TutupJangan Lupa Klik Like Dan Follow ya!

Monday, March 24, 2014

Sarjana Fakultatif Lulusan Universitas

Oleh : Emha Ainun Nadjib

Semakin tua, saya makin mengalami kegagapan komunikasi, bahkan kegagalan komunikasi. Kita mendengarkan pidato pejabat, mendengarkan presentasi pemakalah dalam suatu diskusi, lalu lintas perdebatan dalam talk shows, ustadz-ustadz kasih pengajian, pasti kita juga sering berada bersama orang-orang yang mengobrol di warung atau di gardu. Sering kali terasa, kita seakan dua orang tuli yang berpapasan di jalan dan saling menyapa.

"Mau ke mana, Kang? Mancing ya?"

"O, enggak. Saya mau mancing kok."

"O, ya udah. Saya kira mau mancing."

Mungkin saja sekian persen dari kekacauan pembangunan dan kebobrokan keadaan negeri ini bersumber pada mekanisme dan dialektika ketulian massal seperti itu.

Banyak sekali kejadian dimana orang memperbincangkan "mancing" dan merasa lega telah berbincang, padahal mancing yang dimaksudkan oleh seseorang sama sekali berbeda dengan mancingnya orang yang berbincang dengannya.

Terkadang orang mempertengkarkan, bermusuhan serius, sampai terjadi tawur massal, padahal masing-masing pihak sebenarnya sama-sama tidak pergi "mancing".

Berbagai situasi dalam perpolitikan elite atau perkehidupan budaya pada skala bangsa, sebagian tidak kecil mungkin juga sesungguhnya bertemakan "mancing". Bisa puluhan tahun kelompok ini bermusuhan dengan kelompok itu. Tema permusuhan mereka adalah mancing. Padahal, tak ada yang mancing, dan sesudah pertengkaran yang sangat akut dan bertele-tele, toh tak ada yang memperoleh ikan diantara mereka yang bermusuhan.

Kekacauan epistemologis

Salah satu sumber dialektika tuli dan mancing adalah kekacau-balauan epistemologi. Nahdlatul Ulama dan Ikatan Cendekiawan Muslim tak pernah terlihat akur dalam tata pergaulan budaya politik nasional, padahal bahasa Arab-nya Ikatan Cendekiawan adalah Nahdlatul Ulama, dan bahasa Indonesia-nya Nahdlatul Ulama adalah Ikatan Cendekiawan.

Orang pintar dari universitas Islam disebut "cendekiawan muslim", orang pintar dari pesantren disebut "ulama". Padahal, bahasa Arab-nya cendekiawan muslim adalah ulama, dan bahasa Indonesia-nya ulama adalah cendekiawan muslim.

Bank alternatif Islam disebut bank "syariah" sehingga bank "konvensional"  disebut bukan syariah. Padahal, keduanya sama-sama syariah. Syariah (syari'), sebagaimana thariqah (thariq) dan sabil artinya 'jalan', meski konotasi penggunaannya berbeda. Maka, bank umum konvensional juga bank syariah. Berdampingan dengan bank syariah, ia sama-sama syariah : jalan, cara, metode, manajemen, desain, strategi untuk menuju suatu goal tertentu. Bedanya, bank konvensional adalah syariatunnas, bank syariah adalah syariatullah.
Subyeknya bank syariatunnas adalah manusia dan akal pikiran, sedangkan syariatullah berbekal manusia, akal pikiran dan firman.

Yang syariatunnas atau bank konvensional tidak otomatis boleh disebut "bukan jalan Tuhan" atau bukan "sabilillah" karena manusia dan akal pikiran juga suatu jenis firman. Hanya saja, bank konvensional secara resmi tidak mengacu kepada firman literer, yakni ayat-ayat Kitab Suci.

Tercetus, berdiri, dan berlangsungnya bank konvensional hasil akal pikiran manusia bisa saja terkategorikan sebagai upaya religiositas : upaya manusia untuk mencapai kebenaran dan kesejahteraan sejati.

Ia juga bisa menjadi suatu jenis ijtihad (jihad atau perjuangan intelektual), sebagaimana bank syariatullah juga suatu model ijtihad. Hanya saja, ijtihad bank syariatullah mengacu pada religi, bukan sekadar ikhtiar religiousitas. Salah satu bukti empiris bahwa keduanya bisa merupakan upaya ijtihad adalah bahwa bank-bank konvensional yang menyelenggarakan sayap syariah : tidak semata-mata langsung melakukan konversi total dengan membubarkan sistem konvensionalnya dan mengantinya dengan sistem syariatullah. Syariatunnas dan syariatullah berjalan beriring dalam satu institusi bank.

Paguyuban fakultas

Terdapat ribuan contoh kekacauan epistemologis. Ada ribuan lembaga pendidikan yang menyebut dirinya universitas, tetapi yang diproduknya seratus persen sarjana-sarjana fakultatif, bukan sarjana universal. Memang nanti di S-2 dan S-3 dibuka peluang komprehensif antarbidang keilmuan sehingga merupakan tabungan universalitas keilmuan pelakunya.

Namun, di pihak lain, yang berkembang pesat justru spesialisasi keilmuan. Semakin spesialis, semakin tidak universal. Karena itu, tepatnya jangan sebut universitas, melainkan paguyuban fakultas-fakultas dan jurusan-jurusan.

Fakultas-fakultas berpapasan dan bersapaan satu sama lain, "Mau mancing ya?",

"Enggak, orang aku mau mancing kok",

"O, ya udah, kupikir pergi mancing."

Para mahasiswa pergi kuliah, padahal yang mereka maksudkan adalah juz'iyyah. Kuliah berasal dari kata kulliyyah, kata dasarnya kullun, artinya 'setiap'. Meskipun setiap mirip dengan semua, mereka amat berbeda. Setiap maupun semua menyangkut dan melibatkan setiap dan semua subyek, tetapi masing-masing berbeda dengan kebersamaan, ke-setiap-an berbeda bahkan bertentangan dengan ke-semua-an. Aku plus aku plus aku tidak pasti sama dengan kita. Karena dalam "kita", ke-aku-an direlakan untuk tidak menjadi faktor utama.

Pergi kuliah artinya berangkat mencari ilmu universal-komprehensif. Para sarjana fakultatif tidak pernah pergi kuliah, yang mereka lakukan di kampus adalah juz'iyyah: mencari ilmu fakulatif spesialistis. Salah satu tugas akademis mereka adalah berseminar dan menulis makalah. Entah bagaimana asal-usul kata itu. Jika sumbernya bahasa Swahili atau Visayan, saya kurang tahu. Namun, jenis bunyi dan pilihan huruf dari "makalah" sepertinya dari bahasa Arab. Kalau benar demikian, mungkin yang dimaksud adalah ma qala, artinya 'sesuatu yang dikatakan'. Kalau sesuatu yang dituliskan, bahasa Arab-nya : ma kutiba.

Saya yang dasarnya pemalas dalam hal tulis-menulis selalu mendapat keuntungan kalau diundang seminar. Sebab, panitia selalu minta makalah. Maka saya tinggal datang ke acara dan langsung mempersembahkan ma qala, hal-hal yang dikatakan. Jangan sampai ada panitia yang minta ma kutiba, nanti saya terpaksa menuliskannya.


sumber :
* Emha Ainun Nadjib. 2007. Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.


Saturday, January 11, 2014

Biografi Agus Salim




Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq yang berarti "pembela kebenaran". Dia lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884. Dia menjadi anak keempat Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim, seorang jaksa di sebuah pengadilan negeri. Karena kedudukan ayahnya Agus Salim bisa belajar di sekolah-sekolah Belanda dengan lancar, selain karena dia anak yang cerdas. Dalam usia muda, dia telah menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman. Pada 1903 dia lulus HBS (Hogere Burger School) atau sekolah menengah atas 5 tahun pada usia 19 tahun dengan predikat lulusan terbaik di tiga kota, yakni Surabaya, Semarang, dan Jakarta.

Karena itu, Agus Salim berharap pemerintah mau mengabulkan permohonan beasiswanya untuk melanjutkan sekolah kedokteran di Belanda. Tapi, permohonan itu ternyata ditolak. Dia patah arang. Tapi, kecerdasannya menarik perhatian Kartini, anak Bupati Jepara. Sebuah cuplikan dari surat Kartini ke Ny. Abendanon, istri pejabat yang menentukan pemberian beasiswa pemerintah pada Kartini: “Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda, kami ingin melihat dia dikarunia bahagia. Anak muda itu namanya Salim, dia anak Sumatera asal Riau, yang dalam tahun ini, mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS! Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya tidak memungkinkan.”

Lalu, Kartini merekomendasikan Agus Salim untuk menggantikan dirinya berangkat ke Belanda, karena pernikahannya dan adat Jawa yang tak memungkinkan seorang puteri bersekolah tinggi. Caranya dengan mengalihkan beasiswa sebesar 4.800 gulden dari pemerintah ke Agus Salim. Pemerintah akhirnya setuju. Tapi, Agus Salim menolak. Dia beranggapan pemberian itu karena usul orang lain, bukan karena penghargaan atas kecerdasan dan jerih payahnya. Salim tersinggung dengan sikap pemerintah yang diskriminatif. Apakah karena Kartini berasal dari keluarga bangsawan Jawa yang memiliki hubungan baik dan erat dengan pejabat dan tokoh pemerintah sehingga Kartini mudah memperoleh beasiswa?
Belakangan, Agus Salim memilih berangkat ke Jedah, Arab Saudi, untuk bekerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda di kota itu antara 1906-1911. Di sana, dia memperdalam ilmu agama Islam pada Syech Ahmad Khatib, imam Masjidil Haram yang juga pamannya, serta mempelajari diplomasi. Sepulang dari Jedah, dia mendirikan sekolah HIS (Hollandsche Inlandsche School), dan kemudian masuk dunia pergerakan nasional. Karir politik Agus Salim berawal di Sarekat Islam (SI), bergabung dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis pada 1915. Ketika kedua tokoh itu mengundurkan diri dari Volksraad (Dewan Rakyat) sebagai wakil SI akibat kekecewaan mereka terhadap pemerintah Belanda, Agus Salim menggantikan mereka selama empat tahun (1921-1924) di lembaga itu. Tapi, sebagaimana pendahulunya, dia merasa perjuangan “dari dalam” tak membawa manfaat. Dia keluar dari Volksraad dan berkonsentrasi di SI.

Pada 1923, benih perpecahan mulai timbul di SI. Semaun dan kawan-kawan menghendaki SI menjadi organisasi yang condong ke komunis, sedangkan Agus Salim dan Tjokroaminoto menolaknya. Buntutnya SI terbelah dua : Semaun membentuk Sarekat Islam Merah yang kemudian berubah menjadi Partai Komunis Indonesia, sedangkan Agus Salim tetap bertahan di SI. Karier politiknya sebenarnya tidak begitu mulus. Dia pernah dicurigai rekan-rekannya sebagai mata-mata karena pernah bekerja pada pemerintah. Apalagi, dia tak pernah ditangkap dan dipenjara seperti Tjokroaminoto. Tapi, beberapa tulisan dan pidato Agus Salim yang menyinggung pemerintah mematahkan tuduhan-tuduhan itu. Bahkan dia berhasil menggantikan posisi Tjokroaminoto sebagai ketua setelah pendiri SI itu meninggal dunia pada 1934.

Selain menjadi tokoh SI, Agus Salim juga merupakan salah satu pendiri Jong Islamieten Bond (Ikatan Pemuda Islam). Di sini dia membuat gebrakan untuk meluluhkan doktrin keagamaan yang kaku. Dalam kongres Jong Islamieten Bond ke-2 di Yogyakarta pada 1927, Agus Salim dengan persetujuan pengurus Jong Islamieten Bond menyatukan tempat duduk perempuan dan laki-laki. Ini berbeda dari kongres dua tahun sebelumnya yang dipisahkan tabir; perempuan di belakang, laki-laki di depan. ”Ajaran dan semangat Islam memelopori emansipasi perempuan,” ujarnya. Agus Salim pernah menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada akhir kekuasaan Jepang. Ketika Indonesia merdeka, dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Kepiawaiannya berdiplomasi membuat dia dipercaya sebagai Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I dan II serta menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta. Sesudah pengakuan kedaulatan Agus Salim ditunjuk sebagai penasehat Menteri Luar Negeri.

Dengan badannya yang kecil, di kalangan diplomatik Agus Salim dikenal dengan julukan The Grand Old Man, sebagai bentuk pengakuan atas prestasinya di bidang diplomasi. Sebagai pribadi yang dikenal berjiwa bebas dia tak pernah mau dikekang oleh batasan-batasan, bahkan dia berani mendobrak tradisi Minang yang kuat. Tegas sebagai politisi, tapi sederhana dalam sikap dan keseharian. Dia berpindah-pindah rumah kontrakan ketika di Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta. Di rumah sederhana itulah dia menjadi pendidik bagi anak-anaknya, kecuali si bungsu, bukan memasukkannya ke pendidikan formal. Alasannya, selama hidupnya Agus Salim mendapat segalanya dari luar sekolah. ”Saya telah melalui jalan berlumpur akibat pendidikan kolonial,” ujarnya tentang penolakannya terhadap pendidikan formal kolonial yang juga sebagai bentuk pembangkangannya terhadap kekuasaan Belanda. Agus Salim wafat pada 4 November 1954 dalam usia 70 tahun.

Dalam teori komunikasi, pola berpikir seseorang dipengaruhi oleh latar belakang hidup di lingkungannya. Seorang tokoh yang berperan dalam gerakan moderen Islam di Indonesia, Agus Salim, memiliki pola berpikir yang dipengaruhi oleh lingkungannya dalam hal sosial-intelektual. Dia adalah anak dari pejabat pemerintah yang juga berasal dari kalangan bangsawan dan agama. Jadi, sejak kecil ia hidup di lingkungan yang penuh dengan nuansa-nuansa keagamaan. Setelah menyelesaikan studi sekolah pertengahannya di Jakarta, dia bekerja untuk konsulat Belanda di Jeddah (1906-1909). Di sini dia mempelajari kembali lebih dalam tentang Islam, kendatipun dia memberi pengakuan: “meskipun saya terlahir dalam sebuah keluarga Muslim yang taat dan mendapatkan pendidikan agama sejak dari masa kanak-kanak, [setelah masuk sekolah Belanda] saya mulai merasa kehilangan iman.”
Walaupun demikian, tidak berarti bahwa Agus Salim adalah seorang yang anti-nasionalisme. Perjuangannya dalam mempersiapkan kemerdekaan bangsa kita adalah bukti bahwa dia adalah seorang yang berjiwa nasionalisme. Perjuangan Agus salim dalam meraih kemakmuran bagi rakyat Indonesia patut kita apresiasi bersama sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, kenikmatan hidup saat ini yang kita rasakan di Indonesia tak lain dan tak bukan adalah hasil jerih payah dari para pejuang kemerdekan dan alangkah lebih baik apabila perjuangan mereka di masa lalu dapat kita hayati untuk merevitalisasi semangat dalam diri menggali secara konsisten khazanah-khazanah ke-Islam-an, kemodernan, dan ke-Iindonesia-an.

sumber : http://kolom-biografi.blogspot.com/2012/03/biografi-haji-agus-salim.html

Monday, November 25, 2013

Perjuangan Kita (Soetan Sjahrir)

 Sjahrir



PERJUANGAN KITA
Oleh : Sutan Sjahrir

Pendahuluan
Keadaan setelah dua bulan berdirinya Republik Indonesia dapat kita gambarkan sebagai berikut. Harapan dan keinginan untuk turut serta akan dapat mempertahankan kemerdekaan kita, umum ada pada segala lapisan bangsa kita. Belum pernah ditahun-tahun yang lalu gerakan kemerdekaan memuncak seperti sekarang. Terutama pada pemuda tampak, bahwa segenap jiwanya dipasangkan pada perjuangan kemerdekaan kita. Akan tetapi lambat laun rakyat banyak di desa dan di kota yang memperhebat perjuangan kita. Rakyat jelata turut tergolak kedalam gerakan kemerdekaan, didorong oleh kegelisahannya yang disebabkan oleh suasana masyarakatnya. Bagi rakyat jelata nyata, bahwa semboyan “merdeka” itu tidak saja berarti Negara Indonesia yang berdaulat pun tidak pula saja bendera merah putih baginya berarti simbol persatuan dan cita-citanya bangsa dan negara, akan tetapi terutama kemerdekaan dirinya sendiri dari sewenang-wenang, dari kelaparan dan kesengsaraan, dan merah-putih baginya terutama simbol perjuangan itu, yaitu perjuangan kerakyatan.

Ucapan-ucapan kegelisahan rakyat yang kerapkali merupakan perbuatan-perbuatan yang kejam serta pelanggaran hak milik dengan kekerasan, dapat dimengerti, jika dicari sebab-sebanya yang lebih dalam. Selama tiga setengah tahun penjajahan Jepang sendi-sendi masyarakat di desa diobrak-abrik serta diruntuhkan dengan kerja paksa, dengan penculikan orang desa dijadikan romusha jauh dari tempat tinggalnya, dijadikan serdadu, dengan penyerahan hasil bumi dengan paksa, dengan penanaman hasil bumi dengan paksa, dengan sewenang-wenang yang tiada batasnya. Demikian pula diantara rakyat jelata di kota, ketidakpastian dalam kedudukannya menyebabkan kegelisahan. Beribu-ribu orang yang sebelum Jepang datang mempunyai pencaharian sebagai buruh, kehilangan mata pencahariannya. Berpuluh ribu orang-orang desa melarikan dirinya ke kota untuk meluputkan diri dari sewenang-wenang serta kelaparan yang ada di desa. Berpuluh ribu pula orang pelarian romusha, heiho dan kerja paksa lainnya menambah banyaknya jiwa di kota yang tidak mempunyai pencaharian tertentu. Segala ini menyebabkan bahwa kegelisahan didalam masyarakat di kota terus memuncak. Bahaya segala ini akan meletus didalam pemberontakan dan kerusuhan terus bertambah besar untuk Jepang.

Setelah Jepang rubuh dan ia bersedia untuk ditawan, sehingga kekuasaan pemerintahannya lemah, bahaya akan meledaknya tenaga yang terhimpun didalam masyarakat itu, terus bertambah besar. Untuk menghindarkan bahaya itu, macam-macam muslihat Jepang yang digunakannya; antara lain diikhtiarkan untuk mengalirkan kegelisahan orang itu terhadap golongan-golongan lain.

Kebencian yang tambah lama tambah besar terhadap Jepang diputarkan oleh dengan agitasi dan propagandanya terhadap bangsa kulit putih, orang Tionghoa, pangrehpraja dan selanjutnya tak dapat kita mungkiri, bahwa propaganda dan agitasi Jepang itu banyak pengaruhnya dan berhasil juga baginya. Selama tiga setengah tahun negeri kita dikuncinya dari luar negeri, sehingga kita tidak mengetahui keadaan di luar dan ia leluasa menjual dustanya yang menjadi dasar propagandanya. Tatkala kebencian rakyat kita terhadap Jepang telah umum dan disana-sini timbul kerusuhan, digunakannya perasaan kebangsaan kita untuk mendinginkan kepanasan terhadap dia.

Dibentuknya Angkatan Muda untuk memperhebat agitasi kebangsaan, supaya dapat menghindarkan bahaya sosial yang mengancamnya. Agitasi kebangsaan itu memang memuaskan untuk pemuda-pemuda serta kaum terpelajar kita yang berada dalam kegelisahan dan kebimbangan. Pada umumnya adalah gerakan rahasia Jepang seperti Naga Hitam, Kipas Hitam dan lain-lain buatan kolone kelima Jepang, buatan Kempetai, Kaigun dan lain-lain sangat menunjukkan kegiatannya terhadap pemuda-pemuda kita dan memang ada juga yang dapat mempengaruhi jiwanya, meskipun pada lahirnya umum pemuda kita membenci Jepang. Dengan tidak sadar, biasanya jiwanya terpengaruh juga oleh propaganda Jepang itu dan tingkah lakunya, hingga cara ia berfikir, adalah kerapkali mencontoh-contoh Jepang. Kegiatan jiwanya, terutama terlihat sebagai kebencian kepada bangsa-bangsa asing, yaitu sebenarnya yang ditujukan oleh Jepang untuk dimusuhi, bangsa Sekutu, bangsa Belanda, bangsa Indo (bangsa kita sendiri), Ambon Menado, kedua-duanya bangsa kita sendiri, Tionghoa, pangrehpraja; maksudnya tak lain, seluruh dunia boleh dibenci asalkan jangan membenci Jepang.

Demikian keadaan sebelum pernyataan Indonesia Merdeka, demikian pula bahan-bahan untuk mendirikan perumahan Indonesia Merdeka. Merdeka didirikan, rata-rata orang yang mengemudikannya adalah bekas pegawai dan pembantu Jepang. Hal ini menjadi halangan untuk membersihkan masyarakat kita dari penyakit Jepang yang berbahaya untuk jiwa pemuda kita itu. Pendidikan politik yang diwaktu jaman jajahan Belanda telah begitu tipis, didalam jaman Jepang sama sekali tidak ada, jiwa pemuda dibentuk untuk dapat menerima perintah saja, untuk tunduk dan mendewa-dewakan, seperti orang Jepang tunduk kepada Tenno dan mendewa-dewakannya. Demikian pula hanya diajar tunduk pada pemimpin dan mendewa-dewakannya, tidak diajar dan tidak cakap bertindak dengan bertanggungjawab sendiri. Kesadaran revolusioner yang harus berdasar pada pengetahuan kemasyarakatan, tipis benar. Oleh karena itu, kecakapannya untuk menyusun dan mempergunakan kemungkinan yang ada dalam masyarakat, sangat kecil. Oleh karena itu pula, maka senjata dan alat perjuangan yang seharusnya dapat dibentuk dari tenaga yang terhimpun dalam masyarakat sebagai kebencian terhadap penindasan dan pemerasan Jepang tidak terbentuk.

Segala kegelisahan yang ada didalam masyarakat dijuruskan oleh pemuda-pemuda kita, pada kebencian terhadap bangsa-bangsa asing yang hidup di dalam negeri kita, pada berbaris-baris dengan tombak yang sekarang menjalar menjadi pembunuhan dan perampokan serta rupa-rupa kegiatan lain lagi, yang ditilik dengan kacamata perjuangan kemasyarakatan tidak berarti atau reaksioner, seperti tiap-tiap tindakan fasis itu selamanya reaksioner.
Terlambat datangnya balatentara Sekutu untuk menggantikan balatentara Jepang yang tidak berkemauan lagi untuk memerintah sebenarnya memberikan kesempatan yang baik bagi pemerintahan Negara Republik Indonesia. Akan tetapi hal ini tiada tercapai seperti seharusnya.

Sebab yang pertama ialah bahwa yang mengendalikan pemerintahan Negara Republik Indonesia bukan orang yang berjiwa kuat. Kebanyakan dari mereka telah terlalu biasa membungkuk serta berlari untuk Jepang atau Belanda; jiwanya bimbang dan nyata tidak sanggup bertindak dan bertanggung jawab.

Sebab yang kedua adalah bahwa banyak diantara mereka merasa berhutang budi kepada Jepang, yang mengkurniakan persediaan Indonesia Merdeka pada mereka. Akhirnya dianggapnya, bahwa ia menjadi pemerintah, ialah oleh karena bekerja bersama dengan Jepang.

Oleh karena itu maka sesudah kekuasaan Jepang menjadi lemah dan kemudian runtuh, serta pula belum digantikan oleh kekuasaan militer Sekutu, tidak pula Negara Republik Indonesia dapat medirikan kekuasaan bangsa kita sendiri sehingga berupa negeri dan bangsa yang tak berpemerintah, sedangkan rakyat gelisah belum mendapat didikan dan belum mempunyai pengetahuan tenatng menyelesaikan soal kemasyarakatannya berhubung dengan pemerintahan. Maka timbullah kekacauan yang menjalar terus, didalam keadaan begini agitasi kebangsaan berakibat rupa-rupa yang tiada dikehendaki atau dikuasai oleh orang yang membuat agitasi. Pembunuhan bangsa asing serta perampokan yang jika kita tilik keadaan rakyat dapat dimengerti, tidak urung pula menyatakan kelemahan pemerintah Republik Indonesia yang belum dapat merasakan dirinya sebagai pemerintah yang dipandang dan dihormati oleh rakyatnya.

Pemuda-pemuda kita yang berikhtiar mempergunakan kegelisahan rakyat itu, tiada pula mempunyai syarat-syarat yang perlu untuk dapat memimpin rakyat dalam perjuangan yang seharusnya dilakukan. Pemuda kita umumnya hanya mempunyai keckapan untuk menjadi serdadu, yaitu berbaris, menerima perintah menyerang, menyerbu dan berjibaku dan tidak pernah diajar memimpin.

Oleh karena ia tidak berpengetahuan lain, cara ia mengadakan propaganda dan agitasi pada rakyat banyak itu seperti dilihatnya dan diajarkannya dari Jepang, yaitu fasistis. Sangat menyedihkan keadaan jiwa pemuda kita. Mereka terus didalam kebimbangan, meskipun semangatnya meluap-luap, mereka belum mempunyai pengertian tentang kemungkinan serta kedudukan perjuangan yang diperjuangkannya sehingga pandangannya tak dapat jauh. Pegangannya banyak kali tidak lain dari semboyan merdeka atau mati. Tiap kali kalau terasa, bahwa kemerdekaan belum pasti serta ia belum pula menghadapi mati, mereka berada terus didalam kebimbangan.

Obat untuk kebimbangan itu umumnya dicari dengan perbuatan yang terus-menerus, sehingga perbuatan dijadikan madat untuk jiwa. Bagi bangsa kita, mabuk perbuatan pemuda-pemuda ini, sebenarnya suatu keuntungan yang besar benar dan memang pula perbuatan-perbuatan merekalah yang menjadi pendorong keras bagi perjuangan kita pada permulaannya, akan tetapi tentu pula perbuatan yang sebenarnya tiada berpengertian ini, banyak pula salah tubruk, sehingga merusakkan dan merugikan perjuangan kita. Dengan demikian umpamanya hasutan-hasutan dan perbuatan-perbuatan terhadap bangsa-bangsa asing, yang melemahkan kedudukan perjuangan kita didalam pandangan dunia internasional.

Terhadap cita-cita kita hendak mendirikan negara kita sendiri, dunia luar mulanya menyatakan simpatinya. Boleh dikatakan, bahwa pandangan umum dunia mula-mula memihak kita, terutama seluruh kaum buruh di dunia, akan tetapi dengan bertambah banyaknya kejadian yang menunjukkan kekacauan diantara rakyat kita, yang sulit dapat dipahamkan sebagai ucapan perjuangan kemerdekaan, seperti pembunuhan serta perampokan, perasaan umum di dunia terhadap perjuangan kita dapat berubah, seperti terbukti juga diwaktu yang akhir ini.

Pada umumnya sekalian tanda kekacauan di negeri kita, hanya akan mengecewakan tidak saja kaum kapitalis akan tetapi juga kaum buruh seluruh dunia. Kaum kapital kecewa akan kemungkinan untuk modalnya yang diharapkan akan memberikan hasil jika keamanan sudah ada di negeri kita. Kaum buruh kecewa akan tanda-tanda kekejaman fasistis, yang telah sangat terkenal di dunia pada waktu ini, serta akan payah juga akan dapat menelan pembunuhan-pembunuhan orang asing, apalagi pembunuhan dan kekejaman terhadap orang Indo, Ambon dan Menado yang bangsa kita sendiri.

Sekalian ini hanya akan dimengerti sebagai kementahan didalam perasaan kebangsaan yang sebenarnya musti mengandung kesadaran politik kebangsaan pada pokoknya. Kebencian terhadap orang Indo, Ambon dan Menado hanya dapat diartikan oleh luar negeri, bahwa kesadaran diantara rakyat banyak terbukti masih sangat tipis atau belum ada sama sekali. Selama penduduk daerah yang satu masih dapat diadu-dombakan dengan penduduk daerah yang lain, memang sulit bagi dunia akan menerimanya sebagai bangsa baru yang pantas dihormati.

Untuk itulah akan dikemukakan dalam risalah ini beberapa kenyataan politik yang seharusnya dijadikan dasar di dalam perhitungan kita, demi berhasilnya perjuangan kita terhadap luar dan juga dalam negeri.

      Kedudukan Indonesia di Dunia Sekarang
Letak Indonesia dalam lingkungan daerah pengaruh kapitalisme-imperialisme Inggris-Amerika. Nasib Indonesia tergantung pada nasib kapitalisme-imperialisme Inggris-Amerika. Dalam waktu lebih dari satu abad terakhir ini, kekuasaan Belanda atas negeri dan bangsa ini adalah buah daripada perhitungan dan penetapan politik luar negeri Inggris. Kita ketahui bahwa setelah dipermulaaan abad ke-19 Inggris merampas dan mengembalikan Indonesia dari dan pada Belanda, sebenarnya Belanda berada di negeri kita ini tidak lagi atas kekuatan sendiri akan tetapi atas kurnia Inggris serta bergantung semata-mata daripada politik Inggris. Politik Inggris terhadap Asia Timur ini dapat dijalankannya lebih dari seabad lamanya, meskipun tenaga dan keadaan baru timbul, seperti Rusia, Jepang, Amerika Serikat, Revolusi Tiongkok, akan tetapi tak urung pula kedudukannya berobah, terutama di Tiongkok.

Perubahan yang besar terhadap daerah kita terjadi dengan pengusiran kekuasaan Belanda dari Indonesia oleh militer Jepang. Oleh karena Jepang kalah ia untuk sementara akan hilang dari alam politik Asia Tenggara ini, akan tetapi sebaliknya boleh dikatakan segala kedudukan Jepang itu akan jatuh ketangan Amerika Serikat yang sekarang telah menjadi kekuaan Pasifik yang jauh dan terbesar. Terhadap politik Inggris yang telah lebih dari seabad umurnya ia sekarang merasakan dirinya di seluruh Asia dan juga di negeri kita sebagai perubah dan pembaru keadaan. Jika Inggris tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan politik Amerika Serikat yang dikuasai oleh hukum kehidupan kapitalismenya sendiri, nyata ia akhirnya akan kalah dengan tenaga Amerika Serikat. Nyata bahwa kekuasaan Belanda hingga waktu ini hanya suatu alat didalam percaturan politik Inggris. Nyata pula bahwa untuk politik Amerika Serikat kekuasaan Belanda atas negeri kita tidak sama dengan untuk politik Inggris. Didalam kebenaran ini berada kemungkinan untuk kita mendapat kedudukan baru yang cocok dengan kehendak politik kekuatan raksasa Pasifik Amerika Serikat ini, akan tetapi juga batas kemungkinan bagi kita selama susunan dunia berupa kapitalistis dan imperialistis seperti sekarang. Selama itu kita tetap akan berada didalam dan diliputi oleh alam imperialisme-kapitalisme Amerika-Inggris, dan bagaimana juga usaha kita, kita sendiri tidak akan cukup tenaga untuk meruntuhkan alam itu, yang akan dapat memberi kita kemerdekaan yang sepenuh-penuhnya. Oleh karena itu maka nasib Indonesia, lebih daripada nasib bangsa-bangsa lain di dunia tergantung pada keadaan dan sejarah internasional dan lebih pula dari bangsa lain, bangsa kita memerlukan berubahnya dasar-dasar pergaulan hidup kemanusiaan, yang akan menghilangkan imperialisme dan kapitalisme di dunia ini.

Selama ini belum terjadi, maka perjuangan kebangsaan kita tidak akan dapat memuaskan sepenuh-penuhnya, serta kemerdekaan yang kita dapat, jika kita peroleh sepenuhnya terhadap Belanda, pun hanya berupa kemerdekaan seperti yang terlihat pada lain-lain negeri kecil, yang dibawah pengaruh negeri kapitalis besar, yaitu berupa kemerdekaan nama saja.

      Revolusi Kerakyatan
Revolusi kita ini yang keluar berupa revolusi nasional, jika dipandang dari dalam berupa revolusi kerakyatan. Meskipun kita telah berpuluh tahun berada didalam lalu lintas dunia modern, meskipun masyarakat negeri kita telah sangat dirobah dan dipengaruhi olehnya, akan tetapi diseluruh kehidupan rakyat kita terutama di desa, alam kehidupan serta pikiran orang masih feodal. Penjajahan Belanda berpegang pada sisa-sisa feodalisme itu untuk menahan kemajuan sejarah bangsa kita. Begitu umpamanya pangrehpraja tak lain daripada alat yang dibuat oleh penjajah Belanda dari warisan feodal masyarakat kita. Berupa-rupa aturan yang dilakukan atas rakyat kita tak lain daripada lanjutan yang lebih teratur dari kebiasaan feodal, demikian penghargaan yang begitu rendah terhadap diri orang desa, yang masih dipandang setengah budak-belian, bukan saja dalam mata kaum ningrat kita, akan tetapi juga didalam pandangan kaum penjajah Belanda.

Penjajahan Belanda itu mencari kekuatannya dengan perkawinan ratio-modern dengan feodalisme Indonesia, menjadi akhirnya contoh fasisme yang terutama yang terutama di dunia ini. Fasisme di tanah jajahan jauh mendahului fasisme Hitler ataupun Mussolini. Sebelum Hitler mengadakan consentratie kamp Buchenwald atau Belzen, Boven-Digul sudah lebih dahulu diadakan. Oleh karena itu maka pergerakan rakyat kita dari sejak mula didalam menentang penjajahan asing sebenarnya menentang feodal-bureaukratie dan akhirnya autokratie dan fasisme jajahan Belanda, dan oleh karena itu pergerakan kerakyatan yang sejati. Tuntutan kedaulatan rakyat didalam pergerakan kita itu memang sebagai gambaran yang sebenarnya tentang persoalan bangsa kita terhadap penjajahan asing yang autokratis dan fasistis itu. Rakyat didalam perjuangan sebagai bangsa menuntut hak-hak kemanusiaannya, yang akan memberi jaminan, bahwa ia tak akan diperlakukan lagi sebagai budak belian.

Oleh karena itu maka didalam pandangan kita revolusi kita sekarang adalah revolusi nasional dan revolusi kerakyatan yang bersangkutan dengan alam feodal di negeri dan di masyarakat kita, terutama di desa. Akan tetapi tentu saja kita tak dapat menyamakan revolusi kita ini dengan umpamanya revolusi Perancis. Kita berada di dalam dunia yang telah dapat mempergunakan atom, dengan tehnik dan susunan serta kepintaran yang sama sekali tak dapat disamakan dengan dunia dan keadaan waktu jaman revolusi Perancis. Masyarakat kita sendiri mengenal susunan trust dan kartel, telegrap, radio, pabrik-pabrik dan perusahaan kapital besar seperti minyak dan lain-lain yang menyatakan pada kita, bahwa meskipun kita menetapkan bawa revolusi kita ini revolusi kerakyatan, sekali-kali jangan keliru hingga hendak menyamakannya dengan revolusi Perancis, didalam kedudukan dan kemungkinannya. Tatkala revolusi Perancis belum ada kapitalisme dan imperialisme dunia, seperti yang digambarkan diatas, serta dunia belum pula menjadi satu didalam perhubungan ekonomi seperti sekarang, dan pula susunan dan kedudukan masyarakat serta negeri Perancis berbeda sama sekali dengan susunan dan kedudukan masyarakat dan negeri kia Indonesia sekarang.

Perancis serta revolusi Perancis adalah perintis serta pembuka jalan untuk dunia yang kapitalistis-imperialistis, sedangkan revolusi kita ini sebenarnya harus dipandang revolusi yang akan turut menutup sejarah kapitalis-imperialistis, sehingga perjuangan sosial yang telah berlaku didunia sebagai akibat dari sistem kapitalis-imperialistis, yang merupakan perjuangan kaum buruh, perjuangan kaum sosialistis dan segala kemenangan-kemajuannya, seperti terdapat di dunia pada waktu ini, tentu membedakan benar kedudukan revolusi kita dari revolusi Perancis yang hanya demokratis-burgerlijk itu.

Jadi memang revolusi kita ini tak dapat lain dari juga bercorak sosial. Bahwa didalam revolusi kita ini kaum buruh berkedudukan yang pada pokoknya lain daripada kaum buruh di negeri Perancis dijaman revolusi Perancis, meskipun dalam mentaliteitnya terdapat beberapa persamaan, yaitu tanda mudanya dan kekurangan kesadaran kelas.

Corak sosial revolusi kita ini menunjukkan pula kemungkinan sosial yang ada didalam revolusi kita. Sebab segala faktor ini dinamis. Tetapi seperti telah dikemukakan di atas segala-gala ini terutama bergantung pada keadaan serta kemungkinan internasional, untuk negeri kita. Subjektif memang corak sosial revolusi kita akan lebih jelas dan mendalam, akan tetapi objektif kemungkinan berlanjutnya akan sama sekali tergantung daripada perubahan-perubahan yang akan berlaku didunia. Batas-batasnya telah saya kemukan di atas.

      Revolusi nasional
Keluar bentuk revolusi berupa nasional, ke dalam menurut hukum masyarakat demokratis dengan corak sosial. Jika kurang memahamkan kebenaran sehingga ke dalam pun yang kita anjurkan hanya revolusi nasional saja dengan tidak ada atau kurang pengertian tentang kedudukan demokrasi didalam pengubahan masyarakat.

Bahaya sangat besar bahwa kita, oleh karena tidak dapat mengukur musuh kita feodalisme, kita berkawan dengan semangat feodalisme yang masih hidup menjadi nasionalisme yang mempunyai semacam solidarisme, yaitu solidarisme-fodal (yang hierarchis) menjadi fasisme alias musuh kemajuan dunia dan rakyat yang sebesar-besarnya. Ideologi yang kelihatan seperti kacau sekarang kerap kali tampak sebagai semacam nasionalisme atau nasional-komunisme ala Hitler atau Mussolini. Oleh karena itu maka didalam menyusun kekuatan masyarakat dalam revolusi nasional, kita tidak boleh lupa mengadakan revolusi-demokrasi, revolusi nasional hanya merupakan hasil dari revolusi-demorasi kita. Bukan nasionalisme harus nomor satu akan tetapi demokrasi, meskipun kelihatannya lebih gampang kalau orang banyak dihasut membenci orang asing saja. Memang benar bahwa cara demikian buat sementara berhasil (lihat saja sukses Mussolini, Hitler, Franco, Chiang Kai Sek dll.), akan tetapi untuk kemajuan masyarakat perbuatan demikian tetap reaksioner dan bertentangan dengan kemajuan dunia dan perjuangan sosial seluruh dunia. Orang yang menganjurkannya tetap musuh rakyat, meskipun sedikit waktu didewakan rakyat seperti Hitler danMussolini.

      Revolusi dan Pembersihan
Dengan penentuan alam perjuangan kita seperti di atas, maka nyata bahwa revolusi kita ini harus dipimpin oleh golongan demokratis yang revolusioner dan bukan oleh golongan nasionalistis yang pernah membudak kepada fasis-fasis lain, fasis kolonial Belanda atau fasis militer Jepang.

Perjuangan demokrasi revolusioner itu memulai dengan membersihkan diri dari noda-noda fasis Jepang, mengungkung penglihatan orang-orang yang masih jiwanya terpengaruh oleh propaganda Jepang dan didikan Jepang. Orang-orang yang sudah menjual jiwa dan kehormatannya kepada fasis Jepang disingkirkan dari pimpinan revolusi kita (orang-orang yang pernah bekerja didalam propaganda, polisi rahasia Jepang, umumnya didalam usaha kolone kelima Jepang). Orang-orang ini harus dianggap sebagai pengkhianat perjuangan dan harus dibedakan dari kaum buruh biasa yang bekerja hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi sekalian kolaborasi politik dengan fasis Jepang seperti yang disebutkan diatas harus dipandang sebagai fasis sendiri atau perkakas dan kaki tangan fasis Jepang dan tentu sudah berkianat pada perjuangan dan revolusi rakyat.

Negara Republik Indonesia yang kita jadikan alat dalam revolusi rakyat kita, harus kita jadikan alat perjuangan demokratis, dibersihkan dari sisa-sisa Jepang dan fasismenya.

      Memperjuangkan Isi Kemerdekaan
Negara Republik Indonesia yang kita perjuangkan sebagai alat didalam revolusi kerakyatan kita mendapat harga yang penuh, jika kita isi dengan kerakyatan yang tulen. Bagi kita kemenangan yang berarti itu ialah kemenangan yang berisi, bukan kemenangan nama dan kehormatan saja. Pedoman yang sebenarnya untuk perjuangan politik kita harus ditujukan kepada isi itu. Perjuangan kebangsaan pada umumnya, tak luput daripada bahaya terlalu terpengaruh oleh nama dan rupa. Oleh karena itu kerap kali apa yang dinamakan kemenangan kebangsaan itu, terbukti kosong untuk rakyat banyak. Jika kita hargakan Indonesia Merdeka kita dengan harga demokrasi tulen, maka didalam perjuangan politik kita terhadap dunia, isinya itu yang dipertarungkan. Negara Republik Indonesia hanya nama yang kita berikan pada isi yang kita maksudkan dan kehendakkan itu.

      Pembencian Bangsa Asing
Salah satu hal yang terpenting didalam perjuangan kita adalah sikap dan politik kita terhadap golongan-golongan yang agak mengasing diantara penduduk negeri kita, yaitu orang-orang asing, orang peranakan, Eropa atau Asia, orang yang beragama Kristen, orang Ambon, Menado dan sebagainya. Hingga sekarang kita belum mempunyai sikap dan politik yang memuaskan terhadap semua golongan ini. Malah dihari kemudian ini terjadi hal-hal yang terang salah dan merusakkan pada perjuangan kerakyatan kita. Sifat membenci pada golongan dan bangsa asing itu, memang suatu sifat yang tersembunyi dalam tiap-tiap gerakan kebangsaan, terlebih pada golongan atau bangsa yang rupanya berkedudukan dengan privilese, akan tetapi tiap gerakan kebangsaan yang memabukkan dirinya dengan nafsu membenci bangsa-bangsa asing untuk mendapat kekuatan, niscaya pada akhirnya akan berhadapan dengan seluruh dunia dan kemanusiaan. Nafsu kebangsaan yang pada mulanya dapat merupakan suatu kekuatan itu mesti tiba pada satu jalan buntu dan akhirnya mencekik dirinya sendiri dalam suasana jibaku. Kekuatan yang kita cari, adalah pada pengobaran perasaaan keadilan dan kemanusiaan. Hanya semangat kebangsaan yang dipikul oleh perasaan keadilan dan kemanusiaan dapat mengantar kita maju dalam sejarah dunia.

Sebab pada akhirnya semua kebangsaan harus menemui ajalnya didalam suatu kemanusiaan yang meliputi seluruh dunia menjadi satu bangsa yaitu bangsa manusia yang hidup didalam pergaulan yang berdasarkan keadilan dan kebenaran, tidak lagi terbatas oleh perasaan-perasaan sempit yang memecah manusia sesama manusia oleh karena kulitnya berlainan warna, atau oleh karena turunan darahnya berlainan.

Pada habisnya perasaan-perasaan sempit ini sebagai pendorong tindakan dan kelakuan kita, baru habis ikatan buta kita pada sejarah kebiadaban kita. Baru kita dapat melihat terang perbedaan antara cinta pada tanah air dan perasaan membenci orang asing atau membenci golongan-golongan dalam negeri kita yang sebagai perbuatan sejarah terasing atau mengasingkan diri oleh karena turunan darahnya, darah yang bodoh dan darah yang biadab itu. Sikap kita terhadap sekalian ini harus berdasar penglihatan kemasyarakatan, berdasar atas penyelidikan yang jujur dan perhitungan didalam berbakti kepada cita-cita kemanusiaan dan keadilan sosial.

      Kaum Buruh
Pada tingkatan kapitalisme ini dimana kapital dunia mengalami konsentrasi yang lebih besar, terutama di New York dan London, maka segenap produksi dunia yang kapitalistis lebih dahulu dikuasai oleh satu atau dua pusat kapital, terutama Wallstreet. Sebagai akibat peperangan ini maka boleh dikatakan seluruh dunia terikat hutang pada Wallstreet itu. Hal ini membuat bahwa kedudukan dan kekuatan dunia itu menjadi sungguh-sungguh internasional. Oleh karena itu maka pertahanan dan perjuangan kaum buruh terhadapnya hanya akan dapat berhasil baik, jika disusun dengan mengakui kenyataan ini. Susunan dan perjuangan kaum buruh pun harus berdasarkan internasional.

Kaum buruh kita sekarang menunjukkan perjuangan pada pertahanan Negara Indonesia Merdeka. Hal ini sudah selayaknya, akan tetapi didalam itu perlu kita kemukakan kebenaran yang di atas, oleh karena didalam perjuangan selanjutnya solidaritas kebangsaan kaum buruh itu mesti dapat meningkatkan diri seukur dengan perjuangan kaum buruh di dunia seluruhnya. Bagi kaum buruh semangat kebangsaan yang meluap-luap itu dapat menjadi halangan untuk melihat perjuangan internasionalnya dan penghargaan serta kesadaran tentang kedudukan didalam masyarakat kapitalis, sehingga membawanya ke jurusan yang salah dan memundurkan dan melemahkan kedudukannya. Untuk menghindarkan bahaya, bahwa didalam perjuangan kebangsaan ia melupakan dan melepaskan dasar-dasar perjuangan sendiri, sehingga mudah tertipu dan diperkuda golongan masyarakat yang lain, maka juga didalam perjuangan kebangsaan kaum buruh harus tahu memperjuangkan kedudukannya sebagai orang Indonesia dengan caranya sendiri, yaitu didalam susunan buruh dengan alat-alat perjuangan kaum buruh. Semangat yang perlu untuk dapat mengadakan perjuangan secara itu, ialah semangat kelasnya dan solidaritas kelasnya yang tidak boleh dilemahkan oleh semangat kebangsaan. Syarat-syarat untuk dapat menjernihkan kedudukannya itu adalah didalam perjuangan politiknya kaum buruh menuntut segala hak kerakyatan yang sepenuhnya, pun juga dari Negara Indonesia Merdeka sendiri, hak berbicara, menulis, berkumpul, berapat, bermogok, kepastian pencaharian, keadaan kesehatan, pelajaran untuk anak-anaknya, ketentuan gaji dan sebagainya. Kesadaran dan pengertian kelas itu harus terus diperdalam dan diperkuat hingga pada satu saat yang secepat-cepatnya dapat menjadi perasaan dan kesadaran kelas internasional, sehingga mudah dapat rapat pada saat penggabungan perjuangan kaum buruh kita dengan gabungan kaum buruh internasional.
Susunan serikat sekerja harus disusun menurut ukuran modern, yaitu didalam jalur industri, pendidikan kaum buruh harus sesuai dengan keperluan perjuangannya, yaitu setingkat pada kesadaran dan pengertian perjuangan internasional untuk menyusun dunia yang sosialistis.

Didalam berjuang untuk kemerdekaan Indonesia kaum buruh sejalan harus berjuan untuk mendapatkan kedudukannya sendiri yang terkuat, supaya sanggup menjadi pelopor didalam perjuangan menentang imperialisme di Indonesia ini dan memperkuat perjuangan kaum buruh internasional terhadap kapitalisme dunia.

      Kaum Tani
Bagi kaum tani kita perjuangan kemerdekaan ini hanya akan berarti jika kerakyatan dirasakan olehnya. Jika revolusi bangsa Indonesia yang sedang berlangsung sepenuhnya dapat dirasakan sebagai revolusi kerakyatan bagi Pak Tani sehingga ia tak dapat diperlakukan sewenang-wenang lagi oleh pemerintahan, sehingga ia dapat mengecap hasil keringatnya sepenuhnya dan tidak diganggu dengan rupa-rupa aturan yang dimaksudkan untuk menyenangkan orang yang memerintah. Revolusi kita harus memberantas feodalisme di luar kota-kota yang berupa tuan tanah, aturan pemerintahan feodal, pengerahan tenaga dan hasil orang tani secara feodal seperti digunakan oleh penjajahan Belanda. Penduduk desa sudah sesak padat, sehingga meskipun penghasilan tanah di Jawa dikerjakan dengan kekuatan yang sepenuhnya, untuk memberi makan penduduknya masih tak mencukupi untuk mempertinggi kehidupan rakyat kita umumnya.

Hal ini lebih hari lebih mendesak. Selain dari ikhtiar untuk membagi penduduk Indonesia lebih rata pada kepulauan Indonesia dengan interimigrasi, maka menilik bangun dan kedudukan pulau Jawa tak dapat dihindarkan, bahwa jawab yang langsung pada soal penduduk dan penghasilan di Jawa adalah industrialisasi. Jika kelebihan jiwa di desa dikurangkan sehingga desa lapang untuk meninggikan kehidupan dengan jalan usaha bersama (kooperasi), maka dengan industrialisasi yang diadakan menurut rencana dibawah pimpinan pemerintah, sebagian besar kelebihan jiwa di desa dapat menghadapi kehidupan sebagai pekerja pabrik yang tetap bertambah baik dengan bertambahnya kemakmuran Indonesia umumnya, terutama dengan dasar kehidupan Pak Tani yang makmur. Pemerintahan di desa disehatkan dengan melaksanakan kerakyatan yang sempurna dengan menggunakan kebiasaan lama juga, pemilihan, rapat desa, yang diberi kekuasaan sepenuhnya dan ditambah kecerdasannya dengan mempertinggi pelajaran dan pendidikan didesa. Mengadakan pimpinan didalam segala usaha desa, memperbaharui dasar masyarakat kita, membawa rasionalisasi dan efisiensi, yang akan merombak tradisi di desa, supaya dengan tidak menjalani kehidupan kota dan pabrik, juga didesa timbul modernisasi, elektrifikasi dan mesin pun dapat masuk menolong manusia di desa, mempertinggikan derajat kehidupan manusia.

Sarekat Tani yang harus didirikan harus menjadi perintis didalam mencocokkan semangat kaum tani pada tempo yang kita kehendaki itu. Persatuan tani memudahkan tidak saja urusan ini secara teratur dan besar-besaran, akan tetapi juga memudahkan persatuan dan perhubungannya dengan persatuan kaum buruh.

      Pemuda
Soal yang kelihatan besar pada waktu ini adalah soal pemuda. Tak dapat dipungkiri, bahwa kelihatannya kebangunan kebangsaan yang kita alami ini, seolah-olah digugat oleh pemuda-pemuda kita. Seolah-olah mereka yang menentukan tempo perjuangan kita. Seolah-olah revolusi yang kita alami sekarang ini, bermula pada semangat dan kekerasan hati pemuda, jadi didorong oleh cita-cita semata-mata. Ini semua sepintas lalu. Akan tetapi jelaslah dari apa yang diuraikan diatas, bahwa kemungkinan meluapnya semangat pemuda itu dan kemungkinan disambutnya oleh masyarakat itu, adalah terletak pada keadaan masyarakat sendiri. Bagaimana keadaan itu telah digambarkan dengan singkat di atas, akan tetapi nyata pula bahwa kaum pemuda, terutama yang terpelajar yang sekarang berkobar-kobar dengan semangat kebangsaan tak akan dapat menjalankan terus kewajibannya sebagai perintis, jika semangat kebangsaannya itu tidak diisi dengan semangat kerakyatan dan semangat kemasyarakatan. Jika tidak, ia akan menemui jalan buntu yang dihadapi tiap-tiap semangat kebangsaan. Ia akan menemui saat, ia tidak akan dituruti lagi oleh rakyat ataupun ia akan ditentang. Dan ia akan mengalami bahwa bukan serdadu yang akan memenangi revolusi kita ini, akan tetapi rakyat banyak, kaum buruh dan kaum tani bersama-sama dengan kaum terpelajar, kaum muda. Saat kaum muda ini meluaskan pandangannya kepada dasar-dasar masyarakat telah tiba, dan pada itu ia harus mengerti, bahwa tenaga perjuangan tidak terpusat diantara angkatan muda, akan tetapi pada rakyat banyak, terutama pada kaum buruh yang tersusun serta mempunyai kesadaran yang tajam, pengertian tentang perjuangan buruh di dunia umum. Jika pemuda-pemudi kita mengerti hal ini, ia tahu bahwa kedudukannya ada sebagai pahlawan kaum buruh dan kaum tani.

Nyata bahwa anggapan, yang angkatan muda harus memimpin perjuangan kemerdekaan kita, suatu kekeliruan yang akan dapat merusak perjuangan kita. Yang harus memimpin revolusi kita ini tidak lain daripada pusat kekuatan politiknya, merupakan partai kerakyatan yang revolusioner, pada larasnya angkatan muda hanya dapat menjadi lasykar perintis dari partai yang memimpin perjuangan. Keliru pula sama sekali orang yang mengirakan bahwa pemuda yang tergabung didalam ikatan balatentara, yaitu barisan dan pimpinan militer yang akan dapat memimpin revolusi kita. Kekeliruan ini dapat dimengerti. Tahun-tahun yang kemudian ini kita terlalu merasakan kekuasaan militer. Tak urung hal ini dan didikan militer yang diberikan pada pemuda-pemuda serta rakyat kita umumnya, dapat menimbulkan kekeliruan, seolah-olah perjuangan kita ini perjuangan militer yang harus dipimpin orang militer. Hanya pengertian tentang dasar kemasyarakatan perjuangan kita ini dapat menghindarkan kekeliruan ini. Pemuda kita tak mungkin berpembawaan fasistis atau feodal militeristis. Pengertian yang masih kurang benar didalam segala-galanya hal terhadap soal ini diselenggarakan. Sedang pemuda berjuang sekarang ini harus pengertiannya diisi dan penglihatannya dirobah supaya ia jangan merendah menjadi binatang berkelahi saja, akan tetapi dapat menjadi pemuda revolusioner yang menghadapi dunia baru, pemuda yang bercita-cita dan mempunyai kesadaran serta pengertian yang jernih tentang duduk perjuangannya untuk rakyat kita serta kemanusiaan umumnya.

1    Tentara
Meskipun demikian didalam keadaan dunia yang sekarang ini, memang perlu kita mempertinggi kesanggupan kita membela tanah air serta rakyat kita dengan susunan pertahanan yang selengkapnya. Kita memerlukan balatentara yang teratur menurut ukuran jaman sekarang. Pemuda kita seluruhnya harus dididik didalam kesanggupan itu. Oleh karena itu bukan saja kita memerlukan balatentara yang tersusun dan bersenjata modern, akan tetapi juga latihan militer segenap rakyat kita, terutama pemuda. Selekas mungkin kita harus dapat mengadakan milisi untuk rakyat kita, pada mana seluruh pemuda dari umur tertentu harus melalui latihan militer yang lamanya tertentu. Oleh karena syarat-syarat serta alat-alat yang terbatas serta segala syarat dan alat yang kurang dilengkapi. Terutama sekali tentunya harus diadakan pendidikan. Si pendidik yaitu akademi darat dan laut. Dalam hal ini kekurangan dalam negeri dapat dilengkapi dengan pertolongan dari luar negeri untuk dijadikan guru dan instruktur. Untuk melengkapi alat pertahanan yang berupa persenjataan, pantas kita didalam keadaan kita sekarang mengorbankan lain-lain keperluan. Pembikinan dan pembelian senjata itu dimasukkan dalam hal terutama didalam keadaan sekarang. Akan tetapi dengan pengakuan bahwa pengertian perkara dengan secara militer ini, sekali-kali kita tidak boleh melupakan sekejap mata perjuangan apa yang dikemukakan di atas, bahwa sekali-kali tak boleh kita keliru didalam penghargaan hal militer ini didalam revolusi. Dalam perjuangan kita yang berupa dan memakai alat Negara Indonesia, kita terpaksa harus mengadakan alat perjuangan kenegaraan yaitu balatentara. Itu tak boleh berarti bahwa kita menjadi abdi kenegaraan atau kemiliteran, alias fasis dan militeristis.

Batas-batas hal ini, dengan semangat revolusi kerakyatan kita harus ditajamkan sehingga jangan kita membunuh semangat serta revolusi kita, oleh karena kita sesat pada militerisme dan fasisme.