.

Di Surakarta Amir bergabung dengan gerakan nasionalis. Dia akan bertemu dengan sesama perantau dari Sumatera dan mendiskusikan masalah sosial rakyat Melayu Nusantara di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Meskipun pemuda berpendidikan kala itu pada umumnya lebih memilih berbicara menggunakan bahasa Belanda, dia bersikeras bercakap dengan bahasa Melayu. Tahun 1930 Amir menjadi kepala cabang dari Indonesia Moeda di Surakarta, menyampaikan pidatonya dalam Kongres Pemuda 1930 dan mengabdi sebagai editor majalah organisasi itu, "Garoeda Merapi". Di sekolah dia kemudian bertemu dan jatuh cinta dengan Ilik Soendari, seorang gadis Jawa yang hampir seusia dengannya. Soendari, putri Raden Mas Koesoemodihardjo, adalah salah satu dari sedikit siswa perempuan di sekolah tersebut, dan rumahnya berada di dekat salah satu yang pernah ditinggali Amir. Menurut Dini, keduanya semakin dekat, Amir mengajari Soendari bahasa Arab, dan Soendari mengajarinya bahasa Jawa. Mereka segera bertemu setiap hari, bercakap-cakap tentang berbagai topik.


~ Ilik Soendari ~

Ibunda Amir meninggal pada tahun 1931, dan ayahnya setahun setelahnya; pendidikan Amir pun tidak bisa dibiayai lagi. Setelah studi AMS-nya rampung, ia ingin terus belajar di sekolah hukum di Batavia. Karena itu, ia menulis kepada saudaranya, Jakfar yang mengatur agar biaya sisa studinya dibayar oleh Sultan Langkat. Pada tahun 1932 Amir mampu kembali ke Batavia dan memulai studi hukumnya, mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai guru. Pada awalnya, hubungannya dengan Soendari dilanjutkan melalui surat, meskipun Soendari segera melanjutkan studinya di Lembang, sebuah kota yang jauh lebih dekat jaraknya ke Batavia daripada Surakarta, hal ini memungkinkan keduanya untuk bertemu diam-diam – ketika orangtua Soendari mengetahui hubungan mereka, Amir dan Soendari pun dilarang untuk bertemu.


Tahun tersebut, dua puisi pertama Amir, "Soenji" dan "Maboek ..." , diterbitkan dalam edisi Maret majalah Timboel. Delapan karyanya yang lain dipublikasikan tahun itu, termasuk sebuah syair berdasarkan Hikayat Hang Tuah, tiga puisi lainnya, dua potong puisi prosa, dan dua cerita pendek; puisi itu kembali diterbitkan dalam Timboel, sementara prosa tersebut terbit dalam majalah Pandji Poestaka. Sekitar September 1932 Armijn Pane, atas dorongan dari Sutan Takdir Alisjahbana, editor rubrik "Memadjoekan Sastera" (rubrik sastra Pandji Poestaka), mengundang Amir untuk membantu mereka mendirikan majalah sastra independen. Amir menerima, dan ditugasi menulis surat untuk meminta kiriman tulisan. Sejumlah lima puluh surat dikirimkan Amir kepada penulis-penulis yang sudah dikenal kala itu, termasuk empat puluh dikirimkan ke para kontributor "Memadjoekan Sastera". Setelah beberapa bulan persiapan, edisi awal diterbitkan pada bulan Juli tahun 1933, dengan judul Poedjangga Baroe. Majalah baru ini ada di bawah kendali editorial Armijn dan Alisjahbana, sementara Amir menerbitkan hampir semua tulisan-tulisannya yang berikutnya di sana.

Pada pertengahan 1933 Amir dipanggil kembali ke Langkat, di mana Sultan Langkat memberitahukan dua syarat yang harus Amir penuhi untuk melanjutkan studinya, yaitu menjadi siswa yang rajin, dan meninggalkan gerakan kemerdekaan Indonesia. Meskipun menghadapi penolakan Sultan Langkat, Amir menjadi terlibat lebih jauh dalam gerakan nasionalis, membawa dia ke bawah pengawasan Belanda yang semakin meningkat. Ia terus melanjutkan untuk menerbitkan karyanya dalam Poedjangga Baroe, termasuk serangkaian lima artikel tentang Sastra Timur dari bulan Juni sampai Desember 1934 dan terjemahan dari Bhagawad Gita dari 1933 sampai 1935. Namun studi hukumnya menjadi tertunda, bahkan belum merampungkan studinya pada tahun 1937.

Kembali ke Langkat

Belanda, khawatir tentang kecenderungan nasionalistik Amir, meyakinkan Sultan Langkat untuk menarik dia kembali ke Langkat; sebuah perintah yang tidak dapat ditolak oleh Amir. Tahun 1937, Amir bersama dengan dua pengikut Sultan Langkat yang bertugas mengawal dia, naik di kapal Opten Noort dari Tanjung Priok dan kembali ke Sumatera. Setelah tiba di Langkat, ia diberitahu bahwa ia akan menikah dengan putri tertua Sultan Langkat, Tengkoe Poeteri Kamiliah, seorang wanita yang hampir tak pernah ia temui sebelumnya. Sebelum pernikahannya, Amir kembali ke Batavia untuk menghadapi ujian kuliah terakhirnya – dan mengatur sebuah pertemuan terakhir dengan Soendari. Beberapa minggu kemudian ia kembali ke Langkat, di mana ia dan Kamiliah menikah dalam sebuah upacara mewah. Sepupunya, Tengkoe Boerhan, kemudian menyatakan bahwa ketidakpedulian Amir sepanjang upacara adat tujuh hari tersebut adalah karena Amir terus memikirkan Soendari.

Sekarang seorang pangeran di Langkat Hilir, Amir diberi gelar Tengkoe Pangeran Indra Poetera. Dia tinggal bersama Kamiliah di rumah mereka sendiri. Dalam semua kesaksian, Kamiliah adalah seorang istri yang taat dan penuh kasih, dan pada tahun 1939 pasangan ini memiliki anak tunggal mereka, seorang putri bernama Tengkoe Tahoera. 

Menurut Dini, Amir mengaku pada Kamiliah bahwa dia tidak pernah bisa mencintainya karena ia telah memiliki Soendari, dan bahwa ia merasa berkewajiban untuk menikahinya, pengakuan yang kabarnya diterima oleh Kamiliah. Amir menyimpan sebuah album dengan foto-foto Soendari, kekasih Jawanya di rumahnya dan sering mengisolasi dirinya dari keluarganya, tenggelam dalam pikirannya. Sebagai seorang pangeran Langkat, Amir menjadi seorang pejabat keraton, menangani masalah administrasi dan hukum, dan kadang-kadang juga menghakimi kasus pidana. Ia sempat mewakili Kesultanan Langkat di pemakaman Pakubuwono X di Jawa pada tahun 1939 – sebuah perjalanan terakhir Amir ke pulau Jawa.

Meskipun Amir hanya melakukan sedikit korespondensi dengan teman-temannya di Jawa, puisi-puisinya yang sebagian besar ditulis di Jawa terus diterbitkan dalam Poedjangga Baroe. Koleksi puisi pertamanya, Njanji Soenji, diterbitkan dalam edisi November 1937. Hampir dua tahun kemudian, pada Juni 1939, majalah tersebut menerbitkan kumpulan puisi yang telah diterjemahkan Amir, berjudul Setanggi Timoer ("Dupa dari Timur"). Pada Juni 1941, koleksi terakhirnya, Boeah Rindoe, diterbitkan. Semuanya kemudian diterbitkan sebagai buku. Sebuah buku terakhir, Sastera Melajoe Lama dan Radja-Radjanja, diterbitkan di Medan pada tahun 1942, terbitan ini didasarkan pada pidato radio yang disampaikan Amir.


Setelah invasi Jerman ke Belanda pada tahun 1940, pemerintah Hindia Belanda mulai mempersiapkan diri untuk kemungkinan invasi Jepang. Di Langkat, divisi Stadswacht (Angkatan Garda) dibentuk untuk membela Tanjung Pura di Langkat. Amir dan sepupunya Tengkoe Haroen bertanggung jawab atas angkatan garda ini; kaum bangsawan, dipercaya oleh masyarakat umum, dipilih untuk memastikan perekrutan rakyat jelata yang lebih mudah. Ketika invasi Jepang menjadi kenyataan pada awal tahun 1942, Amir adalah salah satu tentara yang dikirim ke Medan untuk mempertahankannya. Dia dan pasukan lainnya yang bersekutu dengan Belanda dengan cepat ditangkap oleh Tentara Jepang. Dia ditahan sebagai tawanan perang sampai tahun 1943, ketika pengaruh dari Sultan memungkinkan dia untuk dibebaskan. Sepanjang sisa masa pendudukan yang berlangsung sampai 1945 tersebut, Amir bekerja sebagai komentator radio dan sensor di Medan. Dalam posisinya sebagai pangeran, ia ditugasi untuk membantu mengumpulkan beras dari petani untuk memberi makan tentara pendudukan Jepang.

Pasca-kemerdekaan dan kematian

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, keseluruhan Pulau Sumatera dinyatakan sebagai bagian de facto dari negara Republik Indonesia yang baru lahir. Pemerintah pusat menetapkan Teuku Muhammad Hasan sebagai gubernur pertama pulau Sumatera, dan pada 29 Oktober 1945 Hasan memilih Amir sebagai wakil pemerintah Republik Indonesia di Langkat (di kemudian hari disamakan dengan bupati), dengan kantornya di Binjai; Amir menerima posisi tersebut dengan siap sedia, kemudian menangani berbagai tugas yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, termasuk meresmikan divisi lokal pertama dari Tentara Keamanan Rakjat (yang kelak menjadi Tentara Nasional Indonesia), membuka pertemuan berbagai cabang lokal dari partai politik nasional, dan mempromosikan pendidikan – terutama keaksaraan alfabet Latin.

Revolusi Nasional Indonesia sedang berkobar dengan berbagai pertempuran di Jawa, dan Republik Indonesia yang baru didirikan tidak stabil. Pada awal 1946, rumor menyebar di Langkat bahwa Amir telah terlihat bersantap dengan perwakilan pemerintah Belanda yang kembali ke Sumatera, dan bangsawan daerah menyadari tumbuhnya benih-benih kerusuhan dalam populasi jelata Langkat. Pada tanggal 7 Maret 1946 selama revolusi sosial yang dipimpin oleh faksi-faksi dari Partai Komunis Indonesia, sebuah kelompok Pemuda Sosialis Indonesia dengan kukuh menentang feodalisme dan kaum bangsawan, kekuasaan Amir dilucuti darinya dan ia ditangkap; sementara Kamiliah dan Tahoera lolos. Bersama dengan anggota-anggota keluarga keraton Langkat yang lain, Amir dikirim ke sebuah perkebunan yang dikuasai faksi Komunis di Kwala Begumit, sekitar 10 kilometer di luar Binjai. 

Potongan tulisan Amir terakhir, sebuah fragmen dari puisi 1941-nya Boeah Rindoe, kemudian ditemukan di selnya:
Wahai maut, datanglah engkau
Lepaskan aku dari nestapa
Padamu lagi tempatku berpaut
Disaat ini gelap gulita

Pada pagi hari 20 Maret 1946, Amir tewas dengan 26 orang tahanan lainnya dan dimakamkan di sebuah kuburan massal yang telah digali para tahanan tersebut; beberapa saudara Amir juga tewas dalam revolusi tersebut. Setelah dilumpuhkan oleh pasukan nasionalis, pemimpin revolusi tersebut diinterogasi oleh tim yang dipimpin oleh Adnan Kapau Gani; Adnan dilaporkan telah berulang kali menanyakan "Dimana Amir Hamzah?" selama penyelidikan seputar peristiwa tersebut. Pada tahun 1948 sebuah makam di Kwala Begumit digali dan jenazah yang ditemukan diidentifikasi oleh anggota keluarga; tulang belulang Amir berhasil diidentifikasi karena gigi palsu yang hilang. Pada November 1949 jenazahnya dikuburkan di Masjid Azizi di Tanjung Pura, Langkat. Atas jasa-jasanya, Amir Hamzah diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975, tanggal 3 November 1975.

Thursday, October 22, 2015

Biografi Soekarni

Image result for sukarni

Soekarni Kartodiwirjo lahir di Blitar, Jawa Timur, 14 Juli 1916 – meninggal di Jakarta, 7 Mei 1971 pada umur 54 tahun) adalah tokoh pejuang kemerdekaan dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Sukarni lahir hari Kamis Wage di desa Sumberdiran, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Namanya jika dijabarkan berarti "Su" artinya lebih sedangkan "Karni" artinya banyak memperhatikan dengan tujuan oleh orangtuanya agar Sukarni lebih memperhatikan nasib bangsanya yang kala itu masih dijajah Belanda. Sukarni merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara.


Ayahnya adalah Kartodiwirjo, keturunan dari Eyang Onggo, juru masak Pangeran Diponegoro. Ibunya bernama Supiah, gadis asal Kediri. Keluarga Sukarni bisa dikatakan berkecukupan jika dibanding penduduk yang lain. Ayahnya membuka toko daging di pasar Garum.

Sukarni masuk sekolah di Mardisiswo di Blitar. Di sekolah ini Sukarni belajar mengenai nasionalisme melalui Moh. Anwar yang berasal dari Banyumas, pendiri Mardidiswo sekaligus tokoh pergerakan Indonesia.
Sebagai anak muda, Sukarni terkenal kenakalannya karena sering berbuat onar. Dia sering berkelahi dan hobi menantang orang Belanda. Dia pernah mengumpulkan 30-50 orang teman-temannya dan mengirim surat tantangan ke anak muda Belanda untuk berkelahi. Lokasinya di kebun raya Blitar, dekat sebuah kolam. Anak-anak Belanda menerima tantangan itu dan terjadilah tawuran. Kelompok Sukarni memenangkan perkelahian itu dan anak Belanda yang kalah dicemplungkan ke kolam.

Menjadi Aktivis Pergerakan

Perkenalan Sukarni dengan dunia pergerakan nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dimulai ketika usia masih remaja, 14 tahun, saat dia masuk menjadi anggota perhimpunan Indonesia Muda tahun 1930. Semenjak itu dia berkembang menjadi pemuda militan dan revolusioner. Selain itu ia juga sempat mendirikan organisasi Persatuan Pemuda Kita.

Ketika di MULO, Sukarni dikeluarkan dari sekolah karena mencari masalah dengan pemerintah kolonial Belanda. Bukannya surut, semangat belajarnya malah semakin membara. Dia bersekolah ke Yogyakarta kemudian ke Jakarta pada sekolah kejuruan guru. Atas bantuan Ibu Wardoyo (kakak Bung Karno), Sukarni disekolahkan di Bandung jurusan jurnalistik.

Pada masa-masa di Bandung inilah, konon Sukarni pernah mengikuti kursus pengkaderan politik pimpinan Soekarno. Disinilah dia bertemu dan mengikat sahabat dengan Wikana, Asmara Hadi dan SK Trimurti.

Tahun 1934 Sukarni berhasil menjadi Ketua Pengurus Besar Indonesia Muda, sementara itu Belanda mulai mencurigainya sebagai anak muda militan. Tahun 1936 pemerintah kolonial melakukan penggerebekan terhadap para pengurus Indonesia Muda, tapi Sukarni sendiri berhasil kabur dan hidup dalam pelarian selama beberapa tahun.

Masa Pendudukan Jepang

Tidak lama sebelum Jepang masuk, Sukarni tertangkap di Balikpapan dan kemudian dibawa ke Samarinda. Namun, setelah Jepang masuk, Sukarni berserta beberapa tokoh pergerakan lain seperti Adam Malik dan Wikana malah dibebaskan oleh Jepang. Awal-awal pendudukan Jepang, Sukarni sempat bekerja di kantor berita Antara yang didirikan oleh Adam Malik (yang kemudian berubah jadi Domei). Pada masa Jepang ini, Sukarni juga bertemu dengan Tan Malaka. Tan Malaka-lah yang menjadi otak pembentukan partai Murba dan dia jugalah yang menyarankan kepada anggota Murba lainnya agar Sukarni yang menjadi Ketua Umum.

Tahun 1943, bersama Chairul Saleh, dia memimpin Asrama Pemuda di Menteng 31. Di tempat itu Sukarni makin giat menggembleng para pemuda untuk berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Seperti diketahui, pada kurun selanjutnya, Menteng 31 dikenal sebagai salah satu pusat penting yang melahirkan tokoh Angkatan 45.

Peristiwa Rengasdengklok

Mendengar berita kekalahan Jepang, kelompok pemuda dengan kelompok bawah tanah dibawah pimpinan Sutan Syahrir, bersepakat bahwa inilah saat yang tepat untuk memproklamirkan kemerdekaan. Sukarni, Wikana dan kelompok pemuda lainnya mendesak Soekarno dan Hatta, tapi mereka berdua menolak. Akhirnya terjadilah perdebatan sengit yang berakhir dengan penculikan kedua tokoh tersebut, dengan tujuan menjauhkan Soekarno-Hatta dari "pengaruh" Jepang. Kedua pemimpin itu "diasingkan" ke Rengasdengklok oleh kelompok pemuda yang dipimpin olehnya

Seputar Proklamasi

Akhirnya semua pihak kemudian bersepakat bahwa proklamasi kemerdekaan akan segera dilakukan pada 17 Agustus 1945. Selanjutnya, Sukarni mengemban amanat kemerdekaan serta bahu membahu bersama kelompok pemuda lainnya dalam meneruskan berita tentang kemerdekaan ini. Sukarni membentuk Comite Van Aksi (semacam panitia gerak cepat) pada 18 Agustus 1945 yang tugasnya menyebarkan kabar kemerdekaan ke seluruh Indonesia. Khusus untuk para pemudanya dibentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan untuk buruh dibentuk BBI (Barisan Buruh Indonesia) yang kemudian melahirkan laskar buruh dan laskar buruh wanita.

Pada masa RI berkedudukan di Yogyakarta, Sukarni menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Perjuangan (PP) di bawah ketua Tan Malaka. PP beroposisi dengan pemerintah dan menolak perundingan pemerintah terhadap Belanda. Aksi PP ini membuat Sukarni dijebloskan ke penjara pada tahun 1946. Selanjutnya Sukarni juga mengalami penahanan di Solo, Madiun dan Ponorogo (daerah komunis Muso) pada masa pemerintahan Amir Syarifudin (1947/1948)

Menjadi Ketua Partai Murba

Semenjak partai Murba terbentuk pada bulan November 1948 sampai wafatnya, Sukarni menjabat sebagai ketua umum. Dia juga duduk sebagai anggota Badan pekerja KNI Pusat. Dalam pemilihan Umum yang pertama (1955) Sukarni terpilih sebagai anggota Konstituante.

Sejak tahun 1961 Sukarni ditunjuk sebagai Duta Besar Indonesia di Peking, ibukota RRC (Republik Rakyat China) dan kembali ke tanah air pada bulan Maret 1964. Konon dalam pertemuan di Istana Bogor Desember 1964, Sukarni sempat memperingatkan Bung Karno atas sepak terjang PKI. Tapi berlawanan dengan harapan, partai Murba malah dibekukan tahun 1965 dan Sukarni beserta pemimpin Murba lainnya di penjara.

Pada masa Orde Baru, Sukarni dibebaskan dan larangan Murba dicabut (direhabilitasikan 17 Oktober 1966). Kemudian Sukarni ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA, 1967) yang merupakan jabatan resmi terakhir. Tokoh yang mendapat Bintang Mahaputra kelas empat ini wafat pada tanggal 7 Mei 1971 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan.


Menjadi Pahlawan Nasional

Gelar Pahlawan Nasional Indonesia disematkan oleh Presiden Joko Widodo pada 7 November 2014 kepada perwakilan keluarga di Istana Negara Jakarta.

Sunday, October 11, 2015

Ternyata Ada 3 Proklamasi di Indonesia

Pagi itu di jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, sudah dipenuhi dengan orang-orang yang berharap peristiwa besar akan terjadi. Jumat, 17 Agustus 1945, halaman rumah di jalan Pegangsaan Timur no. 56 menjadi tempat berkumpulnya para pemuda. Sebuah tiang menjadi tatapan dan mereka berharap mimpinya akan berkibar di ujung tiang itu.

Seseorang memasuki halaman, lalu menuju ke dalam rumah. Sejenak ia mendapatkan keheningan, waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Lalu ia memasuki sebuah kamar dan mendapatinya sedang tertidur pulas. Pelan-pelan ia mengusap kaki seseorang yang terlihat lelah. Lelaki itu baru pulang pagi tadi dari Rengasdengklok.

Lelaki itu terbangun dan memandangnya. Senyumnya begitu lemah, terucap kata, "pating greges". Tamu yang disapanya memberikan obat, setelah memeriksa ada panas di tubuh lelaki yang dibangunkannya.

Dialah seorang dokter bernama dr. R. Soeharto, dan lelaki yang mengatakan dirinya tak enak badan itu adalah Soekarno. Lalu atas persetujuan Soekarno, sang dokter memberinya sebuah suntikan chinine-urethan intramusculair. Lalu Soekarno melanjutkan tidurnya sejenak.

Pukul 09.30 pagi, Soekarno terbangun, tubuhnya terlihat lebih sehat. Ketika berjumpa dengan sang dokter, ia meminta agar Hatta segera dipanggil untuk datang.

Dengan berpakaian rapi, mengenakan pakaian serba putih (celana lena putih dan kemeja putih) dengan potongan yang saat itu popular disebut sebagai "kemeja pimpinan" dengan bersaku empat, Soekarno menyambut Hatta dan segera menuju halaman depan rumahnya. Sebuah teks Proklamasi dibacakan.

Inilah sebuah pernyataan kemerdekaan yang sebelumnya di dalam pidatonya Soekarno ada mengatakan "...sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan tanah air di tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib di tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya..."

Puncak perjuangan yang pada akhirnya harus keluar dari mulut Soekarno, sebuah bukti sejarah bahwa ia memang layak mengambil posisi untuk menyatakan itu. Karena sebelum Proklamasi ini terjadi, sebelumnya juga sudah dibacakan dua proklamasi yaitu Proklamasi Gorontalo 23 Januari 1942 dan Proklamasi Cirebon 15 Agustus 1945. Namun kedua Proklamasi ini tidak diakui sebagai buah pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam arti sebagai hari peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Proklamasi Gorontalo 23 Januari 1942
Kekalahan oleh Jepang pada Perang di Laut Jawa, membuat Belanda menjadi gelap mata. Gorontalo dibumihanguskan yang dimulai pada tanggal 28 Desember 1941. Adalah seorang pemuda bernama Nani Wartabone (saat itu berumur 35 tahun) memimpin perjuangan rakyat Gorontalo dengan menangkapi para pejabat Belanda yang masih ada di Gorontalo.

Bergerak dari kampung-kampung di pinggiran kota Gorontalo seperti Suwawa, Kabila dan Tamalate, mereka bergerak mengepung kota Gorontalo. Hingga akhirnya Komandan Detasemen Veld Politie WC Romer dan beberapa kepala jawatan yang ada di Gorontalo menyerah takluk pada pukul 5 subuh.

Dengan sebuah keyakinan yang tinggi, pada pukul 10 pagi Nani Wartabone memimpin langsung upacara pengibaran bendera Merah Putih di halaman Kantor Pos Gorontalo. Dan dihadapan massa yang berkumpul, ia berkata :

"Pada hari ini, tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dan penjajahan bangsa mana pun juga. Bendera kita yaitu Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintahan Belanda sudah diambil oleh Pemerintah Nasional. Agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban."

Selanjutnya Nani Wartabone mengumpulkan rakyat dalam sebuah rapat akbar (layaknya peristiwa lapangan Ikada) di Tanah Lapang Besar Gorontalo untuk menegaskan kembali kemerdekaan yang sudah diproklamasikan.

Namun sayangnya ketika Jepang mendarat di Gorontalo, 26 Februari 1942, Jepang melarang pengibaran bendera Merah Putih dan memaksa rakyat Gorontalo untuk takluk tanpa syarat kepada Jepang.

Kisah Nani Wartabone terlalu panjang untuk diungkapan, walau ia di masa Jepang mengalami patah semangat ketika Jepang tak mau diajak berkompromi hingga akhirnya ia kembali ke kampung halamannya di Suwawa dan hidup sebagai petani.

Saat kekalahan Jepang oleh Sekutu, Jepang bersikap lain. Sang Saka Merah Putih diijinkan berkibar di Gorontalo dan Jepang menyerahkan pemerintahan Gorontalo kepada Nani Wartabone pada tanggal 16 Agustus 1945. Sementara rakyat Gorontalo baru mengetahui telah terjadi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 28 Agustus 1945.

Nani Wartabone memimpin Gorontalo untuk masa-masa kelam berikutnya, menghadapi pasukan Belanda yang membonceng Sekutu. Dalam sebuah perundingan di sebuah kapal perang sekutu pada tanggal 30 November 1945, Belanda menangkap dan menawannya. Ia dibawa ke Manado dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas tuduhan makar pada tanggal 23 Januari 1942 yaitu Proklamasi yang dibacakannya.

Namun di waktu yang berjalan, kekalahan sekutu mengubah nasibnya kelak. Ia kembali ke Gorontalo pada tanggal 2 Februari 1950. Nani Wartabone pada tanggal 6 April 1950 menolak RIS dan memilih bergabung dengan NKRI. Untuk beberapa waktu ia dipercaya sebagai kepala pemerintahan di Gorontalo, hingga Penjabat Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan anggota DPRD Sulawesi Utara. Selanjutnya ia memilih untuk kembali tinggal dan bertani di desanya di Suwawa.

Tapi itu juga tak berlangsung lama. Letkol Ventje Sumual dan kawan-kawannya memproklamasikan pemerintahan PRRI/PERMESTA di Manado pada bulan Maret 1957. Ia terpanggil kembali untuk melawan. Namun perlawanan tak seimbang, karena pasukan Nani Wartabone kekurangan persenjataan, hingga mereka memilih untuk bergerilya di dalam hutan, sekedar menghindar dari sergapan tentara PRRI/PERMESTA.

Pada bulan Ramadhan 1958 datanglah bantuan pasukan tentara dari Batalyon 512 Brawijaya yang dipimpin oleh Kapten Acub Zaenal dan pasukan dari Detasemen 1 Batalyon 715 Hasanuddin yang dipimpin oleh Kapten Piola Isa. Bersama pasukan-pasukan dari pusat inilah mereka berhasil merebut kembali pemerintahan di Gorontalo dari tangan PRRI/PERMESTA pada pertengahan Juni 1958.

Perjalanan panjang ini melahirkan sebuah penghargaan yang mungkin dapat dikenang akan kesederhanaan sang petani, kesahajaan dan jiwa patriotiknya. Baru pada jaman Presiden Megawatilah, pada tanggal 7 November 2003, diserahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Nani Wartabone melalui ahli warisnya yang diwakili oleh salah seorang anak laki-lakinya, Hi Fauzi Wartabone (dikarenakan beliau telah tutup usia pada tanggal 3 Januari 1986) di Istana Negara,. Wartabone ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2003 tertanggal 6 November 2003.

Proklamasi Cirebon 15 Agustus 1945

Kekalahan Jepang tinggal menghitung hari saja, setelah dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Namun karena Jakarta tidak termasuk jalur perang Jepang dengan Sekutu, maka yang terlihat kekuatan bala tentara Jepang masih utuh.

Suasana Jakarta tetap mencekam bagi para kelompok pergerakan. Ada 4 kelompok illegal menurut Maroeto Nitimihardjo yang tampak saat itu, yaitu kelompok Soekarni, Kelompok Sjahrir, Kelompok Mahasiswa dan Kelompok Kaigun.

Kelompok-kelompok itu mendengar Sjahrir meminta Soekarno dan Hatta untuk mempercepat pernyataan Proklamasi sekembalinya Soekarno dan Hatta dari perundingan di Dalat, Saigon dengan Marsekal Terauchi, wakil kaisar Jepang. Namun Soekarno masih menunggu kepastian dari Laksmana Maeda tentang hal kekalahan Jepang tersebut

Hal ini membuat kelompok-kelompok illegal itu marah dikarenakan mereka melihat keraguan Sjahrir selama ini untuk menjalankan kesepakatan bahwa Sjahrir-lah yang harus siap memimpin kemerdekaan dikarenakan ia bersih dari pengaruh Jepang. Hingga membuat kelompok-kelompok illegal ini, tidak termasuk Sjahrir bergerak cepat.

Terjadi beberapa pertemuan antara lain di Jalan Cikini Raya 71, di Lembaga Ecykman dan di Laboratorium Mikrobiologi (di samping pasar Cikini). Wikana dan dr. Darwis ditugaskan untuk mendesak langsung Soekarno-Hatta (tanpa perantara Sjahrir) untuk memproklamirkan kemerdekaan yang berujung dengan "penculikan" atau membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Gerak cepat yang tak ragu-ragu ini akhirnya melahirkan sebuah peristiwa di pagi hari di tanggal 17 Agutus 1945 sebagai hari kemerdekaan.

Di waktu yang berjalan cepat dalam ketidak pastian peristiwa, seorang bernama dr. Soedarsono (ayah dari Juwono Soedarsono) datang bertemu Maroeto Nitimihardjo (seperti pengakuannnya di buku berjudul "Ayahku Maroeto Nitimihardjo Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan" karangan Hadidjojo, anak Maroeto) di sebuah ‘pengungsian' bagi istri dan anaknya yaitu di desa Perapatan, sebelah barat Palimanan, 30 km jauhnya dari Cirebon tempat dr. Soedarsono berasal. Dr. Soedarsono meminta teks Proklamasi yang dibuat Sjahrir yang katanya dititipkan pada Maroeto. Namun Maroeto menyatakan tidak ada.

Hingga dr. Soedarsono menjadi berang dan berkata, "Saya sudah bersepeda 60 kilometer hanya untuk mendengar, Sjahrir tidak berbuat apa-apa. Katakan kepada Sjahrir, saya akan membuat proklamasi di Cirebon."

Dan akhirnya terkabarlah bahwa Proklamasi itu dibuat dan dibacakan oleh dr. Soedarsono pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945 di alun-alun Cirebon yang dihadiri sekitar 150 orang. Sehari sebelum Soekarno membacakan Proklamasi di penggangsaan Timur 56 Jakarta.

Namun kisah yang dipaparkan Maroeto berbeda dengan kisah yang diungkap oleh Des Alwi, anak angkat Sjahrir. Menurutnya, teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono adalah hasil karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya yang melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dilakukan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus 1945. Asrama Prapatan kala itu sering dijadikan tempat nongkrong para anggota gerakan bawah tanah.

Ada sebaris teks proklamasi yang diingat oleh Des Alwi yaitu : "Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga".

Hal ini dikuatkan dalam sebuah buku berjudul Sjahrir yang dikarang oleh Rudolf Mrazek yang mengatakan bahwa teks proklamasi yang dibacakan oleh dr. Soedarsono diketik sepanjang 300 kata. Namun Sjahrir mengatakan kehilangan teks proklamasi yang disimpannya.

Waktu yang akan membeberkannya, karena dokumentasi Proklamasi Cirebon 15 Agustus 1945 juga tak ada. Maroeto juga ada menceritakan, di suatu kesempatan dr. Soedarsono selalu ketawa bila tentang kisah Proklamasi di Cirebon itu ditanyakan, apalagi bila ditanyakan bunyi proklamasinya. Bahkan dr. Soedarsono menceritakan bahwa Mr. Jusuf, seorang anggota PKI lama yang beristrikan seorang wanita Belanda juga membuat proklamasi di Indramayu, suatu kabupaten dekat Cirebon. Namun dr.Soedarsono tidak menjelaskan kapan Mr. Jusuf membacakan proklamasinya. Bila hal ini benar, maka Maroeto mengatakan bahwa di bulan Agustus 1945 ada 3 Proklamasi yang dibacakan.

Kemerdekaan bukan untuk peragu

Saat itu ada 3 tokoh pula yang dikenal mampu menyatakan kemerdekaan bangsa ini. Selain Soekarno-Hatta, ada Tan Malaka dan Sjahrir yang dapat memimpin kemerdekaan negeri ini. Namun Tan Malaka saat itu entah ada di mana, karena tidak ada kontak, tidak tahu harus menghubungi siapa, karena sebenarnya Tan Malaka pun siap melakukan apa saja demi Kemerdekaan. Tan Malaka harus sembunyi dari intaian inteljen Jepang (Kempetai) dan Polisi rahasia Hindia Belanda.

Sama halnya dengan Sjahrir yang sebenarnya sudah jauh hari disepakati akan memimpin kemerdekaan oleh kelompok-kelompok pemuda radikal, tiba-tiba ia terlihat gamang. Ia menolak memimpin kemerdekaan, hingga harus berdebat dan memaksa Soekarno yang menyatakan. Namun sayang malam itu, tanggal 16 Agustus 1945, di rumah Maroeto bersama pimpinan kelompok pemuda lainnya sepertti Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Kusnaeni, Chaerul Saleh ternyata Sjahrir memilih pulang duluan. Padahal mereka menunggu hasil laporan Soekarni dan Soebardjo dari Rengasdengklok. Sjahrir pulang lebih dahulu, karena dia menganggap sudah terlalu malam dan tak mungkin upaya "penculikan" hingga ke Rengasdengklok akan berhasil membujuk Soekarno-Hatta.

Namun seperti kata Maroeto (dari buku "Ayahku Maroeto Nitimihardjo Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan" halaman 97) ternyata sejarah menyatakan lain. Proklamasi memang sudah "milik" Soekarno-Hatta. Karena esoknya, pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan Proklamasi. Sementara saat itu Sjahrir baru bangun dari tidur di rumahnya, di jalan Maluku, Menteng, Jakarta.

Kemerdekaan ternyata bukan milik kaum peragu. Begitu beraninya Nani Wartabone, Dr.Soedarsono, Mr. Jusuf dan Soekarno-Hatta dalam mengambil sikap demi kemerdekaan yang dicita-citakan bersama. Seharusnya begitu pulalah sikap anak-anak bangsa ini dalam mempertahankan kemerdekaan dan mengisinya. Bukan sekedar hanya memimpikan perubahan dan hanya menunggu. Mari bangkit segera, jangan ragu kawan!

Sumber bacaan :
Ayahku Maroeto Nitimihardjo, Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan (Hadidjojo, 2009)
Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer (Roso Daras, 2009)

Sumber : http://edisantana.blogspot.co.id/2010/09/ternyata-ada-3-proklamasi-di-indonesia.html

Thursday, September 24, 2015

Biografi Kapten Muslihat





 

Tubagus Muslihat merupakan putra dari Tubagus Djahanuddin yang memiliki 2 putra. Beliau dilahirkan pada Senin, 26 Oktober 1926 di Pandeglang. Pada saat itu Para Komunis sedang ramainya memberontak kepada pemerintah Belanda.

Tubagus Muslihat sekolah di HIS (Hollandsch-Inlandsche School - setara Sekolah Dasar) Rangkasbitung hanya sampai kelas 3, lalu pindah ke Jakarta dan melanjutkannya lagi di HIS hingga tamat pada tahun 1940. Seterusnya lanjut ke Taman Siswa bagian MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setara Sekolah Menengah Pertama hingga kelas 2.

Keluarnya Muslihat dari sekolah disebabkan keadaan zaman, lalu kerja di Bosbow Proefstation (Balai Penelitian Kehutanan) di Gunung Batu, Bogor. Baru beberapa bulan bekerja, ada peristiwa Perang Pasifik.

Tentara dan Pemerintah Hindia-Belanda menyerahkan diri, saat itu Kota Bogor diduduki oleh Tentara Dai Nippon (Jepang). Muslihat berhenti bekerja pada tahun 1942, ketika Jepang sudah ada di Kota Bogor. Tahun 1943, Muslihat bekerja sebagai Perawat di RS Kedung Halang, namun tak lama pindah kembali ke Kehutanan.

Saat ada berita dibutuhkannya tentara Pembela Tanah Air, Muslihat mendaftar menjadi Tentara PETA. Setelah lulus dari beberapa kali test uji coba, beliau di terima menjadi Shodanco di Bogor bersamaan dengan Tarmat, Ishak Djuarasa, Abu Umar dan Bustomi.

Pada 14 Agustus 1945, Tentara Dai Nippon menyerahkan diri kepada Sekutu, saat kota Hiroshima dan Nagasaki di bom oleh Sekutu. Walaupun berita tersebut hanya sampai di Kota Bogor namun saat itu menjadi tersiar, terutama kepada bangsa Jepang dan tentaranya.

Jika sebelumnya Tentara Dai Nippon nampak sombong dan besar kepala, pada saat itu terlihat seperti ketakutan dan kebingungan. Semua anggota PETA yang ada dikeluarkan semua dari asrama oleh Jepang setelah melucuti senjata dan perlengkapannya.

Namun Muslihat dan beberapa temannya berhasil keluar dari asrama denga membawa pistol dan pedang. Dan dengan rencananya aktif berjuang di BKR (Badan Keamanan Rakyat) sambil bekerjasama dengan organisasi pemuda lainnya seperti API, AMRI, KRIS dan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia). Muslihat bertugas menjaga kemanan di dalam kota sambil melucuti perlengkapan senjata dari tangan Jepang. Lalu merebut kantor dan perusahaan yang dimiliki Jepang dan di klaim menjadi milik Republik Indonesia. Karena sikap tegasnya, semua perintah dan sikapnya dipatuhi oleh semua anak buahnya.

Pemerintah RI, secara De Jure dan De Facto akhirnya resmi didirikan di Kota Bogor, BKR dibubarkan dan dijadikan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) oleh Jenderal Urip Sumohardjo, sedangkan Tubagus Muslihat diangkat menjadi Letnan Satu dan menjadi Komandan Kompi IV Batalyon II TKR.

Pada Oktober 1945, keadaan Kota Bogor sangat genting, Tentara Inggris (Gurkha) masuk ke dalam kota bersamaan NICA. Yang pertama kali didatangi yaitu Asrama Batalyon XIV bekas Jepang yang memang dikosongkan.

Merasa sudah kuat, lama kelamaan secara perlahan mulai memperluas kekuasaannya. Salah satunya, Kota Paris, tempat Nyonya – Nyonya dan anak - anak Belanda (Recovery Allied Prisoners of War and Internees - RAPWI) dikumpulkan, lalu direbut dan dijadikan wilayahnya.

Keadaan di dalam Kota Bogor semakin kacau, Inggris nampak lebih sombong ketimbang Belanda. Akhirnya mereka berniat menduduki Istana yang sedang dijaga oleh Para Pemuda Indonesia. Perundingan antara Inggris dan Para Pemuda gagal mufakat, walaupun berat hati, Para Pemuda meninggalkan Istana dengan rasa sesal.

Oleh karena sikap Inggris yang sering menyakiti hati rakyat Indonesia, terjadi peperangan pada 6 Desember 1945 antara Inggris dan bangsa Indonesia. Walaupun hanya menggunakan bambu runcing dan perlengkapan perang seadanya, Istana dan Kota Bogor menjadi tempat peperangan yang sangat menyiksa.

Siang dan malam pasukan Kapten Muslihat terus menyerang ke tempat tersebut tiada henti dan lelah. Pada satu malam ketika Kapten Muslihat dan keluarganya, seperti sudah memiliki firasat, Kapten Muslihat bercerita bahwa dirinya takkan bisa terus ikut berjuang. Kepada ayahnya beliau meminta agar putranya nanti lahir kelak diberi nama Gelar Merdeka.

Pada 25 Desember 1945, Kapten Muslihat dan beberapa anak buahnya, salah satunya yaitu adiknya Gustiman yang tanpa sepengetahuan Kapten Muslihat ikut menyerang kantor polisi yang berada di Jalan Banten.

Kedua belah pihak saling menembak di tempat persembunyian. Kesal perang yang tiada hasil, Kapten Muslihat bangun dan menembak, terlihat beberapa musuh tersungkur. Namun sebaliknya, entah datangnya darimana, salah satu peluru musuh menembus perut Kapten Muslihat.

Tapi Kapten Muslihat tetap berdiri menembaki musuh walaupun tidak terhitung berapa peluru yang mengenai tubuhnya. Terlihat jelas peluru musuh merobekkan perutnya dan merah dilumuri darah. Melihat hal itu, Gustiman menghampiri dan memeluknya, namun Kapten Muslihat menyuruh adiknya untuk segera menyingkir, agar tidak menambah korban.

Tanpa diketahui salah satu peluru mengenai punggungnya, Kapten Muslihat pun roboh, tubuhnya basah berlumur darah, baju yang tadinya berwarna putih berubah menjadi merah. Membasahi Tanah Air dengan darahnya.

Walaupun susah dan terus dihujani peluru oleh musuh, akhirnya Kapten Muslihat dibawa pulang ke rumahnya di Panaragan oleh barisan PMI dan dibantu beberapa anak buahnya.

Sebelum meninggal, kepada ayahnya beliau beramanat bahwa uang simpanannya berjumlah Rp.600 (uang kertas Jepang) agar disumbangkan kepada fakir miskin.

Kepada kerabat dan anak buahnya beliau berpesan untuk meneruskan perjuangan untuk terus memerdekaan bangsa Indonesia.
 
urang pasti menang, jeung Indonesia bakalan merdeka!
 
Meninggalnya Kapten Muslihat disaksikan oleh Dr. Marzoeki Mahdi. Sambil mengucapkan “Allahu Akbar” 3 kali, pada keadaan yang tenang, pasrah pada Tuhan, Kapten Tubagus Muslihat kembali pada Sang Pencipta. Besoknya, jasadnya dikebumikan pada keadaan masih perang dan meninggalkan istrinya yang sedang mengandung.


 
~ Monumen Kapten Muslihat di Kota Bogor, Jawa Barat ~

~ “Tipu Muslihat” adalah istilah yang berasal dari nama Kapten Muslihat yang jago akan menyusun strategi perang saat lawan penjajahan dahulu. ~

Sunday, August 30, 2015

Sultan Hamid II & Garuda Pancasila

 

Sultan Hamid II adalah Sultan ke-VIII dari Kesultanan Kadriah Pontianak yang memiliki nama lengkap Sultan Abdul Hamid Alkadrie. Putra Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, Sultan VII Kesultanan Pontianak. Sultan Hamid II lahir di Pontianak pada 12 Juli 1913. Sultan Hamid Alkadrie II melewati masa kecilnya di Istana Kadriah Kesultanan Pontianak yang dibangun pada 1771 Masehi. Sultan Hamid II pernah menjadi Kepala Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) pada tahun 1948.

Sultan Hamid II dikenal cerdas, ia juga menjadi Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda (Ratu Juliana) dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran yaitu dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Sultan Hamid II menempuh pendidikan "ELS" di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. "HBS" di Bandung satu tahun, "THS" Bandung tidak tamat, kemudian "KMA" di Breda, Belanda hingga tamat dan berpangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda. Sultan Hamid II adalah orang Indonesia pertama yang menempuh pendidikan di Akademi Militer Belanda (KMA) di Breda, Belanda, seperti AKABRI dengan pangkat letnan dua infanteri pada tahun 1936.

Sultan Hamid II adalah salah satu tokoh penting nasional dalam mendirikan Republik Indonesia bersama rekan sejawatnya, Sukarno, Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Mr. Muhammad Roem, Mohammad Natsir, dan Muhammad Yamin. Dalam sejarah pendirian RI, Sultan Hamid II pernah menjadi Ketua Delegasi BFO (Bijeenkomst Federaale Overleg/Musyawarah Istimewa Kaum Federal dan Strategi Konseptor Negara Federal) dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, 23 Agustus 1949. Sultan Hamid II juga menjadi saksi pelantikan Sukarno sebagai Presiden RI di Keraton Yogyakarta pada 17 Desember 1949.

Sepak terjangnya di dunia politik menjadi salah satu alasan bagi Presiden Sukarno untuk mengangkat Sultan Hamid II sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio di Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 1949-1950. Pada 13 Juli 1945 dalam Rapat Panitia Perancang Undang-Undang Dasar, salah satu anggota Panitia, mengusulkan tentang lambang negara. Pada 20 Desember 1949, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Serikat Nomor 2 Tahun 1949, Sultan Hamid II diangkat sebagai Menteri Negara RIS. Dalam kedudukannya ini, Sultan Hamid II ditugaskan oleh Presiden Sukarno untuk mengkoordinasi kegiatan perancangan lambang negara.

Dalam buku Bung Hatta Menjawab (Hatta saat itu menjadi Perdana Menteri RIS) tertulis Menteri Priyono yang ditugaskan oleh Sukarno melaksanakan sayembara lambang negara menerima hasil dua buah gambar rancangan lambang negara yang terbaik. Yaitu Burung Garuda karya Sultan Hamid II dan Banteng Matahari karya Muhammad Yamin. Namun, yang diterima oleh Presiden Sukarno adalah karya Sultan Hamid II dan karya Muhammad Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Melalui proses rancangan yang cukup panjang, akhirnya pada 10 Februari 1950, Menteri Negara RIS Sultan Hamid II mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang. Hasil akhirnya adalah lambang negara Garuda Pancasila yang dipakai hingga saat ini.

Rancangan awal Garuda Pancasila oleh Sultan Hamid II, berbentuk Garuda tradisional yang bertubuh manusia. 


Berkas:Winner Republik Indonesia Serikat (United States of Indonesia) COA 1950.jpg 
Garuda Pancasila yang diresmikan 11 Februari 1950, tanpa jambul dan posisi cakar masih di belakang pita.

Rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II diresmikan pemakaiannya dalam sidang kabinet RIS yang dipimpin Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat (PM RIS) Mohammad Hatta pada 11 Februari 1950. Empat hari berselang, tepatnya 15 Februari, Presiden Sukarno memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara karya Sultan Hamid II kepada khalayak umum di Hotel Des Indes (sekarang Duta Merlin) Jakarta. Pada 20 Maret 1950, bentuk final lambang negara rancangan Menteri Negara RIS Zonder Forto Polio, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Sukarno dan mendapat disposisi persetujuan presiden. Selanjutnya Presiden Sukarno memerintahkan pelukis Istana bernama Dullah untuk melukis kembali gambar itu sesuai bentuk final dan aslinya.

Lambang negara ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 yang diundangkan dalam Lembaran Negara Nomor 111 dan penjelasannya dalam tambahan Lembaran Negara Nomor 176 Tahun 1951 pada 28 November 1951. Sejak saat itu, secara yuridis gambar lambang negara rancangan Sultan Hamid II secara resmi menjadi Lambang Negara Kesatuan RI. Sebelum meninggal dunia, Sultan Hamid II yang didampingi sekretaris pribadinya, Max Yusuf Alkadrie menyerahkan gambar rancangan asli lambang negara yang sudah disetujui Presiden Sukarno kepada Haji Mas Agung–Ketua Yayasan Idayu, pada 18 Juli 1974. Gambar rancangan asli itu sekaligus diserahkan kepada Haji Mas Agung di Jalan Kwitang Nomor 24 Jakarta Pusat.


Keterlibatan dalam Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)
Pada 5 April 1950, Sultan Hamid II dikait-kaitkan dengan peristiwa Westerling (yang tidak pernah terbukti secara yuridis/hukum) sehingga harus menjalani proses hukum (tanpa hukum/politisasi) dan dipenjara selama 10 tahun oleh pemerintah Sukarno (dikarenakan pergolakan poltik pada saat itu). Sejak itulah, nama Sultan Hamid II seperti dicoret dari catatan sejarah. Jarang sekali buku sejarah Indonesia yang terang-terangan menyebutkan Sultan Hamid sebagai pencipta gambar Burung Garuda. Sejarawan Indonesia lebih sering menyebut nama Muhammad Yamin sebagai pencipta lambang negara. Gelar kepahlawanan yang seharusnya disandang Sultan Hamid II yang sangat berjasa sebagai perancang lambang negara tersebut sengaja dihilangkan oleh pemerintahan Sukarno, Suharto hingga saat ini. Kesalahan sejarah itu berlangsung bertahun-tahun hingga pemerintahan Orde Baru dan sampai dengan sekarang belum sepenuhnya terungkap.

Sultan Hamid II meninggal dunia pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang. Sudah sepatutnya negara mengembalikan nama baik Sultan Hamid II sebagai pahlawan bangsa serta pencipta lambang negara yang terlepas dari masalah politik lain yang ditimpakan kepadanya. Pemutarbalikan fakta sejarah yang terjadi saat ini sangat merugikan generasi mendatang. Sejarah harus diletakkan pada porsinya semula dan sejarah harus diluruskan agar generasi mendatang tau tentang pencipta lambang negaranya Burung Garuda, serta generasi bangsa ini tidak salah dalam melihat sejarah, begitupula termasuk memberikan penghormatan kepada Sultan Hamid II sebagai pahlawan nasional seperti halnya W.R. Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya, Fatmawati, pembuat Bendera pusaka Indonesia, dan lainnya.


sumber : https://www.facebook.com/note.php?note_id=192177504157546