TutupJangan Lupa Klik Like Dan Follow ya!

Saturday, March 19, 2016

Otto Iskandar Dinata "si Jalak Harupat"

Image result for otto iskandar dinata
 





“Yen Dewi Sartika jeung Oto Iskandar Dinata kudu dipieling ku urang Sunda saban taun minangka Ibu jeung Bapa Sunda” (Kongres Pamuda Sunda, 5-7 November 1956)

Bapa Sunda merupakan sebuah bentuk pengakuan komunitas masyarakat Sunda kepada Pahlawan Nasional asal Kabupaten Bandung ini. Perjalanan panjang bangsa ini dalam memperjuangkan kemerdekaan, diantaranya tidak terpisahkan dari  peran dan kontribusi tokoh yang satu ini. Sejarah mencatat begitu banyak jasa yang telah diberikan oleh Si Jalak Harupat dalam ruang lingkup nasional pada fase perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia maupun dalam memajukan etnis  masyarakat Sunda terutama dalam bidang pendidikan, melalui sepak terjangnya di Organisasi Paguyuban Pasundan kurun waktu periode 1931 sampai dibubarkan oleh pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942.

Bojong Soang merupakan tempat kelahiran R. Otto Iskandar Dinata. Tepatnya pada tanggal 31 Maret 1897 dari pasangan Raden Haji Rachmat Adam, yang pada waktu itu merupakan Kuwu Desa Bojongsoang  dan ibunda yang bernama Nyi Raden Siti Hatijah.

Perjalanan Sang Tokoh
Dari beberapa literatur bacaan tentang pejuang yang namanya diabadikan menjadi nama ruas jalan di kota-kota di Indonesia ini, tidak pernah terungkap dimana beliau  menamatkan sekolah  pendidikan dasarnya (Sekolah Rakyat). Sejarah baru mencatat untuk Kweek School Onderbouw-nya (Sekolah Guru Bawah) ditempuh di Bandung, kemudian melanjutkan pendidikan di kota Purworejo, yaitu Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas). Pada masa pendidikan di SGA, R. Otto mulai  sering membaca koran De Express yang kita tahu koran ini diasuh oleh Douwes Dekker. Kegiatan membacanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Koran sehabis dibaca diselipkan di bantal tempat tidurnya. Ini dilakukan karena koran tersebut dianggap ilegal dan dilarang keras untuk beredar oleh Pemerintah Kolonialisme Belanda pada saat itu.

Pada tahun 1923, setelah beberapa tahun mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di salah satu sekolah di Jawa Tengah, Si Jalak Harupat menikah dengan muridnya sendiri yang bernama Soekirah, putri asisten Wedana di Bojonegoro.

Tahun 1923, mulailah beliau terlibat di organisasi besar pada jamannya dengan masuk menjadi anggota perkumpulan Boedi Oetomo cabang Bandung, kiprahnya tidak tanggung-tanggung beliau langsung menjadi salah satu tokoh sentral di organisasi tersebut dengan menjadi Wakil Ketua, dan menjadi Ketua pada bulan Desember tahun 1928.

Setelah aktif  berkiprah di Boedi Oetomo, tahun 1931 beliau aktif pula di Paguyuban Pasundan dan pada tahun itu juga terpilih menjadi Ketua pengurus besar organisasi tersebut di Bandung. Tahun 1931-1941 dilantik menjadi anggota Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat). Kemudian menjadi anggota BPUPKI sekaligus ikut merancang UUD 1945. Dalam sidang PPKI tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1945 menjadi orang pertama yang mengusulkan agar Soekarno-Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Setelah Indonesia merdeka R. Otto Iskandar Dinata dipercaya oleh Presiden pada saat itu untuk memangku jabatan sebagai  Menteri Negara Urusan Keamanan.

Meninggal dunia secara tragis
Ketika menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Keamanan, keadaan Pemerintahan Republik Indonesia belum stabil. Pemberontakan di dalam negeri dan adanya rongrongan dari Pemerintah Imperialis Belanda yang masih ingin menancapkan kukunya di Nusantara menyebabkan situasi negara menjadi tidak aman. Keadaan menyebabkan adanya saling curiga diantara tokoh dan pejabat negara selama kurun waktu yang tidak menentu tersebut.

Pencetus jargon perjuangan Indonesia yang sangat populer di kalangan pejuang kala itu yaitu pekik “Merdeka” meninggal dunia secara tragis dengan cara dibunuh, setelah sebelumnya ditahan selama sepuluh hari.  Tepatnya tanggal 10 Desember 1945 diculik oleh Laskar Hitam atas tuduhan sebagai mata-mata Jepang.

Empat bulan sebelum dibunuh, seperti sudah ada firasat. Pejuang yang nama julukannya disematkan sebagai nama sebuah stadion sepak bola di Kabupaten Bandung, melalui ucapannya yang di kutif oleh Surat Kabar Tjahaya Edisi 21 Agustus 1945 mengatakan “Kalaoe Indonesia Merdeka boleh diteboes dengan djiwa seorang anak Indonesia, Saja telah memadjoekan diri sebagai kandidat jang pertama oentoek pengorbanan ini” (Buku Si Jalak Harupat, Biografi R. Otto karya Prof. Dr. Hj. Nina Lubis).

Kematian tokoh yang satu ini tidak serta-merta dapat terungkap, baik motif dibalik pembunuhan maupun otak dari pelaku pembunuhan tersebut. Hal ini mungkin bisa dimaklumi karena keadaan negara yang masih darurat. Setelah 11 tahun baru pelakunya bisa ditangkap. Tepatnya pada tahun 1956. Melalui kerja keras yang tidak kenal menyerah,  Komisaris Polisi II Moch. Enduh berhasil menangkap pelaku yang merupakan anggota Laskar Hitam, yaitu Mujitaba. Meskipun kasusnya dilanjutkan ke Meja Hijau, namun motif dan otak pelaku dibalik pembunuhan sampai sekarang masih samar dan belum terungkap. Disinyalir Mujitaba hanyalah orang yang disuruh untuk melakukan pembunuhan itu.

Figur Tokoh Sunda sepanjang masa
Si Jalak Harupat, merupakan nama julukan bagi R. Otto Iskandar Dinata. Julukan tersebut disematkan karena keberaniannya dalam berbicara dan bertindak. Bukan hanya musuh yang takut dibuatnya. Teman seperjuangannya pun segan dan hormat kepada beliau. Kharisma dan keberaniannya di kalangan tokoh pemimpin Sunda hanya bisa disamai oleh Pangeran Kornel dari Sumedang.

Kepemimpinan dan kecintaannya terhadap komunitas ke-Sunda-an dibuktikan melalui Paguyuban Pasundan (PP) yang dipimpinnya, dalam rentang waktu tahun 1931 sampai 1942, PP telah berhasil membangun 51 unit sekolah ber-arsitektur  Julang Ngapak yang tersebar di 36 daerah Jawa Barat dan Banten.
 
~ Dadi Margana ~
sumber : https://smknegri3cimahiutara.wordpress.com/suara-siswa/

Saturday, March 5, 2016

Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (Soekarno, 1940)

Dikutip dari majalah Panji Islam tahun 1940

Buat nomor Maulud ini Redaksi ”Panji Islam” minta kepada saya supaya saya menulis satu artikel tentang: ”Nabi Muhammad sebagai Pembangun Masyarakat!” Permintaan redaksi itu saya penuhi dengan segala kesenangan hati. Tetapi dengan sengaja saya memakai titel yang lain daripada yang dimintanya itu, yakni untuk memusatkan perhatian pembaca kepada pokoknya saya punya uraian nanti.

Nabi Muhammad memang salah seorang pembangun masyarakat yang maha-maha-haibat. Tetapi tiap-tiap hidung mengetahui, bahwa masyarakat abad ke-tujuh Masehi itu tidak sama dengan masyarakat abad ke-duapuluh yang sekarang ini.

Hukum-hukum diadakan oleh Nabi Muhammad untuk membangunkan dan memeliharakan masyarakat itu, tertulislah di dalam Qur’an dan Sunah (Hadits). Hurufnya Qur’an dan Hadits itu tidak berobah, sebagai juga tiap-tiap huruf yang sudah tertulis satu kali: buat hurufnya Qur’an dan Sunah malahan “teguh selama-lamanya, tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas”.

Tetapi masyarakat selalu berobah, masyarakat selalu berevolusi. Sayang sekali ini tidak tiap-tiap hidung mengetahui. Sayang sekali, sebab umpamanya tiap-tiap hidung mengetahui, maka niscaya tidaklah selalu ada konflik antara masyarakat itu dengan orang-orang yang merasa dirinya memikul kewajiban menjaga aturan-aturan Qur’an dan Sunah itu, dan tidaklah masyarakat Islam sekarang ini sebagai seekor ikan yang terangkat dari air, setengah mati megap-megap!

Nabi Muhammad punya pekerjaan yang maha-maha-haibat itu bolehlah kita bahagikan menjadi dua bahagian: bahagian sebelum hijrah, dan bahagian sesudah hijrah.

Bahagian yang sebelum hijrah itu adalah terutama sekali pekerjaan membuat dan membentuk bahannya masyarakat Islam kelak, material buat masyarakat Islam kelak : yakni orang-orang yang percaya kepada Allah yang satu, yang teguh imannya, yang suci akhlaknya, yang luhur budinya, yang mulia perangainya. Hampir semua ayat-ayat Qur’an yang diwahyukan di Mekkah itu adalah mengandung ajaran-ajaran pembentukan rohani ini : tauhid, percaya kepada Allah yang Esa dan Maha-Kuasa, rukun-rukunnya iman, keikhlasan, keluhuran moral, keibadatan, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada si miskin, berani kepada kebenaran, takut kepada azabnya neraka, lazatnya ganjaran syurga, dan lain-lain sebagainya yang perlu buat menjadi kehidupan manusia umumnya, dan pandemen rohaninya perjoangan serta masyarakat di Madinah kelak.

92 daripada 114 surat, hampir 2/3 Qur’an adalah berisi ayat-ayat Mekkah itu. Orang-orang yang dididik oleh Muhammad dengan ayat-ayat serta dengan sunah dan teladannya pula, menjadilah orang-orang yang tahan-uji, yang gilang-gemilang imannya serta akhlaknya, yang seakan-akan mutiara di kala damai, tetapi seakan-akan dinamit di masa berjoang. Orang-orang inilah yang menjadi material-pokok bagi Muhammad untuk menyusun Ia punya masyarakat kelak dan Ia punya perjoangan kelak.

Maka datanglah kemudian periode Madinah. Datanglah kemudian periodenya perjoangan-perjoangan dengan kaum Yahudi, perjoangan dengan kaum Mekkah. Datanglah saatnya Ia menggerakkan material itu, ditambah dengan material baru, antaranya kaum Ansar mendinamiskan material itu ke alam perjoangan dan kemasyarakatan yang teratur. Bahan-bahan rohani yang Ia timbun-timbunkan di dalam dadanya kaum Muhajirin, kaum Ansar serta kaum-Islam baru itu, dengan satu kali perintah sahaja yang keluar dari mulutnya yang Mulia itu, menjadilah menyala-nyala berkobar-kobar menyinari seluruh dunia Arab.

“Pasir di padang-padang-pasir Arabia yang terik dan luas itu, yang beribu-ribu tahun diam dan seakan-akan mati, pasir itu sekonyong-konyong menjadilah ledakan mesiu yang meledak, yang kilatan ledakannya menyinari seluruh dunia”, begitulah kira-kira perkataan pujangga Eropah Timur Thomas Carlyle tatkala ia membicarakan Muhammad.
Ya, pasir yang mati menjadi mesiu yang hidup, mesiu yang dapat meledak. Tetapi mesiu ini bukanlah mesiu untuk membinasakan dan menghancurkan sahaja, tidak untuk meleburkan sahaja perlawanannya orang yang kendati diperingatkan berulang-ulang, sengaja masih mendurhaka kepada Allah dan mau membinasakan agama Allah. Mesiu ini jugalah mesiu yang boleh dipakai untuk mengadakan, mesiu yang boleh dipakai untuk scheppend-werk, sebagai dinamit di zaman sekarang bukan sahaja boleh dipakai untuk musuh, tetapi juga untuk membuat jalan biasa, jalan kereta-api, jalan irigasi - jalannya keselamatan dan kemakmuran. Mesiu ini bukanlah sahaja mesiu perang tetapi juga mesiu kesejahteraan.

Di Madinah itulah Muhammad mulai menyusun Ia punya masyarakat dengan tuntunan Ilahi yang selalu menuntun kepadanya. Di Madinah itulah turunnya kebanyakannya “ayat-ayat masyarakat” yang mengisi 1/3 lagi dari kitab Qur’an. Di Madinah itu banyak sekali dari Ia punya sunah bersifat “sunah-kemasyarakatan”, yang mengasih petunjuk ditentang urusan menyusun dan membangkitkan masyarakat.

Di Madinah itu Muhammad menyusun satu kekuasaan “negara”, yang membuat orang jahat menjadi takut menyerang kepadaNya, dan membuat orang baik menjadi gemar bersatu kepadaNya. Ayat-ayat tentang zakat, sebagai semacam payak untuk membelanjai negara, ayat-ayat merobah qiblah dari Baitul Muqaddis ke Mekkah, ayat-ayat tentang hukum-hukumnya perang, ayat-ayat tentang pendirian manusia terhadap kepada manusia yang lain, ayat-ayat yang demikian itulah umumnya sifat ayat-ayat Madinah itu.

Di Mekkah turunlah terutama sekali ayat-ayat iman, di Madinah ayat-ayat mengamalkan itu iman. Di Mekkah diatur perhubungan manusia dengan Allah, di Madinah perhubungan manusia dengan manusia sesamanya. Di Mekkah dijanjikan kemenangan orang yang beriman, di Madinah dibuktikan kemenangan orang yang beriman.

Tetapi tidak periode dua ini terpisah sama sekali sifatnya satu dengan lain, tidak dua periode ini sama sekali tiada “penyerupaan” satu kepada yang lain. Di Mekkah adalah turun pula ayat-ayat iman. Tetapi bolehlah kita sebagai garis-umum mengatakan: Mekkah adalah persediaan masyarakat, Madinah adalah pelaksanaan masyarakat itu.

Itu semua terjadi di dalam kabutnya zaman yang purbakala. Hampir 14 kali 100 tahun memisahkan zaman itu dengan zaman kita sekarang ini. Ayat-ayat yang diwahyukan oleh Allah kepada Muhammad di Madinah itu sudahlah dihimpunkan oleh Sayidina Usman bersama-sama ayat-ayat yang lain menjadi kitab yang tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas, sehingga sampai sekarang masihlah kita kenali dia presis sebagai keadaannya yang asli. Syari’at yang termaktub di dalam ayat-ayat serta sunah-sunah Nabi itu, syari’at itu diterimakanlah oleh angkatan-angkatan dahulu kepada angkatan-angkatan sekarang, turun-temurun, bapak kepada anak, anak kepada anaknya lagi. Syari’at ini menjadilah satu kumpulan hukum, yang tidak sahaja mengatur masyarakat padang pasir di kota Jatrib 14 abad yang lalu, tetapi menjadilah satu kumpulan hukum yang musti mengatur kita punya masyarakat di zaman sekarang.

Maka konflik datanglah! Konflik antara masyarakat itu sendiri dengan pengertian manusia tentang syari’at itu. Konflik antara masyarakat yang selalu berganti corak, dengan pengertian manusia yang beku. Semakin masyarakat itu berobah, semakin besarlah konfliknya itu.

Belum pernah masyarakat begitu cepat robahnya sebagai di akhir abad yang ke-19 di permulaan abad yang ke-20 ini. Sejak orang mendapatkan mesin-uap di abad yang lalu, maka roman-muka dunia berobahlah dengan kecepatan kilat dari hari ke hari. Mesin-uap diikuti oleh mesin-minyak, oleh electriciteit, oleh kapal-udara, oleh radio, oleh kapal-selam, oleh tilpun dan telegraf, oleh televisi, oleh mobil dan mesin-tulis, oleh gas racun dan sinar yang dapat membakar. Di dalam 50 tahun sahaja roman-muka dunia, lebih berobah daripada di dalam 500 tahun yang terdahulu. Di dalam 50 tahun inipun sejarah-dunia seakan-akan melompati jarak yang biasanya dilalui sejarah itu di dalam 500 tahun. Masyarakat seakan-akan bersayap kilat.

Tetapi pengertian tentang syari’at seakan-akan tidak bersayap, seakan-akan tidak berkaki, seakan-akan tinggal beku, kalau umpamanya tidak selalu dihantam bangun oleh kekuatan-kekuatan-muda yang selalu mengentrok-entrokkan dia, mengajak dia kepada ”rethinking of Islam” di waktu yang akhir-akhir ini. Belum pernah dia ada konflik yang begitu besar antara masyarakat dan pengertian syari’at, seperti di zaman yang akhir-akhir ini.

Belum pernah Islam menghadapi krisis begitu haibat, sebagai di zaman yang akhir-akhir ini. ”Islam pada saat ini,” - begitulah Prof. Tor Andrea menulis di dalam sebuah majalah - ”Islam pada saat ini adalah sedang menjalani “ujian-apinya” sejarah. Kalau ia menang, ia akan menjadi teladan bagi seluruh dunia; kalau ia kalah, ia akan merosot ke tingkatan yang kedua buat selama-lamanya”.
Ya, dulu “zaman Madinah”, kini zaman 1940. Di dalam ciptaan kita nampaklah Nabi duduk dengan sahabat-sahabatnya di dalam rumahnya. Hawa sedang panas terik, tidak ada kipas listrik yang dapat menyegarkan udara, tidak ada es yang dapat menyejukkan kerongkongan, Nabi tidak duduk di tempat penerimaan tamu yang biasa, tetapi bersandarlah Ia kepada sebatang puhun kurma tidak jauh dari rumahnya itu.

Wajah mukanya yang berseri-seri itu nampak makin sedaplah karena rambutnya yang berombak-ombak dan panjang, tersisir rapih ke belakang, sampai setinggi pundaknya. Sorot matanya yang indah itu seakan-akan “mimpi”, seperti memandang ke satu tempat yang jauh sekali dari alam yang fana ini, melayang-layang di satu alam-gaib yang hanya dikenali Tuhan.

Maka datanglah orang-orang tamunya, orang-orang Madinah atau luar Madinah, yang sudah masuk Islam atau yang mau masuk Islam. Mereka semuanya sederhana, semuanya membawa sifatnya zaman yang kuno itu. Rambutnya panjang-panjang, ada yang sudah sopan, ada yang belum sopan. Ada yang membawa panah, ada yang mendukung anak, ada yang jalan kaki, ada yang naik onta, ada yang setengah telanjang. Mereka datanglah minta keterangan dari hal pelbagai masalah agama, atau minta petunjuk ditentang pelbagai masalah dunia sehari-hari. Ada yang menanyakan urusan ontanya, ada yang menanyakan urusan pemburuan, ada yang mengadukan hal pencurian kambing, ada yang minta obat, ada yang minta didamaikan perselisihannya dengan isteri di rumah.

Tetapi tidak seorangpun menanyakan boleh tidaknya menonton bioskop, boleh tidaknya mendirikan bank, boleh tidaknya nikah dengan perantaraan radio, tidak seorangpun membicarakan hal mobil atau bensin atau obligasi bank atau telegraf atau kapal-udara atau gadis menjadi dokter!

Nabi mendengarkan segala pertanyaan dan pengaduan itu dengan tenang dan sabar, dan mengasihlah kepada masing-masing penanya jawabnya dengan kata-kata yang menuju terus ke dalam rokh-semangatnya semua yang hadir. Di sinilah syari’atul Islam tentang masyarakat lahir kedunia, di sinilah buaian wet kemasyarakatan Islam yang nanti akan dibawa oleh zaman turun-temurun, melintasi batasnya waktu dan batasnya negeri dan samudra.

Di sinilah Muhammad bertindak sebagai pembuat wet, bertindak sebagai wetgever, dengan pimpinannya Tuhan, yang kadang-kadang langsung mengasih pimpinannya itu dengan ilham dan wahyu. Wet ini harus cocok dan mengasih kepuasan kepada masyarakat di waktu itu, dan cukup “karat”, cukup elastis, cukup supel, agar dapat tetap dipakai sebagai wet buat zaman-zaman di kelak kemudian hari. Sebab Nabi, di dalam maha-kebijaksanaannya itu insyaflah, bahwa Ia sebenarnya tidak mengasih jawaban kepada si Umar atau si Zainab yang duduk di hadapannya di bawah puhun kurma pada saat itu sahaja, Ia insyaf, bahwa Ia sebenarnya mengasih jawaban kepada Seluruh Peri-kemanusiaan.

Dan seluruh peri kemanusiaan, bukan sahaja dari zamannya Nabi sendiri, tetapi juga seluruh peri kemanusiaan dari abad-abad yang kemudian, abad ke-10, abad ke-20, ke-30, ke-40, ke-50 dan abad-abad yang masih kemudian-kemudian : Lagi yang masyarakatnya sifatnya lain, susunannya lain, kebutuhannya lain, hukum perkembangannya lain.

Maka di dalam maha-kebijaksanaan Nabi itu, pada saat Ia mengasih jawaban kepada si Umar dan si Zainab di bawah puhun kurma hampir 1400 tahun yang lalu itu, Ia adalah juga mengasih jawaban kepada kita. Kita, yang hidup di tahun 1940! Kita, yang hajat kepada radio dan listrik, kepada sistim politik yang modern dan hukum-hukum ekonomi yang modern, kepada kapal-udara dan telegraf, kepada bioskop dan universitas! Kita, yang alat-alat penyenangkan hidup kita berlipat-lipat ganda melebihi jumlah dan kwaliteitnya alat-alat hidup si Umar dan si Zainab dari bawah puhun kurma tahadi itu, yang masalah-masalah hidup kita berlipat-lipat ganda lebih sulit, lebih berbelit-belit, daripada si Umar dan si Zainab itu. Kita yang segala-galanya lain dari si Umar dan si Zainab itu.

Ya, juga kepada kita! Maka oleh karena itulah segala ucapan-ucapan Muhammad tentang hukum-hukum masyarakat itu bersifat syarat-syarat minimum, yakni tuntutan-tuntutan ”paling sedikitnya”, dan bukan tuntutan-tuntutan yang “musti presis begitu”, bukan tuntutan-tuntutan yang mutlak. Maka oleh karena itulah Muhammad bersabda pula, bahwa ditentang urusan dunia ”kamulah lebih mengetahui”.

Halide Edib Hanum kira-kira limabelas tahun yang lalu pernah menulis satu artikel di dalam surat-surat-bulanan ”Asia”. Yang antaranya ada berisi kalimat: “Di dalam urusan ibadat, maka Muhammad adalah amat keras sekali. Tetapi di dalam urusan yang lain, di dalam Ia punya sistim masyarakat, Ia, sebagai seorang wetgever yang jauh penglihatan, adalah mengasih hukum-hukum yang sebenarnya “liberal”. Yang membuat hukum-hukum masyarakat itu menjadi sempit dan menyekek nafas ialah consensus ijma’ ulama.”
Renungkanlah perkataan Halide Edib Hanum ini. Hakekatnya tidak berbedaan dengan perkataan Sajid Amir All tentang “kekaretan” wet-wet Islam itu, tidak berbedaan dengan pendapatnya ahli-tarikh-ahli-tarikh yang kesohor pula, bahwa yang membuat agama menjadi satu kekuasaan reaksioner yang menghambat kemajuan masyarakat manusia itu, bukanlah pembikin agama itu, bukanlah yang mendirikan agama itu, tetapi ialah ijma’nya ulama-ulama yang terkurung di dalam tradisi-pikiran ijma’-ijma’ yang sediakala.

Maka jikalau kita, di dalam abad ke-20 ini, tidak bisa mengunyah dengan kita punya akal apa yang dikatakan kita punya oleh Nabi kepada si Umar dan si Zainab di bawah puhun kurma hampir 1400 tahun,- jikalau kita tidak bisa mencernakan dengan akal apa yang disabdakan kepada si Umar dan si Zainab itu di atas basisnya perbandingan-perbandingan abad ke-20 dan kebutuhan-kebutuhan abad ke-20, maka janganlah kita ada harapan menguasai dunia, seperti yang telah difirmankan oleh Allah Ta’ala sendiri di dalam surat-surat ayat 29. Janganlah kita ada pengiraan, bahwa kita mewarisi pusaka Muhammad, sebab yang sebenarnya kita warisi hanyalah pusaka ulama-ulama faqih yang sediakala sahaja.

Di dalam penutup saya punya artikel tentang ”Memudakan Pengertian Islam” saya sudah peringatkan pembaca, bahwa segala hal itu boleh asal tidak nyata dilarang.

Ambillah kesempatan tentang bolehnya segala hal ini yang tak terlarang itu, agar supaya kita bisa secepat-cepatnya mengejar zaman yang telah jauh meninggalkan kita itu. Dari tempat-tempat-interniran saya yang terdahulu, dulu pernah saya serukan via tuan A. Hassan dari Persatuan Islam, di dalam risalah kecil ”Surat-surat Islam dari Endeh”:

Kita tidak ingat, bahwa masyarakat itu adalah barang yang tidak diam, tidak tetap, tidak “mati”, tetapi hidup mengalir, berobah senantiasa, maju, dinamis, ber-evolusi. Kita tidak ingat, bahwa Nabi s.a.w. sendiri telah menjadikan urusan dunia, menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak nyata haram atau makruh. Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Pengetahuan Barat kafir; radio dan kedokteran kafir; sendok dan garpu dan kursi kafir; tulisan Latin kafir; yang bergaulan dengan bangsa yang bukan bangsa Islam-pun kafir!

Padahal apa, apa yang kita namakan Islam? Bukan Rokh Islam yang berkobar-kobar, bukan Amal Islam yang mengagumkan, tetapi dupa dan karma dan jubah dan celak mata! Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa yang matanya dicelak dan jubahya panjang dan menggenggam tasbih yang selalu berputar, dia, dialah yang kita namakan Islam.

Astagafirullah, inikah Islam? Inikah agama Allah? Ini? Yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, mengkafirkan radio dan listrik, mengkafirkan kemoderenan dan ke-uptodate-an? Yang mau tinggal mesum sahaja, tinggal kuno sahaja, tinggal terbelakang sahaja, tinggal “naik onta” dan “makan zonder sendok” sahaja, seperti di zaman Nabi-nabi.

Islam is progress, Islam itu kemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam salah satu surat saya yang terdahulu. Kemajuan karena fardhu, kemajuan karena sunah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batasnya zaman. Progress berarti barang baru, yang lebih tinggi tingkatnya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, ciptaan baru, creation baru, bukan mengulangi barang yang dulu, bukan mengcopy barang yang lama.

Di dalam politik Islam-pun orang tidak boleh mengcopy sahaja barang-barang yang lama, tidak boleh mau mengulangi sahaja segala sistim-sistimnya zaman “khalifah-khalifah yang besar”. Kenapa orang-orang Islam di sini selamanya menganjurkan political system “seperti di zamannya khalifah-khalifah besar” itu?

Tidakkah di dalam langkahnya zaman yang lebih dari 1000 tahun itu peri-kemanusiaan mendapatkan sistim-sistim baru yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatnya daripada dulu? Tidakkah zaman sendiri menjelmakan sistim-sistim baru yang cocok dengan keperluannya, cocok dengan keperluan zaman itu sendiri? Apinya zaman “khalifah-khalifah yang besar” itu?

Akh, lupakah kita, bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yang “menganggitkan”? Bahwa mereka “menyutat” sahaja api itu dari barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yakni dari Kalam Allah dan Sunahnya Rasul?

Tetapi apa yang kita “cutat” dari Kalam Allah dan Sunah Rasul itu? Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan! Abunya, debunya, akh ya, asapnya! Abunya yang berupa celak mata dan sorban, abunya yang menyintai kemenyan dan tunggangan onta, abunya yang bersifat Islam-muluk dan Islam ibadat-zonder-taqwa, abunya yang cuma tahu baca Fatihah dan tahlil sahaja, tetapi bukan apinya, yang menyala-nyala dari ujung zaman yang satu keujung zaman yang lain.”

Begitulah saya punya seruan dari Endeh. Marilah kita camkan di dalam kita punya akal dan perasaan, bahwa kini bukan masyarakat onta, tetapi masyarakat kapal-udara. Hanya dengan begitulah kita dapat menangkap inti arti yang sebenarnya dari warta Nabi yang mauludnya kita rayakan ini hari. Hanya dengan begitulah kita dapat menghormati Dia di dalam artinya penghormatan yang hormat sehormat-hormatnya. Hanya dengan begitulah kita dengan sebenar-benarnya boleh menamakan diri kita umat Muhammad, dan bukan umat kaum faqih atau umat kaum ulama.

Pada suatu hari saya punya anjing menjilat air di dalam panci di dekat sumur. Saya punya anak Ratna Juami berteriak: “Papie, papie, si Ketuk menjilat air di dalam panci!” Saya menjawab: “Buanglah air itu, dan cucilah panci itu beberapa kali bersih-bersih dengan sabun dan kreolin.”

Ratna termenung sebentar. Kemudian ia menanya: ”Tidakkah Nabi bersabda, bahwa panci ini musti dicuci tujuh kali, diantaranya satu kali dengan tanah?”

Saya menjawab: “Ratna, di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin! Nabi waktu itu tidak bisa memerintahkan orang memakai sabun dan kreolin.” Muka Ratna menjadi terang kembali. Itu malam ia tidur dengan roman muka yang seperti bersenyum, seperti mukanya orang yang mendapat kebahagiaan besar.

Maha-Besarlah Allah Ta’ala, maha-mulialah Nabi yang Ia suruh!



Panji Islam, 1940

Wednesday, February 24, 2016

Biografi Romo Mangun

Image result for romo mangun 

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya dilahirkan pada tanggal 6 Maret 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah, sebagai anak sulung dari dua belas bersaudara. Ayahnya bernama Yulianus Sumadi, sedangkan ibunya Serafin Kamdaniyah. 

Romo Mangun mengawali pendidikannya di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang (1936-1943). Lalu berturut-turut di STM Jetis, Yogyakarta (1943-1947) dan SMU-B Santo Albertus, Malang (1948-1951). Selanjutnya ia menempuh pendidikan seminari pada Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta, yang dilanjutkan ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius di Mertoyudan, Magelang. 

Pada masa-masa sekolahnya, Romo Mangun sudah ikut dalam gerakan kemerdekaan. Ia, misalnya, ikut dalam aksi pencurian mobil-mobil tentara Jepang. Ia pun bergabung dalam Batalyon X Divisi III sebagai prajurit TKR. Ia turut pula dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan Mranggen. Selain menjadi prajurit Tentara Pelajar, ia pernah pula bertugas sebagai sopir pendamping Panglima Perang Sri Sultan Hamengkubuwono IX memeriksa pasukan. Pernah pula ia menjabat sebagai komandan Tentara Pelajar saat Agresi Militer Belanda I pada Kompi Kedu. 

IMAM YANG MENEKUNI ARSITEKTUR
Pada tahun 1953 ia masuk ke Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru. Di sinilah ia bertemu mentornya, Uskup Soegijapranata, SJ., sosok yang juga menjadi tokoh Nasional. Uskup Soegijapranata, SJ. merupakan uskup agung pribumi pertama di Indonesia. Tidak hanya mengajar, Soegijapranata pulalah yang menahbiskan Romo Mangun sebagai imam pada tahun 1959. 

Meski telah menjabat sebagai imam, cita-cita Romo Mangun sejak lama untuk menjadi insinyur tidaklah hilang. Itulah sebabnya, setelah ditahbiskan, ia justru melanjutkan pendidikannya di Teknik Arsitektur ITB, juga pada tahun 1959. Dari ITB, ia melanjutkan studinya di universitas yang sama dengan B.J. Habibie, yaitu di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman pada 1960, yang diselesaikannya pada tahun 1966. Pendidikan arsitektur inilah yang kemudian memberinya landasan yang kuat untuk menghasilkan beragam karya arsitektural yang justru menghadirkan nuansa baru dalam arsitektur Indonesia. Tidak heran pula bila ia kemudian dikenal sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. 

Sebagai arsitek, ia merancang membangun banyak gedung. Sebut saja kompleks peziarahan Sendangsono Yogyakarta, Gedung Keuskupan Agung Semarang, Bentara Budaya Jakarta, pelbagai bangunan lain, termasuk beberapa gereja. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pun menganugerahinya IAI Awards 1991 dan 1993 sebagai penghargaan atas beberapa karyanya. Adapun karya arsitekturalnya di Kali Code Yogyakarta menjadi salah satu "monumen" Romo Mangun. Ia membangun kawasan pemukiman warga pinggiran itu tidak sebatas pembangunan fisik, tapi sampai pada fase memanusiakan manusia. 

"Penataan lebih pada segi sosio-politis dan pengelolaan kemasyarakatan," demikian tutur Romo Mangun, yang dikenal juga sebagai bapak dari masyarakat "Girli" (pinggir kali) mengenai "monumen"-nya tersebut. Penataan lingkungan di Kali Code itu pun membuahkan The Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1992. Tiga tahun kemudian, karya yang sama ini membuahkan penghargaan dari Stockholm, Swedia, The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award untuk kategori "Arsitektur Demi Rakyat yang tak Diperhatikan."


MEMIHAK RAKYAT KECIL
Sisi humanisme Romo Mangun memang begitu kental. Pada tahun 1986, ia mendampingi warga Kedungombo Jawa Tengah yang kala itu memperjuangkan lahannya dari pembangunan waduk. Pembelaannya kepada nasib penduduk Kedungombo menyebabkan presiden, yang saat itu masih dijabat oleh Soeharto, menuduhnya sebagai komunis yang mengaku sebagai rohaniawan. Berbagai teror dan intimidasi menghampirinya pula. 

"Kalau saya dituduh melakukan kristenisasi kepada para santri, silakan tanyakan langsung kepada warga Kedungombo. Kalau saya dikatakan sebagai warga negara yang tidak taat kepada pemerintah, saya jawab, ketaatan itu harus pada hal yang baik. Orang tidak diandaikan untuk menaati perintah yang buruk. Apa yang saya kerjakan sesuai dengan Mukadimah UUD 1945 dan Pancasila," komentarnya tenang. 

Upaya yang tidak sia-sia mengingat pada tanggal 5 Juli 1994, akhirnya Mahkamah Agung RI mengabulkan tuntutan kasasi 34 warga Kedungombo tersebut. Malahan warga memperoleh ganti rugi yang nilainya lebih besar daripada tuntutan semula.


SEBAGAI PENULIS SEKALIGUS PENDIDIK
Karya tulis yang dihasilkan Romo Mangun bukanlah karya tulis sembarangan. Semua dihadirkan dengan alam pikir yang kompleks. Hal ini terwujud pula dari kalimatnya yang panjang-panjang, yang tak jarang sulit dipahami. Namun, ia berkata, "Tulisan saya realitas. Realitas itu kompleks, tidak sederhana, tidak satu dimensi, canggih, rumit, dan banyak segi. Kalimat mestinya begitu juga." 

Kekayaan tulisan Romo tidak hanya terlihat lewat bingkai sejarah yang dihadirkan, tetapi juga persoalan kultur turut dibahasnya. Dalam bukunya, "Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein" (1999), masalah kultur dan dikotomi Barat-Timur, ia bahas secara tajam. 

Dalam bidang kesusastraan, buah tangannya tidak dipungkiri pula. Sebut saja "Burung-Burung Manyar" (1981) yang menuai penghargaan dari Ratu Thailand Sirikit lewat ajang The South East Asia Write Award 1983. Ia juga menjadi orang Indonesia kedua setelah Goenawan Mohammad yang mendapat penghargaan The Professor Teeuw Award di Leiden, Belanda, untuk bidang susastra dan kepedulian terhadap masyarakat. Adapun karya sastra terakhirnya berjudul "Pohon-Pohon Sesawi", yang diterbitkan setahun setelah ia meninggal. 

Tidak hanya dalam bidang arsitektur dan penulisan, Romo Mangun pun memiliki keprihatinan terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Ia mewujudkannya dengan mendirikan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Catherine Mills, yang menulis tesis mengenai Romo Mangun, mengutip perkataan Romo, "When I die, let me die as a primary school teacher (kalau saya meninggal, biarkan saya meninggal sebagai guru sekolah dasar)." Bagi Romo Mangun, pendidikan dasar jauh lebih penting daripada pendidikan tinggi. Itulah sebabnya, ia pun pernah berujar, "Biarlah pendidikan tinggi berengsek dan awut-awutan. Namun, kita tidak boleh menelantarkan pendidikan dasar." 



ROMO BERPULANG
Romo Mangun sebenarnya telah memasang alat pacu jantung sejak 1990. Lalu sejak 1994, ia berniat mengurangi aktivitasnya sebagai pembicara di berbagai seminar dan diskusi. Meski demikian, pada tahun 1999, ia justru menghadiri kegiatan yang ia hindari itu. 

Pada tanggal 10 Februari 1999, Romo Mangun menghadiri Simposiom "Meningkatkan Buku Dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesia", yang diselenggarakan Yayasan Obor Indonesia, di Hotel Le Meridien, Jakarta. Ia juga berbagian sebagai pembicara pada simposium tersebut, namun belum lama, badannya limbung, nyaris jatuh. Budayawan Mohamad Sobary langsung membaringkannya di lantai Ruang Puri. Dan tepat pukul 13:55 WIB, Romo Mangun dinyatakan meninggal karena serangan jantung. 

Pemakamannya dihadiri oleh ribuan pelayat. Hal ini menunjukkan betapa ia merupakan pribadi yang sangat dikagumi sekaligus dihormati masyarakat dari berbagai kalangan. Tidak hanya kalangan rohaniawan dan penganut Katolik atau masyarakat Yogyakarta, berbagai lapisan masyarakat dan agama turut menghadiri. 

Cita-cita Romo Mangun memang banyak yang terlampaui. Sebagai arsitek, ia berhasil membangun beragam bangunan yang membuahkan penghargaan. Sebagai penulis, karyanya pun diakui di tingkat dunia. Hanya saja, obsesinya tentang pendidikan anak-anak miskin belum tercapai. Ia memang telah merintis Yayasan Dinamika Edukasi Dasar sejak tahun 1980-an, sebuah wadah pengajaran bagi anak-anak miskin dan telantar. Ia juga merintis sekolah di desa Mangunan, Kalasan, yang merupakan karya intelektual yang nyata, yang melakukan penyebaran ide dan kritis. Intelektual yang tidak saja memiliki "laboratorium" tapi juga mewakili nurani bangsa. 

sumber : http://biokristi.sabda.org/selayang_pandang_y_b_mangunwijaya

Wednesday, January 13, 2016

Biografi Fidel Castro

Image result for fidel castro
Fidel Alejandro Castro Ruz (lahir 13 Agustus 1926) adalah Presiden Kuba sejak 1976 hingga 2008. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Perdana Menteri atas penunjukannya pada Februari 1959 setelah tampil sebagai komandan revolusi yang gagal Presiden Dewan Negara merangkap jabatan sebagai Dewan Menteri Fulgencio Batista pada tahun 1976. Castro tampil sebagai sekretaris pertama Partai Komunis Kuba (Communist Party of Cuba) pada tahun 1965 dan mentransformasikan Kuba ke dalam republik sosialis satu-partai. Setelah tampil sebagai presiden, ia tampil sebagai komandan Militer Kuba. Pada 31 Juli 2006, Castro menyerahkan jabatan kepresidenannya kepada adiknya, Raúl untuk beberapa waktu.

Pada tahun 1947, ia ikut dalam upaya kudeta diktator Republik Dominika Rafael Trujillo dan lari ke New York (Amerika Serikat) karena adanya ancaman akan dihabisi lawan politiknya. Setelah meraih doktor di bidang hukum pada 1950, ia memprotes dan memimpin gerakan bawah tanah anti-pemerintah atas pengambil-alihan kekuasaan lewat kudeta oleh Fulgencio Batista pada 1952. Tahun 1953, ia memimpin serangan ke barak militer Moncada Santiago de Cuba, namun gagal. Sebanyak 69 orang dari 111 orang yang ambil bagian dalam serbuan itu tewas dan ia dipenjara selama 15 tahun.

Setelah mendapatkan pengampunan dan dibebaskan pada 15 Mei 1955, ia langsung memimpin upaya penggulingan diktator Batista. Perlawanan ini kemudian dikenal dengan Gerakan 26 Juli. Pada 7 Juli 1955, ia lari ke Meksiko dan bertemu dengan pejuang revolusioner Che Guevara. Bersama 81 orang lainnya, ia kembali ke Kuba pada 2 Desember 1956 dan melakukan perlawanan gerilya selama 25 bulan di Pegunungan Sierra Maestra.

Di luar Kuba, Castro mulai menggalang kekuatan untuk melawan dominasi Amerika Serikat dan bekas negara Uni Soviet. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, cita-cita dan impiannya mulai diwujudkan dengan bertemu Hugo Chávez di Venezuela dan Evo Morales dari Bolivia.

Salah satu negara yang paling dibenci Amerika adalah Kuba. Meski demikian, Amerika masih bisa mengambil sebongkah tanah milik Kuba untuk kepentingan penjaranya, yaitu Guantanamo. Penjara yang semasa penggulingan rezim Saddam Husein ter-sebut dipenuhi oleh banyak orang Irak yang tersiksa, selalu di-tuntut oleh Castro untuk segera dikembalikan. Castro memang seorang yang gigih dalam memperjuangkan prinsip hidupnya. la tidak pernah takut untuk berhadapan dengan siapa pun dan negara manapun. Barangkali karena prinsip hidup Castro yang keras dan tidak mau tunduk kepada kepentingan ekonomi serta politik Amerika inilah yang membuat Amerika memandangnya sebagai sebuah ancaman. Agar Castro dipandang sebagai musuh dunia, Amerika memberikan cap negatif kepada Fidel Castro, yaitu sebagai seorang diktator komunis.

Dituduh sebagai seorang diktator komunis tentu saja memberi efek kurang baik bagi Castro, baik di lingkungan internasional maupun di lingkup Kuba sendiri. la bahkan pernah ditu-ding sebagai seorang diktator yang tega memeras rakyatnya demi keuntungan kantong pribadinya. Untuk itu, Castro pun memberikan jawaban lantang, “Jika mereka mampu membuktikan aku memiliki rekening di luar negeri… bahkan jika itu berisi satu dolar, aku akan mengundurkan diri dari kedudukanku!”

Jelas bahwa Castro bukan orang yang suka memanfaatkan negaranya untuk kepentingan pribadinya. Sangkaan jelek terhadap Castro tentu dilontarkan oleh lawan-lawan politiknya yang didalangi oleh Amerika. Sekali lagi, Fidel Castro tidak akan pernah tunduk atas kemauan buruk seperti itu.

Gagal mendiskreditkan pribadi Fidel Castro, Amerika kemudian memberikan serangkaian embargo, termasuk ekonomi kepada Kuba. Akan tetapi, Castro tetap eksis di kursi singgasananya. Namun sekali lagi, Amerika tidak pernah tinggal diam. Fidel Castro telah berkali-kali mengalami percobaan pembunuhan karena telah berani melawan Amerika Serikat.

Segala macam cara di tempuh oleh CIA, badan intelijen Amerika, untuk melenyapkan Fidel Castro dari muka bumi, mulai dari memberi racun dan bahan peledak pada cerutu yang biasa dihisapnya, memberi dosis kematian LSD, memasukkan sianida pada susu coklatnya, memberi infeksi tuberkolosis pa-da baju yang dipakainya, ancaman-ancaman pembunuhan pada setiap kunjungan kenegaraan, hingga memberi obat perontok rambut dan jenggot agar wibawa serta karismanya merosot di mata rakyat.


Amerika menggunakan segala macam cara untuk meng-gulingkan Castro, termasuk melalui sebuah skenario besar dan terkenal di masa lalu, yaitu peristiwa Teluk Babi. Peristiwa Teluk Babi merupakan sebuah operasi rahasia Amerika yang gagal. Peristiwa ini telah mencoreng wajah Amerika Serikat dan mem-buatnya negara adidaya tersebut malu di tahun 1961.

Peristiwa yang dirancang dan didanai oleh Amerika Serikat itu dilakukan oleh orang-orang Kuba sendiri yang berada di pembuangan. Dilancarkan di wilayah Kuba barat daya. Pe¬ristiwa ini menandai klimaks dari sikap anti Kuba oleh Amerika Serikat (AS).

Ketegangan AS-Kuba telah bertumbuh sejak Castro menggulingkan rezim diktator militer sayap kanan Jenderal Fulgen-cio Batista yang didukung AS, pada 1 Januari 1959. Pemerintah-an Amerika ketika dipimpin oleh Eisenhower dan Kennedy me-nilai bahwa pergeseran Castro kepada Uni Soviet tidak bisa di-terima, dan karena itu mereka berusaha menggulingkannya. Na-mun, keinginan AS itu tidak berhasil dicapai melalui invasi Teluk Babi sebab memang gagal total dan ternyata menjadi noda internasional bagi pemerintahan Kennedy sendiri.

Apa pun alasannya, yang jelas invasi itu telah menjadikan Castro lebih populer dari sebelumnya. Melalui peristiwa itu, Cas¬tro bahkan memperoleh kekuatanbaru untuk menanamkan sentimen-sentimen nasionalistik di tubuh rakyat, dalam rangka mencari dukungan untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan ekonominya. Dan yang lebih menyakitkan lagi bagi Amerika adalah bahwa Kuba berhasil menyandera seribu lebih tawanan Amerika Serikat, yang pada akhirnya justru Amerika Serikatlah yang harus memasok sejumlah makanan dan obat-obatan seharga 53 juta dolar sebagai pembayaran untuk membebaskan para tawanan itu. “Untuk pertama kalinya dalam sejarah,” kata Castro, “Imperialisme telah membayar kerugian perang!”


“Menyeberang” ke Marxisme
Meski Castro memiliki jiwa militan dan cenderung revolu-sioner, namun orientasi politik yang dimilikinya sebenarnya adalah liberal. Karena itu dalam gerakan mahasiswa ia sering bentrok dengan kaum komunis. Fidel Castro sendiri juga bukan seorang Marxis pada awalnya. Di kemudian hari dalam suatu pidatonya pada Desember 1961, ia, seperti ditulis Current Bi¬ography 1970, mengesankan bahwa Marxisme baru benar-benar terbentuk dalam dirinya setelah ia berada pada pucuk kekuasaan.

Gagal menggebrak secara legal, Fidel Castro mengorganisasi para pemuda idealis untuk memberontak, “demi demok-rasi, keadilan sosial, dan menegakkan konstitusi 1940″. Dengan mengerahkan 165 orang massanya, pada 26 Juli 1953 Fidel Cas¬tro melancarkan serangan, dengan senjata seadanya, ke Moncada Barrack di Santiago. la sangat berharap ketika itu bahwa dengan adanya serangan maka semangat pemberontakan umum di Provinsi Oriente akan terbakar. Akan tetapi, semua harapannya itu tidak tercapai sama sekali. Serangan yang dilakukan bersa-maan dengan serbuan ke garnisun Bayamo itu terbukti gagal. Setengah dari kawanan pemberontak tewas dibantai oleh tentara Batista. Selebihnya, sebagian besar tertawan, termasuk Fidel dan adiknya, Raul.

Proses peradilan diselenggarakan di sebuah rumah sakit tentara yang tersembunyi dalam bangunan bawah tanah di Havana, lokasi yang seperti diucapkan Fidel Castro dalam pledoinya, “menandakan bahwa pengadilan ini benar-benar tidak sehat.”

Berdasarkan amnesti umum 15 Mei 1955, Fidel Castro pun dilepaskan. Dan segera sesudah itu laki-laki ini mencoba kembali mengkoordinasikan kegiatan anti-Batistanya, kali ini benar-benar tanpa kekerasan.

Pada Juli di tahun yang sama, Fidel Castro mengungsi ke Mexico City. Di sini Castro memulai babak baru perjuangannya. Secara rahasia Castro kemudian mem-persiapkan perjuangan bersenjata di ba-wah pimpinan mantan Jenderal Alberto Bayo Girau, veteran perang pembe-basan Spanyol di tahun 1936 yang hijrah ke Meksiko.

Pada 24 November 1956 dari Tuxpan di Meksiko, dengan semboyan “kalau saya berangkat, saya sampai; kalau saya sampai, saya masuk; kalau saya masuk, saya menang”, pukul 1:30 dini hari berangkatlah kapal dengan nama Granma. Kapal itu membawa 82 orang, termasuk Che Guevara, lengkap dengan sen-jata dan bekal makanan serta minuman, dengan tujuan pantai Las Coloradas di Oriente, Kuba sebelah Timur.

Mereka terpisah-pisah, saling tidak mengetahui nasib te-man-temannya. Fidel sempat terpisah bersama dua tentara lainnya. Setelah beberapa hari kemudian baru bisa bertemu dengan Raul, adiknya. Dengan demikian seluruh pasukan mereka hanya tinggal tersisa dua belas orang dengan kekuatan delapan senjata. Ketika mereka ditemukan oleh petani, Fidel menyerukan, “Dengan delapan senjata kita bisa menang!”.

Batista tidak memahami sendiri tentang kondisi dalam negerinya, di mana penderitaan rakyat meningkat, sementara Ame-rika sendiri sebagai salah satu negara demokrasi, sejak awal tidak pernah mendukung aksi kudetanya secara tulus. Wawancara Fidel Castro dan
beberapa kawannya yang tersisa dengan wartawan The New Times,. Herbert L. Matthews, yang diterbitkan pada edisi 24 Februari 1957, kemudian membuyarkan sikap lengah pemerintahan Batista itu.


Strategi Menggulingkan Batista
Fidel Castro bersama dua belas orang temannya, dari hari ke hari makin mendapat tambahan kekuatan. Para sukarelawan berdatangan dan bergabung. Rakyat banyak berdiri di belakang barisan Castro. Barangkali penampilan Fidel Castro sendiri yang sangat simpatik dan kharismatik itu yang membuat rakyat me-milih mendukungnya. Seperti digambarkan Matthews, Castro adalah laki-laki dengan kepribadian mengagumkan. Berpen-didikan, penuh dedikasi sekaligus fanatik, dan selalu bersema-ngat dengan kepemimpinan yang sangat kuat.

Daya pikat itu dan situasi dalam negeri yang rawan di bawah Batista, yang membuat banyak orang bergabung bergerilya, menjadi titik tolak bagi tindakan Fidel Castro berikutnya. la kemudian memproklamasikan perang total, yang dimulai pada 1 April 1958. Rakyat mulai membentuk barisan dan memang-gul senjata. Pada bulan-bulan selanjutnya para gerilyawan ini segera memperoleh berbagai kemenangan dan itu memberikan inspirasi kepada pelbagai gerakan perlawanan sipil di kota-kota di Kuba.

Serangan yang berlangsung bertubi-tubi itu, pada akhirnya membuat Batista kewalahan. Beberapa kota telah dikuasai oleh kaum pemberontak di bawah pimpinan Castro. Akibatnya, akhir Desember 1958, Batista terpaksa mengakui kekalahannya. la kemudian melarikan diri ke Republik Dominika, pada tengah ma-lam di tahun baru 1959. Pelarian ini merupakan suatu pertanda bahwa sebuah rezim telah berakhir di Kuba. Fidel Castro ber-sama pasukannya berderap gagah memasuki ibukota Havana pada 1 Januari 1959. Sementara itu Santiago, kota terbesar ke-dua di Kuba setelah Havana, pada saat yang sama sudah pula dikuasai para pemberontak.


. . “Menanam” Marxisme di Kuba
Setelah naik ke puncak kekuasaan, Castro pun melakukan banyak pembenahan di lingkup pemerintahan Kuba. Pembenahan itu tentunya berangkat dari ukuran politik serta prinsip ideo-logi yang dianut Castro sendiri. Salah satu hal yang dilakukan Castro adalah menjadikan Kuba sebagai negara sosialis. Niatan itu sebetulnya bukan datang begitu saja ketika ia duduk di tam-puk kekuasaan, melainkan baru dalam beberapa tahun kemu-dian setelah Castro memikirkan sejumlah pertimbangan.

Di tahun 1961, bersamaan dengan pidato May Day, Castro menyatakan bahwa Kuba resmi menganut paham sosialis. Saat itu pula ia menyatakan bahwa pemerintah tidak lama lagi akan menyelenggarakan pemilihan umum, dengan ketentuan bahwa “Revolusi tak akan memberi kesempatan sedikit pun kepada kelas penindas untuk tampil lagi menegakkan kekuatan”. Pada 2Desember 1961 iamenegaskankembali bahwa program Marxistis-Leninistis akan diterapkan sesuai dengan kondisi subjektif negeri Kuba.

Selama bertahun-tahun di bawah pemerintahan Castro, Kuba terus bertumbuh, termasuk bidang ekonominya. Di tahun 1983 pertumbuhan ekonomi Kuba telah mencapai 5%. Itu berlangsung di tengah kondisi negara-negara Amerika Latin umumnya sedang terseok-seok.

Pada tingkat sekolah dasar, sebelum pelajaran dimulai para murid biasa mengucapkan “hymne” lisan, “Pioneros pol el communismo. Seremos como el Che” (“Komunis sebagai pelopor. Kami ingin menjadi Che”).

Sejak tahun 2000, pemerintah Kuba menggelar program yang dinamakan “University for All”. Program ini memberi kesempatan bagi seluruh rakyat Kuba, laki-laki, perempuan, sudah menikah ataupun belum, untuk menempuh pendidikan hingga universitas. Tujuannya untuk menjadikan Kuba sebagai Negara “nation becomes a university.” Salah satu dari program ini adalah pendidikan melalui televisi. Bayangkan saja, siaran pendidikan melalui televisi ini diberikan oleh para profesor. Pemerintah memberikan waktu tayang sebanyak 394 jam siar untuk program pen-didikan setiap minggunya. Ituberarti senilai 63% dari total wak¬tu siaran televisi.


Yang Khas dari Fidel
Ada banyak hal khas yang dapat dilihat dari seorang Fidel Castro. Saat berpidato di hadapan sidang atau rapat-rapat besar PBB misalnya, Castro akan memukul mikrofon setiap kali menyebutkan kata Amerika Serikat, “The United States…plak!” demikian yang sering dilakukannya. Ada juga kalimat penutup yang nilainya kira-kira sama dengan kata “amin”. 
“Fidel Tidak Tergantikan”
Fidel Castro sampai akhir masa jabatannya, tetap mempertahankan Marxisme. Ia menerapkan partai tunggal di negaranya, hal yang selalu ditentang oleh Amerika. Bagi Castro, partai tunggal sangat perlu untuk menyatukan rakyat Kuba. Multi partai dinilai berpotensi menjadi “pintu masuk” bagi Amerika untuk mengendalikan Kuba dari Gedung Putih. Atas nama demokrasi, sejak dulu Amerika ingin begitu leluasa mengenda¬likan Kuba, meskipun tindakan itu sebetulnya jauh lebih tidak demokratis lagi karena bagaimanapun demokrasi cenderung menghargai perbedaan dan mengecam kesewenang-wenangan.

Kini Fidel Castro tetaplah Castro, pemimpin yang di mata rakyatnya dilihat sebagai seorang flamboyan. Ia kini hanya sedikit agak kaku dan cenderung bersikap kalem. Ia juga masih setia dengan kegemarannya mengulum cerutu yang konon harus dilinting di atas paha wanita cantik pilihannya.

Castro adalah orang yang sangat tegfas terutama dalam menjalankan ideologi dan prinsipnya. Dalam hal ini ia tidak peduli dengan permasalahan Hak Asasi Manusia. Suatu kali ia dengan tegas menyatakan ketidaksediaannya berkompromi dengan se-gala imbauan tentang hak-hak asasi manusia. Bukan hanya menolak organisasi semacam Amnesti Internasional bercokol di negerinya.

Segala kritik atas kebijakannya, ia timpali hanya dengan mengangkat bahu. Termasuk soal Hak Asasi Manusia yang selalu diributkan pihak Amerika. Tindakan Amerika yang selalu mengincar kematiannya, bagi Castro mungkin dianggap sebagai sebuah pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh negara yang katanya sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Dan negara semacam itu menurut Castro sebetulnya tidak pantas untuk membela dan memperjuangkan Hak Asasi Manusia.

Kini Fidel Castro yang dituduh sebagai seorang diktator oleh pemerintah Amerika itu telah meletakkan jabatannya. la tidak menjalankan niatnya untuk menjadi Presiden seumur hi-dup di Kuba seperti yang pernah disampaikannya di era 70-an silam. Jabatan Presiden Kuba telah dilepaskan Fidel Castro pada 24 Februari 2008 dan diserahkan kepada Raul Castro, adiknya. Raul adalah orang yang pernah sama-sama berjuang dengan Fidel Castro dalam menggulingkan kekuasaan Batista. Namun deniikian, di atas semuanya, tokoh sentral Kuba tetaplah Fidel Castro.

“Fidel adalah Fidel. Fidel tidak tergantikan.” kata Raul saat dilantik. 

Fidel Castro Dan Bung Karno
 
Persahabatan Bung Karno (Indonesia) dengan Fidel Castro (Kuba), sudah terjalin sangat baik. Bahkan secara pribadi, Bung Karno dan Fidel Castro memiliki beberapa persamaan karakter. Di antara sekian banyak karakter, salah satunya adalah sama-sama berjiwa progresif revolusioner. Keduanya orang-orang kiri, orang-orang sosialis, anti Nekolim. Karenanya, tentu saja, keduanya juga menjadi musuh atau setidaknya dimusuhi Amerika Serikat dan sekutunya.

Pasca tragedi Gestok (Gerakan Satu Oktober) atau yang oleh Orde Baru disebut Gerakan 30 September/PKI itu, terjadi dialog cukup intens antara Bung Karno dan Castro, antara lain melalui perantara Dubes Hanafi, orang kepercayaan Sukarno yang menjadi duta besar Indonesia di Kuba.

Nah, surat Bung Karno kepada Fidel Castro berikut ini, sedikit banyak menggambarkan situasi ketika itu.

Presiden Republik Indonesia
P.J.M. Perdana Menteri Fidel Castro, Havana

Kawanku Fidel yang baik!

Lebih dulu saya mengucapkan terima kasih atas suratmu yang dibawa oleh Duta Besar Hanafi kepada saya.

Saya mengerti keprihatinan saudara mengenai pembunuhan-pembunuhan di Indonesia, terutama sekali jika dilihat dari jauh memang apa yang terjadi di Indonesia – yaitu apa yang saya namakan Gestok dan yang kemudian diikuti oleh pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh kaum kontra revolusioner, adalah amat merugikan Revolusi Indonesia.

Tetapi saya dan pembantu-pembantu saya, berjuang keras untuk mengembalikan gengsi pemerintahan saya, dan gengsi Revolusi Indonesia. Perjuangan ini membutuhkan waktu dan kegigihan yang tinggi. Saya harap saudara mengerti apa yang saya maksudkan, dan dengan pengertian itu membantu perjuangan kami itu.

Dutabesar Hanafi saya kirm ke Havana untuk memberikan penjelasan-penjelasan kepada saudara.

Sebenarnya Dutabesar Hanafi masih saya butuhkan di Indonesia, tetapi saya berpendapat bahwa persahabatan yang rapat antara Kuba dan Indonesia adalah amat penting pula untuk bersama-sama menghadap musuh, yaitu Nekolim.

Sekian dahulu kawanku Fidel!

Salam hangat dari Rakyat Indonesia kepada Rakyat Kuba, dan kepadamu sendiri!

Kawanmu

ttd

Sukarno

Jakarta, 26 Januari 1966


Surat Bung Karno kepada Fidel Castro itu menggambarkan betapa revolusi Indonesia mundur ke titik nol. Betapa Bung Karno tengah menyusun kekuatan untuk memulihkan keadaan. Sejarah kemudian mencatat, ia digulingkan Soeharto.


sumber : http://info-biografi.blogspot.co.id/2012/09/biografi-fidel-alejandro-castro-ruz.html

Sunday, November 29, 2015

Biografi Abdoel Moeis

Abdoel moeis.jpg

Dunia kesusastraan Indonesia mengenal Abdul Muis sebagai pengarang yang cukup produktif. Bukunya ”Salah Asuhan ” yang bertemakan kritik sosial, sering dibicarakan orang. Kalangan politik, khususnya dalam masa pergerakan Nasional, mengenal Abdul Muis sebagai salah seorang tokoh Sarekat Islam (SI) yang berani dan sanggup membangkitkan semangat massa melalui pidato-pidatonya.

la lahir tanggal 3 Juli 1883 di Sungai Puar, Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Jabatan ayahnya sebagai Tuanku Laras (setingkat Wedana) memungkinkan setamat dari ELS Abdul Muis memasuki STOVIA (School tot Oleiding Voor Inlandsche Artsen) atau Sekolah Dokter Bumi Putera di Jakarta. Waktu diadakan ujian pratikum, Abdul Muis jatuh pingsan. Ternyata ia tidak tahan melihat darah. Dengan demikian gagallah cita-cita Muis untuk menjadi dokter.

la lalu beberapa waktu lamanya bekerja sebagai pegawai negeri pada Departemen Van Eredienst en Nijverhid (Departemen Agama dan Kerajinan). Sesudah itu ia pindah ke harian "Preanger Bode” surat kabar Belanda yang terbit di Bandung. Tugas Abdul Muis adalah mengoreksi karangan-karangan yang akan dimasukkan ke percetakan. Dengan sendirinya ia membaca karangan-karangan Belanda berisi penghinaan terhadap bangsa Indonesia.

Perasaan Muis tersinggung. Ia mengajukan protes kepada atasannya, tetapi tidak pernah ditanggapi. Hal itu mendorongnya untuk juga menulis karangan-karangan yang menangkis penghinaan yang dilontarkan terhadap bangsanya oleh penulis-penulis Belanda. Artikel-artikel itu dikirimnya ke hari­an ”De Express” harian berbahasa Belanda yang dipimpin oleh Douwes Deker (Danudirja Setiabudi), seorang Indo yang menentang penjajahan Be­landa.

Sementara itu pertentangannya dengan pimpinan Preanger Bode semakin meningkat. Akhimya Muis meninggalkan Preanger Bode dan pindah bekerja ke harian ”Kaum Muda”. Di sini ia diterima menjadi pimpinan redaksi.

Melalui harian ”Kaum Muda” ia dapat menyalurkan hasratnya tanpa ada yang menghalangi. Tulisan-tulisannya bernada tajam mengecap pemerintah. Ia juga mengasuh ruangan ”pojok” yang terdapat pada harian itu, yang diberinya nama ”Keok”, artinya kalah atau serba salah. Dalam ruangan pojok itu ia melontarkan sindiran yang tajam, tetapi lucu. Penggemar ”Keok” bukan saja tokoh-tokoh Pergerakan Nasional, tetapi juga pegawai pemerintah. Di samping itu ia juga membantu harian ”De Express” dan duduk dalam staf redaksi. Tulisan-tulisannya ditandai A.M. alias dari Abdul Muis.

Selain menulis, Abdul Muis terkenal pula pandai berdebat dan berpidato. Dengan bekal itu ia terjun ke dalam gelanggang pergerakan nasional. Waktu di Bandung didirikan cabang ”Sarekat Islam” (SI) Muis masuk menjadi anggota. Mula-mula ia hanya tercatat sebagai anggota biasa, tetapi berkat kegiatan dan kecakapannya, tak lama kemudian ia diangkat menjadi Wakil Ketua SI cabang Bandung, dan sebagai ketua adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Selain itu ia duduk pula sebagai anggota pimpinan sentral komite pengurus pusat SI.

Perhatiannya kepada Pergerakan Nasional semakin besar dan sejalan dengan itu, sikapnya terhadap Pemerintah Kolonial semakin tegas.

Pada bulan November 1913 Pemerintah Hindia Belanda bermaksud mengadakan perayaan besar-besaran memperingati ”100 Tahun Kemerdekaan Negeri Belanda” (Dari Penjajahan Perancis). Untuk membiayai peringatan perayaan itu pemerintah memungut uang dari rakyat. Kaum nasional Indone­sia menganggap tindakan itu sangat tidak adil. Rakyat Indonesia masih berada dalam kungkungan penjajahan, tetapi diharuskan memberikan uang untuk memperingati perayaan kemerdekaan bangsa yang sedang menjajah mereka.

Maka atas prakarsa Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Cipto Mangunkusumo dan Wignyadisastra (Harian Kaum Muda) dibentuklah ”Komite Bumi Putera”, yaitu komite yang akan merayakan ”100 tahun kemerdekaan negeri Belanda” dengan caranya sendiri berbeda dengan cara Pemerintah Kolonial merayakannya. Abdul Muis giat di dalam komite itu. ”Komite Bumi Putera” dibentuk sebagai protes terhadap tindakan pemerin­tah. Selain itu komite bermaksud pula mengirimkan telegram kepada Ratu Wilhemina supaya di Indonesia dibentuk parlemen yang sesungguhnya.

Suwardi Suryaningrat melancarkan protes melalui tulisannya yang berjudul ”Als ik eens Vederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Dengan cara halus ia menyindir pemerintah Belanda yang bermaksud meraya­kan hari kemerdekaan di tanah jajahannya. Dr. Cipto Mangunkusumo pun menulis artikel berjudul ”Kracht of Vrees” (Kekuatan atau Ketakutan).

Pemerintah segera bertindak, Suwardi, Cipto, Wignyadisastra dan Ab­dul Muis ditangkap dan ditahan di dalam penjara. Douwes Dekker membela mereka dengan menulis artikel berjudul ”Onze helden, Cipto Mangunkusumo, en R.M. Suwardi Suryaningrat” (Pahlawan kita, Cipto Mangunkusumo, dan RM. Suwardi Suryaningrat). Tulisan itu ia menyebabkan ia ditangkap dan dipenjarakan pula. Abdul Muis dan Wignyadisasira dilepaskan dari tahanan sedang ketiga orang lainnya dihukum buang dalam negeri. Atas permintaan mereka hukuman itu diganti dengan pengasingan ke negeri Belanda.

Meskipun telah mengalami penahanan, Muis tetap giat dalam politik. Dalam tahun 1916 di Bandung dilangsungkan Kongres Nasional pertama SI. Dalam kongres itu semakin keras terdengar suara-suara yang menyatakan ketidakpuasan rakyat terhadap politik jajahan. Abdul Muis dalam pidatonya mengatakan, bahwa SI memilih cara-cara itu tidak mendatangkan hasil, maka rakyat harus siap membalas kekerasan dengan kekerasan.

Sekalipun kegiatan Abdul Muis dalam partai sudah banyak menyita waktunya, namun bidang jurnalistik tidak ditinggalkannya sama sekali. Dalam tahun 1916 itu pula ia bekerja sama dengan Haji Agus Salim memimpin majalah ”Neraca”. Tugas sebagai redaksi ”Neraca” dijalankan selama delapan tahun. Karena penghasilan sebagai redaktur itu tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, maka ia pun bekerja sebagai pegawai pada "Inlandsch Credietwezen” (Urusan Kredit Bumi Putera). Sejak bekerja di sini, ia memperhatikan nasib buruh dan para pegawai.

Sementara itu tahun 1914, Eropa dilanda oleh Perang Dunia I. Negeri Belanda terlibat di dalamnya. Dengan sendirinya masalah penahanan In­donesia menjadi pembicaraan dalam sidang Volksraad (Dewan Rakyat) yang dibentuk dalam tahun 1918. Waktu itu Abdul Muis sudah menjadi anggota Volksraad. Ia bersama Cokroaminoto sudah mewakili SI. Untuk membicarakan masalah pertahanan itu dibentuk sebuah komite yang disebut ”Indie Weerbaar” (Ketahanan Hindia Belanda). Komite itu mengirim utusan ke Negeri Belanda untuk memperjuangkan, agar di Indonesia dilaksanakan milisi. Utusan itu terdiri dari Abdul Muis, Dwijosewoyo (Wakil Budi Utomo) dan D. Van Hindeloopen.

Perjuangan untuk milisi itu gagal, tetapi Abdul Muis berhasil meyakinkan Pemerintah Belanda, bahwa di Indonesia perlu didirikan sekolah tinggi teknik. Hal itu kemudian berwujud dengan didirikannya ’Technise Hooge School” (Sekarang Institut Teknologi Bandung, ITB). Gagasan itu timbul setelah Abdul Muis mencoba naik pesawat terbang. Dari pengalaman itu ia yakin bahwa kemajuan teknik barat perlu dipelajari oleh pemuda-pemuda Indonesia.

Setelah kembali ke Tanah Air suara Abdul Muis makin keras menuntut perbaikan-perbaikan untuk rakyat. Ia sering mengadakan kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah sebagai anggota Volksraad dan sebagai wakil SI. Dalam kunjungan ke Sumatera Barat ia berpidato mengenai perlunya pemerintahan sendiri bagi Indonesia. Selain itu dibahasnya pula soal rodi yang sangat memberatkan bagi penduduk.

Rodi itu dikatakan sebagai kerja paksa untuk yang dipertuan. Rakyat dianjurkan agar supaya berjuang untuk menghapuskan rodi. Daerah Sulawesi tak luput pula dari kunjungannya. Dalam kesempatannya ia berpidato, ia selalu menganjurkan para pemuda agar berusaha mencapai kemajuan. Pengalaman di luar negeri diceritakan kepada para pemuda tersebut, katanya ”Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang?!”

Pada tahun 1919 dalam SI timbul perpecahan. Semaun, Darsono, Alimin, dan tokoh-tokoh SI Semarang, sudah kemasukan ideologi komunis. Hal itu cukup membahayakan kehidupan partai. Karena itu Abdul Muis dan Agus Salim mengusulkan supaya diadakan disiplin partai, artinya orang-orang yang berhaluan komunis harus meninggalkan SI. Dengan cara demikian kelompok komunis keluar dari SI. Dalam tahun 1920 mereka mendirikan Partai Komunis Hindia kemudian menjadi PKI pada tahun 1924.

Perhatian Abdul Muis terhadap perburuhan sudah dimulai ketika ia masih menjadi pegawai urusan kredit Bumi Putera. Sejak itu ia berjuang untuk memperbaiki keadaan sosial para buruh. Dalam tahun 1920 Muis dipilih menjadi ketua pengurus besar ”Perkumpulan Buruh Pegadaian” dan setahun kemudian ia sudah memimpin pemogokan buruh pegadaian di Yogyakarta bersama Suryopranoto. Yang disebut terakhir itu kemudian justru terkenal disebut ”Stangkingskoning” (Raja Pemogokan). Pemogokan itu dianjurkan sebagai senjata buruh untuk perbaikan nasib sebagai penuntutnya. Akibatnya banyak buruh yang dipecat dan Abdul Muis beserta beberapa pimpinan pe­mogokan lainnya ditangkap.

Setelah dibebaskan, ia kembali berjuang di lapangan Politik. Kegiatannya mulai mencemaskan Pemerintahan Belanda. Dalam tahun 1926 pemerin­tah bertindak. Ia dilarang tinggal di daerah kelahirannya, Sumatera Barat. Larangan ini disusul dengan larangan keluar Pulau Jawa. Di samping itu pula ia dilarang mengadakan kegiatan Politik. Tetapi ia diperbolehkan memilih daerah yang disukainya sebagai tempat pengasingannya.

Abdul Muis memilih tempat di daerah Garut, sebab di sana banyak pengikut SI. Dengan demikian ia masih dapat akan bergerak. Akan tetapi ternyata kemudian gerak-geriknya selalu diawasi oleh pemerintah. Akibatnya kegiatan politiknya menjadi berkurang namun ia masih sempat memimpin harian ”Mimbar Rakyat”. Tulisan-tulisannya dalam harian ini tetap tajam mengeritik pemerintah. Akibatnya harian itu dilarang terbit.

Hidup di dalam pengasingan dan dilarang melakukan kegiatan politik merupakan pukulan yang berat bagi seorang politikus. Karena itu dalam tahun 1937 Muis memutuskan untuk bekerja sebagai pegawai kontroler di daerah Garut. Hal itu dilakukannya supaya ia jangan menganggur, tetapi didorong pula oleh keyakinan, bahwa ia dapat bertindak tegas terhadap orang Belanda yang menyalahi peraturan. Banyak di antara mereka yang tidak menjalankan kewajiban membayar pajak, sewa listrik, air minum dan lain-lain. Dengan memilih bekerja kepada pemerintah itu, ia mendapat kritik dari kawan-kawannya, tetapi Muis tidak mengacuhkannya, sebab ia mempunyai tujuan tertentu. Sebaliknya ada pula temannya yang menganjurkan supaya ia meminta ampun kepada pemerintah, agar ia dapat hidup senang. Anjuran itu tidak diindahkannya.

Setelah bekerja selama dua tahun, Pemerintah Belanda mencabut keputusan pengasingan Abdul Muis. Dengan demikian ia kembali sebagai orang merdeka.

Masa di Garut itu merupakan masa penting pula bagi karir Abdul Muis sebagai Sastrawan. Selama berada di pengasingan hasratnya bergejolak, tetapi ia tidak dapat menyalurkannya. Dalam keadaan demikian jiwa sastra Abdul Muis tampil ke muka. la menulis buku yang kemudian cukup terkenal hingga sekarang yakni ”Salah Asuhan”. Sebenarnya sebagian dari isi buku itu adalah kisah nyata, yaitu tentang percintaan Muis dengan seorang gadis Belanda yang bernama Carry. ketika ia masih menjadi siswa STOVIA. Dalam buku itu ia menampilkan pertentangan dua generasi yakni generasi tua dan generasi muda. Secara tersirat ia mengingatkan bahwa generasi tua tidak seluruhnya salah. Persatuan antara dua generasi itu akan membawa manfaat yang besar bagi bangsa.

Selain ”Salah Asuhan” yang sangat terkenal itu Abdul Muis juga menulis beberapa buku lainnya, di antaranya ialah ”Pertemuan Jodoh, Daman Brandal, Sabai nan Alui" (Cerita Rakyat Minangkabau) dan "contoh Surat menyurat", ia juga menterjemahkan buku dan Bahasa asing, antara lain ”Sebatang Kara", "Pangeran Krone", "Tom Sawyer", "Suku Mohawk Tumpas", "Cut Nyak Din", dan "Menuju Kemerdekaan" (sebuah buku sejarah tentang kemerdekaan dan pergerakan Nasional Indonesia karangan D.M.G. Koch).

Dalam zaman Jepang nama Abdul Muis tidak banyak terdengar. Tetapi setelah kemerdekaan diproklamasikan, keinginannya untuk melakukan ke­giatan politik bangkit kembali. Dengan beberapa temannya ia membentuk ”Persatuan Perjuangan Priangan”, yang berpusat di Wanaraja, di luar Garut. Kegiatannya dalam badan ini menyebabkan ia mempunyai dua lawan, yakni Belanda dan Dl/TII. Ia menjadi incaran kedua musuhnya dan karena itu ia terpaksa berpindah-pindah tempat ke tempat yang lain. Kepada Karto Suwiryo pimpinan DI/TII ia pernah berpesan supaya menghentikan aksi-aksi terornya. Ia sendiri rnenyatakan dengan tegas akan mempertahankan kemerdekaan yang sudah lama diperjuangkan.

Dalam mencapai usia lanjut kesehatan Abdul Muis mulai menurun. Penyakit jantung dan darah tinggi sering menyerangnya. Karena itu ia menolak tawaran untuk aktif bekerja di pemerintahan. Dalam tahun 1946 ia ditawari menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, tetapi ada saja orang yang iri. Orang itu menulis laporan palsu kepada Presiden Sukarno yang mengatakan bahwa sewaktu diasingkan di Garut, Abdul Muis pernah minta ampun kepada Pemerintah Belanda. Padahal anjuran berbuat demikian ditolaknya mentah-mentah.

Sesudah Pengakuan Kedaulatan, Abdul Muis menghentikan kegiatannya dalam bidang Politik. Ia bekerja menterjemahkan beberapa buku berbahasa asing kebahasa Indonesia. Selama hidupnya ia kawin empat kali. Dari istrinya yang kedua, wanita Priangan, ia memperoleh dua orang anak Isterinya yang keempat bernama Sunarsih, wartawati ”Pres Agenschap Hindie Timur”. Dari isteri terakhir itu ia memperoleh sebelas orang anak. Pada tanggal 17 Juli 1959 ia meninggal di Bandung dalam usia 76 tahun.

Pemerintah RI menghargai jasa-jasanya dan perjuangan Abdul Muis terhadap Bangsa Indonesia. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI. No. 218 Tahun 1959 tertanggal 30 Agustus 1959 Pemerintah R.I. menganugerahkan Abdul Muis gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Sunday, November 15, 2015

Biografi Amir Hamzah

Amir Hamzah portrait edit.jpg 

Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, Hindia Belanda, 28 Februari 1911 dari keluarga bangsawan Melayu Kesultanan Langkat di Sumatera Utara. Saat berguru di SMA di Surakarta sekitar 1930, pemuda Amir terlibat dengan gerakan nasionalis dan jatuh cinta dengan seorang teman sekolahnya, Ilik Soendari. Bahkan setelah Amir melanjutkan studinya di sekolah hukum di Batavia keduanya tetap dekat, hanya berpisah pada tahun 1937 ketika Amir dipanggil kembali ke Sumatera untuk menikahi putri sultan dan mengambil tanggung jawab di lingkungan keraton. Meskipun tidak bahagia dengan pernikahannya, dia memenuhi tugas kekeratonannya. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, ia menjabat sebagai wakil pemerintah di Langkat. Namun  pada tahun pertama negara Indonesia yang baru lahir, ia meninggal dalam peristiwa konflik sosial berdarah di Sumatera yang disulut oleh faksi dari Partai Komunis Indonesia dan dimakamkan di sebuah kuburan massal.
 
Amir mulai menulis puisi saat masih remaja meskipun karya-karyanya tidak bertanggal, yang paling awal diperkirakan telah ditulis ketika ia pertama kali melakukan perjalanan ke Jawa. Menggambarkan pengaruh dari budaya Melayu aslinya, Islam, Kekristenan, dan Sastra Timur, Amir menulis 50 puisi, 18 buah puisi prosa, dan berbagai karya lainnya, termasuk beberapa terjemahan. Pada tahun 1932 ia turut mendirikan majalah sastra Poedjangga Baroe. Setelah kembali ke Sumatera, ia berhenti menulis. Sebagian besar puisi-puisinya diterbitkan dalam dua koleksi, Njanji Soenji (1937) dan Boeah Rindoe (1941), awalnya dalam Poedjangga Baroe, kemudian sebagai buku yang diterbitkan.

Puisi-puisi Amir sarat dengan tema cinta dan agama, dan puisinya sering mencerminkan konflik batin yang mendalam. Diksi pilihannya yang menggunakan kata-kata bahasa Melayu dan bahasa Jawa dan memperluas struktur tradisional, dipengaruhi oleh kebutuhan untuk ritme dan metrum, serta simbolisme yang berhubungan dengan istilah-istilah tertentu. Karya-karya awalnya berhubungan dengan rasa rindu dan cinta, baik erotis dan ideal, sedangkan karya-karyanya selanjutnya mempunyai makna yang lebih religius. Dari dua koleksinya, Nyanyi Sunyi umumnya dianggap lebih maju. Untuk puisi-puisinya, Amir telah disebut sebagai "Raja Penyair Zaman Poedjangga Baroe" dan satu-satunya penyair Indonesia berkelas internasional dari era pra-Revolusi Nasional Indonesia.

Masa kecil

Amir lahir dengan nama Tengkoe Amir, merupakan putra bungsu dari Wakil Sultan Tengkoe Moehammad Adil dan istri ketiganya, Tengkoe Mahdjiwa. Tengkoe Moehammad Adil merupakan Wakil Sultan untuk Luhak Langkat Hulu yang berkedudukan di Binjai. Berdasarkan silsilah keluarga istana Kesultanan Langkat, Amir Hamzah adalah generasi ke-10 dari Sultan Langkat. Melalui ayahnya, ia terkait dengan Sultan Langkat kala itu, Machmoed. Kepastian tanggal lahir Amir diperdebatkan, tanggal resmi yang diakui oleh pemerintah Indonesia adalah 28 Februari 1911, tanggal yang digunakan Amir sepanjang hidupnya. Namun kakaknya, Abdoellah Hod menyatakan bahwa Amir lahir pada tanggal 11 Februari 1911. Amir kemudian mengambil nama kakeknya, Tengkoe Hamzah, sebagai nama keduanya; sehingga ia disebut sebagai Amir Hamzah. Meskipun seorang anak bangsawan, dia sering bergaul dalam lingkungan non-bangsawan. Oleh teman sepermainannya, Amir kecil biasa dipanggil dengan sebutan "Tengku Busu" ("tengku yang bungsu"). Said Hoesny, sahabat Amir pada masa kecilnya menggambarkan bahwa Amir adalah anak manis yang menjadi kesayangan semua orang.

Diketahui bahwa Amir dididik dalam prinsip-prinsip Islam, seperti mengaji, fikih, dan tauhid, dan belajar di Masjid Azizi di Tanjung Pura dari usia muda. Dia tetap seorang Muslim yang taat sepanjang hidupnya. Periode saat ia menyelesaikan studi formal juga diperdebatkan. Beberapa sumber, termasuk pusat bahasa pemerintah Indonesia, menyatakan bahwa ia mulai bersekolah pada tahun 1916, sementara biografer M. Lah Husny menulis bahwa tahun pertama sekolah formal penyair ini adalah pada tahun 1918. Di sekolah dasar berbahasa Belanda di mana Amir pertama kali belajar, ia mulai menulis dan mendapat penilaian-penilaian yang bagus; dalam biografi yang ditulisnya tentang Amir, penulis Nh. Dini menulis bahwa Amir dijuluki "abang" oleh teman-teman sekelasnya karena ia jauh lebih tinggi daripada mereka.

Pada tahun 1924 atau 1925, Amir lulus dari sekolah dasarnya di Langkat dan pindah ke Medan untuk belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, sekolah menengah pertama) di sana. Setelah menyelesaikan studinya sekitar dua tahun kemudian, ia memasuki hubungan formal dengan sepupunya dari pihak ibunya, Aja Bun. Husny menulis bahwa keduanya sengaja dipertemukan dan dijodohkan untuk menikah oleh orang tua mereka, namun Dini menganggap hubungan tersebut sebagai sumpah untuk menjadi selalu setia. Karena orang tuanya mengizinkannya untuk menyelesaikan studinya di Jawa, Amir kemudian pergi ke ibukota kolonial Hindia Belanda di Batavia untuk menyelesaikan studinya.

Belajar di Jawa

Amir pergi ke Pulau Jawa sendirian, dalam perjalanan di laut selama tiga hari di kapal Plancus. Setelah tiba di Batavia, ia masuk di Christelijk MULO Menjangan, di mana ia menyelesaikan tahun SMP terakhirnya. Anthony H. Johns dari Australian National University menulis bahwa di sekolah ini Amir mempelajari beberapa konsep dan nilai-nilai Kekristenan. Di Batavia, Amir juga terlibat dalam organisasi sosial Jong Sumatera. Saat periode ini pemuda Amir menulis puisi pertamanya. Husny menulis bahwa Amir patah hati setelah menemukan Aja Bun telah menikah dengan pria lain tanpa sepengetahuan Amir (mereka berdua tidak pernah berbicara lagi), sementara Dini berpendapat bahwa puisi "Tinggallah " ditulis tidak lama setelah Amir naik kapal Plancus, saat ia sangat rindu dengan ayah bundanya.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah dan kepulangan singkat ke Sumatera, Amir melanjutkan sekolahnya ke Algemene Middelbare School (AMS, sekolah menengah atas) yang dioperasikan Boedi Oetomo di Surakarta, Jawa Tengah, di mana ia mempelajari Sastra Timur dan bahasa, termasuk bahasa Jawa, Sansekerta, dan Arab. Lebih suka menyendiri ketimbang hiruk-pikuknya asrama, Amir lebih memilih menyewa kamar di sebuah rumah pribadi yang dimiliki oleh residen Surakarta. Kemudian ia bertemu dengan beberapa orang yang kelak menjadi penulis, termasuk Armijn Pane dan Achdiat Karta Mihardja; mereka segera menemukan bahwa Amir adalah seorang pelajar yang ramah, rajin, dan dengan catatan lengkap dan kamar tidur bersih (selimut dilipat dengan baik, Mihardja kemudian bercerita, bahwa "... lalat jang kesasar akan dapat tergelintjir atasnja"), tetapi juga seorang romantis; cenderung berpikir sedih di bawah cahaya lampu dan mengisolasi diri dari teman-teman sekelasnya.

Di Surakarta Amir bergabung dengan gerakan nasionalis. Dia akan bertemu dengan sesama perantau dari Sumatera dan mendiskusikan masalah sosial rakyat Melayu Nusantara di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Meskipun pemuda berpendidikan kala itu pada umumnya lebih memilih berbicara menggunakan bahasa Belanda, dia bersikeras bercakap dengan bahasa Melayu. Tahun 1930 Amir menjadi kepala cabang dari Indonesia Moeda di Surakarta, menyampaikan pidatonya dalam Kongres Pemuda 1930 dan mengabdi sebagai editor majalah organisasi itu, "Garoeda Merapi". Di sekolah dia kemudian bertemu dan jatuh cinta dengan Ilik Soendari, seorang gadis Jawa yang hampir seusia dengannya. Soendari, putri Raden Mas Koesoemodihardjo, adalah salah satu dari sedikit siswa perempuan di sekolah tersebut, dan rumahnya berada di dekat salah satu yang pernah ditinggali Amir. Menurut Dini, keduanya semakin dekat, Amir mengajari Soendari bahasa Arab, dan Soendari mengajarinya bahasa Jawa. Mereka segera bertemu setiap hari, bercakap-cakap tentang berbagai topik.


~ Ilik Soendari ~

Ibunda Amir meninggal pada tahun 1931, dan ayahnya setahun setelahnya; pendidikan Amir pun tidak bisa dibiayai lagi. Setelah studi AMS-nya rampung, ia ingin terus belajar di sekolah hukum di Batavia. Karena itu, ia menulis kepada saudaranya, Jakfar yang mengatur agar biaya sisa studinya dibayar oleh Sultan Langkat. Pada tahun 1932 Amir mampu kembali ke Batavia dan memulai studi hukumnya, mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai guru. Pada awalnya, hubungannya dengan Soendari dilanjutkan melalui surat, meskipun Soendari segera melanjutkan studinya di Lembang, sebuah kota yang jauh lebih dekat jaraknya ke Batavia daripada Surakarta, hal ini memungkinkan keduanya untuk bertemu diam-diam – ketika orangtua Soendari mengetahui hubungan mereka, Amir dan Soendari pun dilarang untuk bertemu.


Tahun tersebut, dua puisi pertama Amir, "Soenji" dan "Maboek ..." , diterbitkan dalam edisi Maret majalah Timboel. Delapan karyanya yang lain dipublikasikan tahun itu, termasuk sebuah syair berdasarkan Hikayat Hang Tuah, tiga puisi lainnya, dua potong puisi prosa, dan dua cerita pendek; puisi itu kembali diterbitkan dalam Timboel, sementara prosa tersebut terbit dalam majalah Pandji Poestaka. Sekitar September 1932 Armijn Pane, atas dorongan dari Sutan Takdir Alisjahbana, editor rubrik "Memadjoekan Sastera" (rubrik sastra Pandji Poestaka), mengundang Amir untuk membantu mereka mendirikan majalah sastra independen. Amir menerima, dan ditugasi menulis surat untuk meminta kiriman tulisan. Sejumlah lima puluh surat dikirimkan Amir kepada penulis-penulis yang sudah dikenal kala itu, termasuk empat puluh dikirimkan ke para kontributor "Memadjoekan Sastera". Setelah beberapa bulan persiapan, edisi awal diterbitkan pada bulan Juli tahun 1933, dengan judul Poedjangga Baroe. Majalah baru ini ada di bawah kendali editorial Armijn dan Alisjahbana, sementara Amir menerbitkan hampir semua tulisan-tulisannya yang berikutnya di sana.

Pada pertengahan 1933 Amir dipanggil kembali ke Langkat, di mana Sultan Langkat memberitahukan dua syarat yang harus Amir penuhi untuk melanjutkan studinya, yaitu menjadi siswa yang rajin, dan meninggalkan gerakan kemerdekaan Indonesia. Meskipun menghadapi penolakan Sultan Langkat, Amir menjadi terlibat lebih jauh dalam gerakan nasionalis, membawa dia ke bawah pengawasan Belanda yang semakin meningkat. Ia terus melanjutkan untuk menerbitkan karyanya dalam Poedjangga Baroe, termasuk serangkaian lima artikel tentang Sastra Timur dari bulan Juni sampai Desember 1934 dan terjemahan dari Bhagawad Gita dari 1933 sampai 1935. Namun studi hukumnya menjadi tertunda, bahkan belum merampungkan studinya pada tahun 1937.

Kembali ke Langkat

Belanda, khawatir tentang kecenderungan nasionalistik Amir, meyakinkan Sultan Langkat untuk menarik dia kembali ke Langkat; sebuah perintah yang tidak dapat ditolak oleh Amir. Tahun 1937, Amir bersama dengan dua pengikut Sultan Langkat yang bertugas mengawal dia, naik di kapal Opten Noort dari Tanjung Priok dan kembali ke Sumatera. Setelah tiba di Langkat, ia diberitahu bahwa ia akan menikah dengan putri tertua Sultan Langkat, Tengkoe Poeteri Kamiliah, seorang wanita yang hampir tak pernah ia temui sebelumnya. Sebelum pernikahannya, Amir kembali ke Batavia untuk menghadapi ujian kuliah terakhirnya – dan mengatur sebuah pertemuan terakhir dengan Soendari. Beberapa minggu kemudian ia kembali ke Langkat, di mana ia dan Kamiliah menikah dalam sebuah upacara mewah. Sepupunya, Tengkoe Boerhan, kemudian menyatakan bahwa ketidakpedulian Amir sepanjang upacara adat tujuh hari tersebut adalah karena Amir terus memikirkan Soendari.

Sekarang seorang pangeran di Langkat Hilir, Amir diberi gelar Tengkoe Pangeran Indra Poetera. Dia tinggal bersama Kamiliah di rumah mereka sendiri. Dalam semua kesaksian, Kamiliah adalah seorang istri yang taat dan penuh kasih, dan pada tahun 1939 pasangan ini memiliki anak tunggal mereka, seorang putri bernama Tengkoe Tahoera. 

Menurut Dini, Amir mengaku pada Kamiliah bahwa dia tidak pernah bisa mencintainya karena ia telah memiliki Soendari, dan bahwa ia merasa berkewajiban untuk menikahinya, pengakuan yang kabarnya diterima oleh Kamiliah. Amir menyimpan sebuah album dengan foto-foto Soendari, kekasih Jawanya di rumahnya dan sering mengisolasi dirinya dari keluarganya, tenggelam dalam pikirannya. Sebagai seorang pangeran Langkat, Amir menjadi seorang pejabat keraton, menangani masalah administrasi dan hukum, dan kadang-kadang juga menghakimi kasus pidana. Ia sempat mewakili Kesultanan Langkat di pemakaman Pakubuwono X di Jawa pada tahun 1939 – sebuah perjalanan terakhir Amir ke pulau Jawa.

Meskipun Amir hanya melakukan sedikit korespondensi dengan teman-temannya di Jawa, puisi-puisinya yang sebagian besar ditulis di Jawa terus diterbitkan dalam Poedjangga Baroe. Koleksi puisi pertamanya, Njanji Soenji, diterbitkan dalam edisi November 1937. Hampir dua tahun kemudian, pada Juni 1939, majalah tersebut menerbitkan kumpulan puisi yang telah diterjemahkan Amir, berjudul Setanggi Timoer ("Dupa dari Timur"). Pada Juni 1941, koleksi terakhirnya, Boeah Rindoe, diterbitkan. Semuanya kemudian diterbitkan sebagai buku. Sebuah buku terakhir, Sastera Melajoe Lama dan Radja-Radjanja, diterbitkan di Medan pada tahun 1942, terbitan ini didasarkan pada pidato radio yang disampaikan Amir.


Setelah invasi Jerman ke Belanda pada tahun 1940, pemerintah Hindia Belanda mulai mempersiapkan diri untuk kemungkinan invasi Jepang. Di Langkat, divisi Stadswacht (Angkatan Garda) dibentuk untuk membela Tanjung Pura di Langkat. Amir dan sepupunya Tengkoe Haroen bertanggung jawab atas angkatan garda ini; kaum bangsawan, dipercaya oleh masyarakat umum, dipilih untuk memastikan perekrutan rakyat jelata yang lebih mudah. Ketika invasi Jepang menjadi kenyataan pada awal tahun 1942, Amir adalah salah satu tentara yang dikirim ke Medan untuk mempertahankannya. Dia dan pasukan lainnya yang bersekutu dengan Belanda dengan cepat ditangkap oleh Tentara Jepang. Dia ditahan sebagai tawanan perang sampai tahun 1943, ketika pengaruh dari Sultan memungkinkan dia untuk dibebaskan. Sepanjang sisa masa pendudukan yang berlangsung sampai 1945 tersebut, Amir bekerja sebagai komentator radio dan sensor di Medan. Dalam posisinya sebagai pangeran, ia ditugasi untuk membantu mengumpulkan beras dari petani untuk memberi makan tentara pendudukan Jepang.

Pasca-kemerdekaan dan kematian

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, keseluruhan Pulau Sumatera dinyatakan sebagai bagian de facto dari negara Republik Indonesia yang baru lahir. Pemerintah pusat menetapkan Teuku Muhammad Hasan sebagai gubernur pertama pulau Sumatera, dan pada 29 Oktober 1945 Hasan memilih Amir sebagai wakil pemerintah Republik Indonesia di Langkat (di kemudian hari disamakan dengan bupati), dengan kantornya di Binjai; Amir menerima posisi tersebut dengan siap sedia, kemudian menangani berbagai tugas yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, termasuk meresmikan divisi lokal pertama dari Tentara Keamanan Rakjat (yang kelak menjadi Tentara Nasional Indonesia), membuka pertemuan berbagai cabang lokal dari partai politik nasional, dan mempromosikan pendidikan – terutama keaksaraan alfabet Latin.

Revolusi Nasional Indonesia sedang berkobar dengan berbagai pertempuran di Jawa, dan Republik Indonesia yang baru didirikan tidak stabil. Pada awal 1946, rumor menyebar di Langkat bahwa Amir telah terlihat bersantap dengan perwakilan pemerintah Belanda yang kembali ke Sumatera, dan bangsawan daerah menyadari tumbuhnya benih-benih kerusuhan dalam populasi jelata Langkat. Pada tanggal 7 Maret 1946 selama revolusi sosial yang dipimpin oleh faksi-faksi dari Partai Komunis Indonesia, sebuah kelompok Pemuda Sosialis Indonesia dengan kukuh menentang feodalisme dan kaum bangsawan, kekuasaan Amir dilucuti darinya dan ia ditangkap; sementara Kamiliah dan Tahoera lolos. Bersama dengan anggota-anggota keluarga keraton Langkat yang lain, Amir dikirim ke sebuah perkebunan yang dikuasai faksi Komunis di Kwala Begumit, sekitar 10 kilometer di luar Binjai. 

Potongan tulisan Amir terakhir, sebuah fragmen dari puisi 1941-nya Boeah Rindoe, kemudian ditemukan di selnya:
Wahai maut, datanglah engkau
Lepaskan aku dari nestapa
Padamu lagi tempatku berpaut
Disaat ini gelap gulita

Pada pagi hari 20 Maret 1946, Amir tewas dengan 26 orang tahanan lainnya dan dimakamkan di sebuah kuburan massal yang telah digali para tahanan tersebut; beberapa saudara Amir juga tewas dalam revolusi tersebut. Setelah dilumpuhkan oleh pasukan nasionalis, pemimpin revolusi tersebut diinterogasi oleh tim yang dipimpin oleh Adnan Kapau Gani; Adnan dilaporkan telah berulang kali menanyakan "Dimana Amir Hamzah?" selama penyelidikan seputar peristiwa tersebut. Pada tahun 1948 sebuah makam di Kwala Begumit digali dan jenazah yang ditemukan diidentifikasi oleh anggota keluarga; tulang belulang Amir berhasil diidentifikasi karena gigi palsu yang hilang. Pada November 1949 jenazahnya dikuburkan di Masjid Azizi di Tanjung Pura, Langkat. Atas jasa-jasanya, Amir Hamzah diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975, tanggal 3 November 1975.