TutupJangan Lupa Klik Like Dan Follow ya!

Tuesday, March 7, 2017

Mengenang Sayuti Melik, Wartawan Pengetik Naskah Proklamasi










Image result for sayuti melik

Usia Sayuti Melik baru 16 tahun ketika pertama kali merasakan dikurung dalam jeruji besi penjara. Saat itu tahun 1924 di Kecamatan Ambarawa, Jawa Tengah, Sayuti dituduh menghasut rakyat untuk bersikap dan bertindak anti-Belanda.

Pria kelahiran 25 November 1908 di Desa Kadilobo, Rejondani, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, ini memang dikenal sebagai pejuang yang menghabiskan “sebagian dari hidupnya di dalam penjara.” Tak heran jika cerita hidup Sayuti, yang mengembuskan napas terakhir pada hari ini, 27 Februari, tahun 1989, seperti perjalanan dari penjara ke penjara.


Tahun 1926, Sayuti bertemu lagi dengan jeruji besi setelah ditangkap di Cilacap, Jawa Tengah. “Di sini saya disiksa kemudian dikirim ke penjara Banyumas. Tahun 1927 dibuang ke Digul Atas (Boven Digul) dan baru kembali ke Pulau Jawa tahun 1933,” kata Sayuti seperti dikutip dari buku Wawancara dengan Sayuti Melik karya Arief Priyadi tahun 1986.

Penangkapan dan pembuangan Sayuti ke Digul waktu itu, dia sebut bertalian dengan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Enam tahun di Digul, Sayuti menghabiskan waktunya untuk belajar bahasa Inggris dan Perancis, serta mempelajari ilmu perjuangan dari para tokoh yang juga dibuang di kabupaten di Papua tersebut.

Digul bukan tempat terakhir Sayuti merasakan dipenjara. Tahun 1936 dia dipenjara di Singapura karena kedapatan mengirim surat ajakan rapat gerakan Liga Anti Imperialisme; bebas dari Singapura menuju Jakarta, Sayuti kembali ditangkap Polisi Rahasia Belanda dan digelandang ke Penjara Gang Tengah, Salemba, Jakarta, tahun 1937-1938.

Menikahi SK Trimurti
Hanya beberapa bulan setelah keluar dari Gang Tengah, Sayuti menikahi Soerastri Karma Trimurti, salah satu wartawan perempuan pertama di Indonesia dan juga pejuang yang seide dengan Sayuti. Pernikahan berlangsung pada Juli 1938, di rumah seorang kawan Sayuti bernama Kartopandoyo yang juga seorang Digulis, di kampung Kabangan, Solo.

Mirip dengan Sayuti yang “hobi” keluar masuk penjara, Trimurti juga mengalami hal yang sama. Bahkan saat pernikahan berlangsung, Trimurti sedang menjalani tahanan luar, setelah sebelumnya dipenjara karena terkena pers-delict—delik yang seharusnya dikenakan kepada Sayuti.

Sayuti menceritakan, surat kabar Sinar Selatan kala itu menerbitkan artikel yang dia tulis berisi anjuran agar orang Indonesia tidak membantu Belanda jika sewaktu-waktu direbut tentara Jepang. Tulisan itu juga meminta orang Indonesia juga tidak perlu membantu Jepang dan memanfaatkan waktu untuk menyusun kekuatan merebut kemerdekaan.

Sebagai mantan Digulis, artikel tersebut jelas membahayakan keselamatan Sayuti sehingga Trimurti yang kala itu menjadi Sekretaris Redaksi Sinar Selatan, memutuskan agar tulisan Sayuti dimuat atas namanya. Benar saja, Trimurti ditangkap Polisi Rahasia Belanda (PID).

Dalam perjalanan pernikahan mereka, suami istri ini lantas bergantian keluar masuk penjara. Pada suatu waktu tahun 1939, selama satu bulan, Sayuti dan Trimurti pernah sama-sama berada di dalam penjara. Anak pertama mereka, Musafir Karma Budiman, saat itu masih berusia sekitar enam bulan.

“Terpaksa si kecil Budiman saya titipkan ke Solo kepada kawan saya Kartopandoyo. Setelah Bu Tri bebas, ia diambil untuk dibawa ke Semarang,” tutur Sayuti.

Mendirikan Media Cetak
Kehidupan Sayuti banyak diisi dengan aktivitas perjuangan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia berjualan kain batik dari Yogyakarta ke Semarang. Pekerjaan sebagai pedagang kain itu tetap dia lakukan setelah menikah dengan Trimurti.

Menurut Sayuti, hasilnya pas-pasan dan pernah kena tipu satu dua kali. Trimurti tidak senang dengan kondisi itu dan memberi gagasan agar suaminya mendirikan usaha penerbitan yang sekaligus menjadi tempat menuangkan ide dan pemikiran perjuangan.

Sayuti menerima gagasan itu dan mendirikan Majalah Pesat, dengan menjual tempat tidur dan perabot rumah tangga lainnya untuk modal awal. Pendirian majalah ini lantas kembali mengantarkan Sayuti ke balik jeruji besi.

Kala itu, Pesat memuat artikel salah seorang pemimpin Islam di Solo dengan nama samaran Sribiantoro. Artikel itu dianggap berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda yang membuat Pesat berurusan dengan pengadilan.

“Saya lalu dijatuhi hukuman 20 bulan masuk penjara dan ditempatkan di Penjara Sukamiskin Bandung. Saya bebas sekitar pertengahan tahun 1941,” ucap Sayuti, masih mengutip buku setebal 382 halaman itu.

Selama di penjara, Sayuti tetap mengirimkan artikel untuk Pesat yang keberlangsungan penerbitannya dilanjutkan Trimurti. Majalah itu sukses menarik perhatian pembaca yang berimbas pada peningkatan oplah, hingga bisa berubah menjadi Harian Pesat tahun 1942.

Pada tahun yang sama, Jepang masuk ke Hindia Belanda dan di Semarang disambut dengan pembentukan Panitia Indonesia Merdeka. Namun atas perintah penguasa Jepang, panitia itu diminta menghentikan sementara kegiatannya, demikian juga aktivitas penerbitan, termasuk Harian Pesat.

Penjajah Jepang lantas mengajak kerja sama dalam pemerintahan dan penerbitan. Harian Pesat dibubarkan dan didirikan harian baru bersama Jepang, Sinar Baru. Sayuti ditunjuk sebagai Pemimpin Redaksi dengan seorang Jepang melakukan sensor terhadap konten surat kabar itu.

Tapi bukan Sayuti jika tidak tegas dan memegang prinsip. Dia menolak campur tangan Jepang atas konten pemberitaan Harian Sinar Baru, terutama untuk artikel yang dia tulis agar tidak diberlakukan sensor.
“Kalau masih disensor, lebih baik pemimpin redaksinya diganti saja. Saya tidak usah menjadi pemimpin redaksi,” katanya.

Prestasi di Penjara
Tahun 1942, Sayuti ditangkap Jepang, disiksa, dijatuhi vonis lima tahun, dan dimasukkan ke Penjara Ambarawa. Menurutnya, selain karena Jepang tidak menyukai dia yang kerap melakukan gerakan bawah tanah, dia juga terkena imbas dari tindakan yang dilakukan anggota partai politik saat itu.

Selama mendekam di bui, seperti biasa Sayuti tidak pernah meninggalkan kebiasaan menulis hingga ada sebuah sayembara mengarang dari Jawa Hookoo Kai Jakarta pada pertengahan tahun 1945. Sayembara bertajuk “Kemerdekaan dan Kebudayaan” itu sampai ke telinga Sayuti lewat Mantri Penjara bernama RM Hadikusumo.

Sayuti lantas diminta membuat karangan itu untuk dikirim ke Jakarta atas nama sang mantri. Sayuti menurut dan menulis konsepnya dengan tulisan tangan, yang selanjutnya diketik oleh seseorang bernama Sugijono. Tulisan Sayuti memenangkan hadiah nomor satu, tapi dia merendah.

“Saya kira bukan karena tulisannya baik, melainkan karena yang menjadi ketua dewan juri kebetulan almarhum Mohammad Yamin. Dia mengenal gaya tulisan saya dan tahu saya di Penjara Ambarawa. Hal ini dilaporkan ke Bung Karno dan diperintahkan agar diberi hadiah nomor satu,” tuturnya.

Karangan Sayuti lantas dicetak menjadi buku dan beredar di Ambarawa hingga Semarang.

Naskah Proklamasi
Sayuti pertama kali bertemu Soekarno, yang kelak menjadi Proklamator Kemerdekaan Indonesia, tahun 1926 di Bandung. Namun dalam buku Wawancara dengan Sayuti Melik, tak banyak hal yang dia ceritakan saat pertemuan pertama itu.

Dia hanya mengatakan, “Pada tahun dan tempat inilah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Bung Karno.”

Pada 15 Agustus 1945, Sayuti bercerita bahwa dia bertemu dengan Bung Karno di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur—sekarang menjadi Gedung Proklamasi. Saat itu, Sayuti sudah menjadi Asisten Pribadi Bung Karno.

Setelah dua jam berbincang, sejumlah pemuda datang ingin menemui Bung Karno dan menyampaikan berita bahwa Jepang sudah menyerah kepada sekutu pada siang hari itu. Perdebatan antara Bung Karno dan para pemuda terjadi.

Selanjutnya, menurut cerita Sayuti, rapat pada tanggal 16 Agustus 1945 sore itu bukanlah rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan melainkan rapat wakil-wakil bangsa Indonesia, yang dilakukan di kediaman Laksamana Madya Maeda, Jalan Imam Bonjol Nomor 1.

Penyusunan konsep itu hanya dilakukan oleh tiga orang yaitu Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo. Ditambah dia dan Sukarni menjadi lima orang.

“Tetapi kami berdua hanya menganggukkan kepala saja jika ditanya. Dalam proses penyusunan naskah itu yang banyak berbicara adalah Bung Hatta dan Subardjo, sedangkan Bung Karno yang menulisnya,” kata Sayuti.

Setelah naskah proklamasi selesai dibuat, Sayuti mengusulkan agar kalimat “Wakil-wakil Bangsa Indonesia” diubah menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”. Usul itu disetujui, disusul perintah Bung Karno kepada Sayuti, “Ti, Ti, tik, tik!”

Hari ini, kiprah Sayuti hanya bisa dikenang. Dia meninggal setelah sakit selama satu tahun, dan dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.



sumber : https://aksarainstitute.wordpress.com/2016/02/27/mengenang-sayuti-melik-wartawan-pengetik-naskah-proklamasi/

Buku Wawancara dengan Sayuti Melik, diterbitkan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) tahun 1986. (Dok. Aksara Institute)

Wednesday, February 8, 2017

Biografi Sam Ratulangi (Seri Pahlawan di Uang 2017)


Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi (lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890 – meninggal di Jakarta, 30 Juni 1949 pada umur 58 tahun) adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia dari Sulawesi Utara, Indonesia. Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Sam Ratulangi juga sering disebut-sebut sebagai tokoh multidimensional. Ia dikenal dengan filsafatnya: "Si tou timou tumou tou" yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.
Sam Ratulangi juga merupakan Gubernur Sulawesi yang pertama. Ia meninggal di Jakarta dalam kedudukan sebagai tawanan musuh pada tanggal 30 Juni 1949 dan dimakamkan di Tondano. Namanya diabadikan dalam nama bandar udara di Manado yaitu Bandara Sam Ratulangi dan Universitas Negeri di Sulawesi Utara yaitu Universitas Sam Ratulangi

Pendidikan

Sam Ratulangi mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar Belanda (Europesche Lagere School) di Tondano, lalu ia melanjutkannya di Hoofden School (Sekolah Raja:setingkat SMA), Tondano dan menyelesaikan Sekolah Teknik Koninginlijke Wilhelmina School (saat ini bernama SMK Negeri 1 Jakarta Budi Utomo) bagian mesin, Jakarta pada tahun 1908. Pada tahun 1915, Sam Ratulangi berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti (Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek) di Universitas Amsterdam (Universiteit van Amsterdam), Belanda. Pada tahun yang sama, ia melanjutkan studi ke Swiss dan mendapat gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr. Phil.) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Universitas Zürich tahun 1919.

https://id.wikipedia.org/wiki/Sam_Ratulangi

.

Biografi Frans Kaisiepo (Seri Pahlawan di Uang 2017


Frans Kaisiepo (lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1921 – meninggal di Jayapura, Papua, 10 April 1979 pada umur 57 tahun) adalah pahlawan nasional Indonesia dari Papua. Frans terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti tempat yang panas. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Papua antara tahun 1964 -1973. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak Selain itu namanya juga di abadikan di salah satu KRI yaitu KRI Frans Kaisiepo.
Pada tanggal 19 Desember 2016, ia diabadikan dalam uang kertas Rupiah baru pada pecahan Rp. 10.000,-

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Frans_Kaisiepo

Biografi Djoeanda Kartawidjaja (Seri Pahlawan di Uang 2017)


Ir. Raden Haji Djoeanda Kartawidjaja (ejaan baru: Juanda Kartawijaya) lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 14 Januari 1911 – meninggal di Jakarta, 7 November 1963 pada umur 52 tahun adalah Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Ia menjabat dari 9 April 1957 hingga 9 Juli 1959. Setelah itu ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I.
Sumbangannya yang terbesar dalam masa jabatannya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS).
Namanya diabadikan sebagai nama lapangan terbang di Surabaya, Jawa Timur yaitu Bandara Djuanda atas jasanya dalam memperjuangkan pembangunan lapangan terbang tersebut sehingga dapat terlaksana. Selain itu juga diabadikan untuk nama hutan raya di Bandung yaitu Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, dalam taman ini terdapat Museum dan Monumen Ir. H. Djuanda.
Djuanda wafat di Jakarta 7 November 1963 karena serang jantung dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.244/1963 Ir. H. Djuanda Kartawidjaja diangkat sebagai tokoh nasional/pahlawan kemerdekaan nasional.
Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikan beliau di pecahan uang kertas rupiah baru NKRI, pecahan Rp. 50.000

Awal Kehidupan dan Pendidikan 

Ir. H. Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya, 14 januari 1911, merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS). Pendidikan sekolah dasar diselesaikan di HIS dan kemudian pindah ke sekolah untuk anak orang Eropa Europesche Lagere School (ELS), tamat tahun 1924. Selanjutnya oleh ayahnya dimasukkan ke sekolah menengah khusus orang Eropa yaitu Hoogere Burgerschool te Bandoeng (HBS Bandung, sekarang ditempati SMA Negeri 3 Bandung dan SMA Negeri 5 Bandung) dan lulus tahun 1929. Pada tahun yang sama dia masuk ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) sekarang Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung, mengambil jurusan teknik sipil dan lulus tahun 1933. Semasa mudanya Djuanda hanya aktif dalam organisasi non politik yaitu Paguyuban Pasundan dan anggota Muhamadiyah, dan pernah menjadi pimpinan sekolah Muhamadiyah. Karier selanjutnya dijalaninya sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum provinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak tahun 1939.
Ir. H. Djuanda seorang abdi negara dan abdi masyarakat. Dia seorang pegawai negeri yang patut diteladani. Meniti karier dalam berbagai jabatan pengabdian kepada negara dan bangsa. Semenjak lulus dari TH Bandung (1933) dia memilih mengabdi di tengah masyarakat. Dia memilih mengajar di SMA Muhammadiyah di Jakarta dengan gaji seadanya. Padahal, kala itu dia ditawari menjadi asisten dosen di TH Bandung dengan gaji lebih besar.
Setelah empat tahun mengajar di SMA Muhammadiyah Jakarta, pada 1937, Djuanda mengabdi dalam dinas pemerintah di Jawatan Irigasi Jawa Barat. Selain itu, dia juga aktif sebagai anggota Dewan Daerah Jakarta.

Deklarasi Juanda dan Perundingan lainnya

Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada tanggal 13 Desember 1957 oleh Perdana Menteri Indonesia pada saat itu, Djuanda Kartawidjaja, deklarasi ini menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.
Isi dari Deklarasi Juanda ini menyatakan:
  1. Bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri
  2. Bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan
  3. Ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia dari deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan :
    1. Untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat
    2. Untuk menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan asas negara Kepulauan
    3. Untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI

https://id.wikipedia.org/wiki/Djoeanda_Kartawidjaja

Biografi Idham Chalid (Seri Pahlawan di Uang 2017)


Dr. KH. Idham Chalid (lahir di Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921 – meninggal di Jakarta, 11 Juli 2010 pada umur 88 tahun) adalah salah satu politisi Indonesia yang berpengaruh pada masanya. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR. Selain sebagai politikus ia aktif dalam kegiatan keagamaan dan ia pernah menjabat Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1956 -1984.
Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikan beliau di pecahan uang kertas rupiah baru, pecahan Rp. 5.000,-

Latar Belakang

Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1921 di Satui, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Ia merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai yang sekitar 200 kilometer dari Kota Banjarmasin. Saat usia Idham enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Riwayat

Sejak kecil Idham dikenal sangat cerdas dan pemberani. Saat masuk SR ia langsung duduk di kelas dua dan bakat pidatonya mulai terlihat dan terasah. Keahlian berorasi itu kelak menjadi modal utama Idham Chalid dalam meniti karier di jagat politik.
Selepas SR, Idham melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Ar-Rasyidiyyah pada tahun 1922. Idham, yang sedang tumbuh dan gandrung dengan pengetahuan, mendapatkan banyak kesempatan untuk mendalami bahasa Arab, bahasa Inggris, dan ilmu pengetahuan umum. Kemudian Idham melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Gontor yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur. Kesempatan belajar di Gontor juga dimanfaatkan Idham untuk memperdalam bahasa Jepang, Jerman, dan Prancis.
Tamat dari Gontor, 1943, Idham melanjutkan pendidikan di Jakarta. Di ibukota, kefasihan Idham dalam berbahasa Jepang membuat penjajah Dai-Nipon sangat kagum. Pihak Jepang juga sering memintanya menjadi penerjemah dalam beberapa pertemuan dengan alim ulama. Dalam pertemuan-pertemuan itulah Idham mulai akrab dengan tokoh-tokoh utama NU.
Ketika Jepang kalah perang dan Sekutu masuk Indonesia, Idham Chalid bergabung ke dalam badan-badan perjuangan. Menjelang kemerdekaan, ia aktif dalam Panitia Kemerdekaan Indonesia Daerah di kota Amuntai. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia bergabung dengan Persatuan Rakyat Indonesia, partai lokal, kemudian pindah ke Serikat Muslim Indonesia.
Tahun 1947 ia bergabung dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan, yang dipimpin Hasan Basry yang juga muridnya saat di Gontor. Usai perang kemerdekaan, Idham diangkat menjadi anggota Parlemen Sementara RI mewakili Kalimantan. Tahun 1950 ia terpilih lagi menjadi anggota DPRS mewakili Masyumi. Ketika NU memisahkan diri dari Masyumi, tahun 1952, Idham memilih bergabung dengan Partai Nahdlatul Ulama dan terlibat aktif dalam konsolidasi internal ke daerah-daerah.
Idham memulai kariernya di NU dengan aktif di GP Ansor. Tahun 1952 ia diangkat sebagai ketua PB Ma’arif, organisasi sayap NU yang bergerak di bidang pendidikan. Pada tahun yang sama ia juga diangkat menjadi sekretaris jenderal partai, dan dua tahun kemudian menjadi wakil ketua. Selama masa kampanye Pemilu 1955, Idham memegang peran penting sebagai ketua Lajnah Pemilihan Umum NU.
Sepanjang tahun 1952-1955, ia, yang juga duduk dalam Majelis Pertimbangan Politik PBNU, sering mendampingi Rais Am K.H. Abdul Wahab Hasbullah berkeliling ke seluruh cabang NU di Nusantara.
Dalam Pemilu 1955, NU berhasil meraih peringkat ketiga setelah PNI dan Masyumi. Karena perolehan suara yang cukup besar dalam Pemilu 1955, pada pembentukan kabinet tahun berikutnya, Kabinet Ali Sastroamidjojo II, NU mendapat jatah lima menteri, termasuk satu kursi wakil perdana menteri, yang oleh PBNU diserahkan kepada Idham Chalid. Pada Muktamar NU ke-21 di Medan bulan Desember tahun yang sama, Idham terpilih menjadi ketua umum PBNU. Saat dipercaya menjadi orang nomor satu NU ia masih berusia 34 tahun. Jabatan tersebut dijabatya hingga tahun 1984 dan menjadikannya orang terlama yang menjadi ketua umum PBNU selama 28 tahun.
Kabinet Ali Sastroamijoyo hanya bertahan setahun, berganti dengan Kabinet Djuanda. Namun Idham Chalid tetap bertahan di posisi wakil perdana menteri sampai Dekret Presiden tahun 1959. Idham kemudian ditarik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan setahun kemudian menjadi wakil ketua MPRS.
Pertengahan tahun 1966 Orde Lama tumbang dan tampillah Orde Baru. Namun posisi Idham di pemerintahan tidak ikut tumbang. Dalam Kabinet Ampera I, Kabinet Ampera II dan Kabinet Pembangunan I yang dibentuk Soeharto, ia dipercaya menjabat Menteri Kesejahteraan Rakyat. Kemudian, di akhir tahun 1970 dia juga merangkap jabatan sebagai Menteri Sosial untuk melanjutkan tugas dari mendiang A.M. Tambunan yang telah meninggal dunia pada 12 Desember 1970 sampai dengan terpilihnya pengganti yang tetap sampai akhir masa bakti Kabinet Pembangunan I pada tahun 1973.
Nahdlatul Ulama di bawah kepemimpinan Idham kembali mengulang sukses dalam Pemilu 1971. Namun setelah itu pemerintah melebur seluruh partai menjadi hanya tiga partai: Golkar, PDI, dan PPP dan NU tergabung di dalam PPP.
Idham Chalid menjabat presiden PPP, yang dijabatnya sampai tahun 1989. Ia juga terpilih menjadi ketua MPR/DPR RI sampai tahun 1977. Jabatan terakhir yang diemban Idham Chalid adalah ketua Dewan Pertimbangan Agung sampai tahun 1983.

Pahlawan nasional

Idham Chalid diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, bersama dengan 6 tokoh lain, berdasarkan Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Idham_Chalid

Biografi M. H. Thamrin (Seri Pahlawan di Uang 2017)

Mhthamrin-cropped.jpg


Kehidupan awal

Thamrin lahir di Weltevreden, Batavia (sekarang Jakarta), Hindia Belanda, pada 16 Februari 1894. Ayahnya adalah seorang Belanda dengan ibu orang Betawi. Sejak kecil ia dirawat oleh pamannya dari pihak ibu karena ayahnya meninggal sehingga ia tidak menyandang nama Belanda. Sementara itu kakeknya, Ort, seorang Inggris, merupakan pemilik hotel di bilangan Petojo, menikah dengan seorang Betawi yang bernama Noeraini.
Ayahnya, Tabri Thamrin, adalah seorang wedana dibawah gubernur jenderal Johan Cornelis van der Wijck. Setelah lulus dari Gymnasium Koning Willem III School te Batavia, Thamrin mengambil beberapa jabatan sebelum bekerja di perusahaan perkapalan Koninklijke Paketvaart-Maatschappij.
Munculnya Muhammad Husni Thamrin sebagai tokoh pergerakan yang berkaliber nasional tidaklah tidak mudah. Untuk mencapai tingkat itu ia memulai dari bawah, dari tingkat lokal. Dia memulai geraknya sebagai seorang tokoh (lokal) Betawi. Sebagaimana telah disinggung  pada  bab  terdahulu, Muhammad Husni  Thamrin sejak muda telah memikirkan nasib masyarakat Betawi yang sehari-hari dilihatnya. Sebagai anak wedana, dia tidaklah terpisah dari rakyat "Jelata". Malah dia sangat dekat dengan mereka. Sebagaimana anak-anak sekelilingnya, yang terdiri dari anak-anak rakyat  jelata, dia pun tidak canggung-canggung untuk mandi-mandi bersama di Sungai Ciliwung. Dia tidak canggung-canggung  untuk tidur bersama mereka sebagaimana yang pernah disaksikan oleh ayahnya sendiri. Kelincahannya sebagai pemimpin agaknya telah menampak sejak masih  usia "remaja".

Karier

Pada tahun 1929 telah terjadi suatu insiden penting di dalam Gemeenteraad, yaitu yang menyangkut pengisian lowongan jabatan wakil wali kota Betawi (Batavia). Tindakan pemerintah kolonial ketika  itu memang sangat tidak bijaksana karena ternyata lowongan jabatan itu  diberikan kepada orang Belanda yang kurang berpengalaman, sedang untuk jabatan itu ada orang Betawi yang jauh lebih berpengalaman dan pantas untuk jabatan itu. Tindakan pemerintah ini mendapat reaksi keras dari fraksi  nasional, bahkan mereka mengambil langkah melakukan pemogokan. Ternyata usaha  mereka berhasil dan pada  akhirnya Muhammad Husni Thamrin diangkat sebagai wakil wali kota  Batavia.
Dua tahun sebelum kejadian di atas, Muhammad Husni Thamrin memang telah melangkahkan kakinya ke medan perjuangan yang lebih berat karena dia ditunjuk sebagai anggota lembaga yang lebih luas jangkauannya dan lebih  tinggi  martabatnya. Pada tahun  1927 ditunjuk sebagai anggota Volksraad untuk mengisi lowongan yang dinyatakan kosong oleh Gubernur Jenderal. Pada mulanya kedudukan itu ditawarkan kepada HOS. Cokroaminoto tetapi ditolak. Kemudian ditawarkan lagi kepada Dr. Sutomo tetapi juga dia  menolak. Dengan penolakan kedua tokoh besar ini, maka dibentuklah suatu panitia, yaitu panitia Dr. Sarjito yang akan memilih seorang yang dianggap pantas untuk menduduki kursi Volksraad yang lowong. Panitia Dr. Sarjito akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada Muhammad Husni Tharnrin. Alasan yang dikemukakannya ialah bahwa Muhammad Husni Thramrin cukup pantas menduduki kursi itu mengingat pengalamannya sebagai anggota Gemeenteraad.
Pada tahun pengangkatannya sebagai anggota Volksraad, keadaan di Hindia Belanda mengalami perubahan yang sangat penting yakni adanya sikap pemerintah kolonial yang keras, lebih bertangan besi. Ini adalah salah satu akibat yang paling "buruk" yang lahir dari terjadinya  pemberontakan 1926 dan 1927. Akan tetapi di lain pihak ketika memasuki tahun 1927 itu pula, langkah pergerakan nasional kita juga mengalami perubahan sebagai akibat dari didirikannya PNI dan munculnya Bung Karno sebagai pemimpin utamanya.
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Volksraad ("Dewan Rakyat") di Hindia Belanda, mewakili kelompok Inlanders ("pribumi"). Thamrin juga salah satu tokoh penting dalam dunia sepak bola Hindia Belanda karena pernah menyumbangkan dana sebesar 2.000 Gulden pada tahun 1932 untuk mendirikan lapangan sepak bola khusus untuk rakyat Hindia Belanda pribumi yang pertama kali di daerah Petojo, Batavia.
Pada tanggal 11 Januari 1941 Muhammad Husni Thamrin wafat setelah sakit beberapa waktu lamanya. Akan tetapi beberapa saat sebelum kewafatannya, pemerintah kolonial telah melakukan tindakan "sangat kasar" terhadap dirinya. Dalam keadaan sakit, ia harus menghadapi perlakuan kasar yaitu rumahnya digeledah oleh polisi-polisi rahasia Belanda (PID). Ia memprotesnya tetapi tidak diindahkan. Sejak itu rumahnya dijaga ketat oleh PID dan tak seorangpun dari rumahnya yang diperbolehkan meninggalkan rumah tanpa seizin polisi, juga termasuk anak perempuannya sekalipun utntuk pergi ke sekolah. Tindakan  polisi Belanda itu tentulah sangat menekan perasaannya dan menambah parah sakitnya. Wafatnya Muhammad Husni Thamrin tentulah sangat besar artinya bagi bangsa Indonesia. Bangsa  Indonesia telah kehilangan salah seorang pemimpinnya yang cerdas dan berwibawa
Menurut laporan resmi, ia dinyatakan bunuh diri namun ada dugaan ia dibunuh. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Di saat pemakamannya, lebih dari 10.000 pelayat mengantarnya yang kemudian berdemonstrasi menuntuk penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan dari Belanda.
Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta dan proyek perbaikan kampung besar-besaran di Jakarta ("Proyek MHT") pada tahun 1970-an .
Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikan beliau di pecahan uang kertas rupiah baru, pecahan Rp. 2.000,- 

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Husni_Thamrin

Biografi Cut Meutia (Seri Pahlawan di Uang 2017)

Cut Nyak Meutia.jpg

Tjoet Nyak Meutia (Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, 1870 – Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910) adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Ia menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.
Awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.
Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nagroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya dibawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910.
Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Tjoet Njak Meutia gugur.
Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikannya dalam pecahan uang kertas rupiah baru Republik Indonesia, pecahan Rp1.000.

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Cut_Nyak_Meutia