TutupJangan Lupa Klik Like Dan Follow ya!

Saturday, August 30, 2014

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo ; Jurnalis – Organisatoris - Propagandis



 

~ Usia bukanlah berapa lama kita hidup, tetapi berapa lama kita akan dikenang dalam kehormatan

Seorang besar acapkali baru terasa kadar kebesarannya tatkala dia sudah tiada. Dan selalu saja kita terlambat menyadarinya. Tak terbilang tokoh yang terlepas dari kesadaran historis kita, entah karena pemburaman ‘sejarah’ yang memang sering dikuasai kaum yang menang atau lantaran kita tak pernah sungguh-sungguh jujur dalam menilai kembali ‘sejarah’ kita sendiri. Dan karenanya, kita telah melupakan satu nama: Tirto Adhi Suryo. Sungguh ironis, mengingat dia adalah sosok paling penting bagi bangkitnya pergerakan kaum terdidik Indonesia. Tirto, pertama-tama harus diletakkan dalam setting sosial pergerakan nasional bangkitnya pers pribumi, pintu gerbang bagi, terutama, kaum terjajah ke alam demokrasi modern. Dan Tirto lah sang pemulanya. Tulisan-tulisannya yang tajam mengajarkan kaum terjajah untuk bangkit dan berani melawan kesewenangan kolonial, menjadi kaum mardika.

Pram (Pramoedya Ananta Toer), adalah salah satu sastrawan Indonesia yang paling berhasil menghidupkan kisah seorang tokoh nyata ke dalam roman bertema sejarah. Dalam karya novel fenomenalnya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), Pram mengangkat sepak terjang tokoh kelahiran Blora, Jawa Tengah, yang digelari Bapak Pers Nasional, yaitu Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (1880-1918).

Dalam kisah yang dibuatnya pada masa pengasingan di Pulau Buru (1969-1979) itu, Pram menghidupkan sosok Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo dalam pribadi tokoh bernama Minke.

Meski sebagai putra seorang bangsawan Jawa, sosok Minke digambarkan Pram sebagai tokoh yang merangkak dari bawah untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya di hadapan penjajah Belanda.
Pada Bumi Manusia, Pram menggambarkan awal kisah cinta dramatis Minke dengan Annelies, Bunga Akhir Abad, seorang peranakan Belanda dengan pribumi bernama Sanikem yang kemudian lebih dikenal dengan nama Nyai Ontosoroh. Sosok Nyai Ontosoroh yang tegar dan lebih terpelajar ketimbang orang Belanda kemudian menjadi guru panutan Minke di kemudian hari.

Diawali dengan mengeyam pendidikan di sekolah Belanda HBS, Minke kemudian masuk sekolah kedokteran STOVIA di Batavia, dia kemudian lebih senang dengan dunia tulis-menulis sehingga pendidikannya terbengkalai dan dia dikeluarkan dari sekolah kedokterannya.

Pada awal kiprahnya menulis untuk surat kabar, Minke menulis dalam bahasa Belanda, bahasa penjajah yang ketika itu hanya mampu dibaca oleh golongan atas terpelajar, bukan masyarakat kelas bawah, pribumi.
Hingga akhirnya suatu kali dalam Anak Semua Bangsa, Minke diperingatkan oleh sahabatnya seorang pelukis Prancis mantan tentara berkaki buntung, Jean Marais. Dia mengatakan bahasa Melayu lebih banyak dipergunakan di Hindia Belanda ketika itu ketimbang bahasa Belanda.


“Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu. Kau tak kenal bangsamu sendiri,” kata Jean Marais.


Sebuah dakwaan yang menyakitkan bagi Minke, sekaligus membangkitkan didih semangat. Kata-kata itu kemudian selalu terngiang di kepalanya.

Orang bilang, ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya. Sejak saat itu Minke tahu benar akan tujuan hidupnya dan bertekad menyadarkan masyarakat bangsanya dengan menulis dalam bahasa Melayu. Dia bahkan dikisahkan belajar langsung mengenal seluk beluk kehidupan rakyat jelata dari seorang petani Jawa bernama Trunodongso.

Pengalaman hidup tinggal bersama keluarga Trunodongso dan merasakan sendiri pergulatan mereka membawanya kepada kesimpulan: dunia harus tahu bagaimana para petani Jawa terusir dari sawahnya. Dunia harus tahu selama ini rakyat jelata mengalami ketidakadilan. Minke kemudian menuliskan kisah kehidupan Trunodongso dalam bahasa Melayu.

Sepak terjang Minke atau Tirto Adhie Soerjo dalam perannya mendirikan organisasi dan surat kabar digambarkan Pram dengan lebih gamblang dalam Jejak Langkah.

Pada buku ketiga dari Tetralogi Buru ini Minke dikisahkan mendirikan organisasi pribumi pertama di masa pergerakan nasional yaitu Sarekat Priyayi pada 1904. Tiga tahun kemudian, pada 1907, dia mendirikan surat kabar dengan nama Medan Priyayi di Bandung. Koran ini dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan, dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.

Dengan Medan Priyayi Minke menjadi sosok yang lebih berani terang-terangan menyatakan ketidakadilan dan kebusukan penjajah Belanda hingga dia akhirnya harus ditangkap dan diasingkan.

Di penghujung perjalanan hidupnya dalam Rumah Kaca, Minke tetap dikagumi tak hanya oleh bangsanya sendiri tapi juga oleh penjajah Belanda. Dia tetap menyatakan perlawanannya terhadap penjajah dan menyerukan kebangkitan kesadaran kepada bangsanya, seperti tertuang dalam kata-kata yang diucapkannya menjelang akhir hayat :


“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka ‘kemajuan’ sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”


Karya Pram ini mendapat penghargaan dari seluruh dunia dan diakui sebagai karya sastra terbaik. Karya ini sempat dibredel saat Orde Baru berkuasa karena dianggap menyebarkan paham Marxisme. Walau lagi-lagi tak jelas, mana paham Marxisme yang terdapat di buku ini.

 

Membaca Tirto lewat Sang Pemula

Jika dalam Tetralogi yang di tulisannya semasa di pengasingan Pulau Buru 1969-1979 Pramoedya menceritakan sosok Tirto dalam roman sejarah melalui kisah hidup tokoh Minke maka dalam Sang Pemula Pramoedya menggambarkan sepak terjang Tirto dalam bentuk biografi.

Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS) lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 1880. Djokomono adalah nama masa kecilnya. Putra bangsawan Jawa ini mengenyam pendidikan di sekolah HBS Belanda kemudian melanjutkan studi sebagai mahasiswa kedokteran di STOVIA, Batavia. Namun TAS tak menyelesaikan sekolah dokternya lantaran dia lebih sibuk menulis di media massa.


Perjalanan nasib membawanya pindah ke Bandung dan menikah. Di Bandung TAS menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905) dan Medan Prijaji (1907) serta Putri Hindia (1908). Medan Prijaji beralamat di jalan Naripan Bandung yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK).
Medan Prijaji dianggap sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh proses produksi dan penerbitannya ditangani pribumi Indonesia asli.

Menurut catatan Dr. Rinkes, Medan Prijaji diminati oleh masyarakat karena dalam salah satu rubrik terdapat penyuluhan hukum gratis. Simpati pun datang melimpah dari masyarakat hingga pada tahun ketiga tepatnya Rebo 5 Oktober 1910, Medan Prijaji berubah menjadi harian dengan 2000 pelanggan.

Medan Prijaji merupakan Koran pertama di Indonesia dibawah naungan TAS. Koran ini dianggap sebagai Koran pertama di Indonesia. Koran pertama ini disebabkan hampir seluruh karyawan Medan Prijaji adalah Boemi Poetra atau penduduk Indonesia dengan menggunakan bahasa melayu.

Koran yang berpusat di kota Bandung ini memposisikan diri sebagai corong suara publik dengan moto “Orgaan Boeat bangsa jang terperentah di H.O. tempat akan memboeka swaranya anak-Hindia” salah satu moto yang dianggap berani dan membentuk opini umum.

Tulisan-tulisan TAS yang begitu berani langsung menuding muka orang. Tak ada bijakan kolonial yang dianggap memberatkan rakyat luput dari penanya. Koran ini benar-benar menjadi ajang”perkelahian” dibeberapa daerah seperti Banten, Rembang, Cilacap, Bandung. Tulisan-tulisannya kerap diperkaarakan oleh ppihak yang merasa disudutkan dari pemberitaannya.

Salah satu kasus dari sekian banyak tulisan di muat pada Medan Prijaji No. 19-1909 mendappat dukungan 236 warga desa Bapangan Purworejo yang pasang badan. Pada gilirannya tulisan ini memuat TAS dibuang selama 2 bulan di Lampung. Kasus ini kemudian mendapat perhatian pers Belanda.

Selain di bidang pers, TAS juga aktif dalam pergerakan nasional. Dua tahun sebelum Budi Utomo lahir TAS telah mendirikan Sarekat Priyayi, organisasi pribumi pertama bercorak modern, berwawasan bangsa ganda Hindia, dan menggunakan lingua pranca Melayu sebagai bahasa bangsa-bangsa yang terperentah. Syarikat Priayi berhasil melahirkan Medan Priyayi pada 1907 yang membuat nama TAS semakin menonjol.

Kemudian TAS mendirikan Sarikat Dagang Islam di Jakarta yang kelak berubah menjadi Sarekat Islam bersama H.O.S. Tjokroaminoto.

Pada tahun 1909, TAS membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon. Delik pers pun terjadi, TAS dituduh menghina pejabat Belanda, terkena Drukpersreglement 1856 (ditambah Undang-undang pers tahun 1906). Meskipun TAS memiliki forum privilegiatum (sebagai ningrat, keturunan Bupati Bojonegoro) ia dibuang ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan.

Pada pertengahan kedua tahun 1910, Medan Prijaji diubah menjadi harian ditambah edisi Mingguan, dan dicetak di percetakan Nix yang beralamat di Jalan Naripan No 1 Bandung. Masa kejayaan Medan Prijaji antara 1909-1911 dengan tiras sebanyak 2000 eksemplar.

Pemberitaan-pemberitaan harian Medan Prijaji sering dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda saat itu. Di tahun 1912 Medan Prijaji terkena delik pers yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami Raden Adjeng Kartini) menggantikan ayahnya. TAS pun dijatuhi pembuangan ke pulau Bacan di Halmahera selama 6 bulan.

Sekembali dari Ambon, pada 1914-1918, TAS sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada 7 Desember 1918. Mula-mula dia dimakamkan di Mangga Dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973.

Di nisannya tertulis, Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia, Layaklah ia disebut sebagai Bapak Pers Nasional.

Pada tanggal 7 Desember 1918, seperti digambarkan oleh mas Marko, seorang murid dan pengagum Tirto, dalam tulisannya: “dengan diantar rombongan sangat kecil jenazahnya dibawa ke peristirahatan terakhirnya di Mangga Dua.” Tak satupun koran memuat kabar kematiannya. Ia benar-benar telah dilupakan oleh bangsanya, yang dicintai, dan dididiknya untuk maju. Sementara itu, perjuangan pembebasan umat manusia, yang merupakan bagian terbesar dari seluruh perjuangan hidup dan cita-cita Tirto Adhi Soeryo, lambat laun mengalun. Ia telah terbaring tenang.

Sebagaimana ditulis Pram dalam Sang Pemula: “ Seperti jamak menimpa seorang pemula, terbuang setelah madu mulia habis terhisap, sekiranya ia tak mulai tradisi menggunakan pers sebagai alat perjuangan dan pemersatu dalam masyarakat heterogen seperti Hindia, bagaimana sebuah nation seperti Indonesia akan terbentuk?” **

Pramoedya dalam Sang Pemula seolah ingin menyeru sekaligus menunjukkan kepada bangsa ini bahwa Indonesia pernah punya seorang pejuang berpena tajam pembela kaum tertindas yang ditakuti penjajah Belanda. Sebagaimana ditulis Pramoedya dalam Jejak Langkah, tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya.

Melalui sosok TAS, Pramoedya sesungguhnya mengingatkan akan pentingnya keberanian dalam menulis. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.


Benarkah Tirto seorang komunis?

Berkat Pram, sosok Tirto mulai dikenal. Tapi karena Pram pula Orde Baru menganggap Tirto adalah seorang komunis. Pramoedya adalah tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang dicap sebagai organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh Orde Baru. Pram juga sempat dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik.

Karena itu peran Tirto seolah tersisihkan dari sejarah.Pemerintah Indonesia baru memberikan gelar pahlawan Nasional pada tahun 2006. 100 Tahun setelah Tirto mendirikan surat kabar Medan Prijaji tahun 1906. Inilah surat kabar pertama yang dikelola pribumi dan berani mengkritisi pemerintah kolonial Belanda.

Sebelumnya Tahun 1973 pemerintahan Soeharto merasa cukup dengan memberikan gelar ‘Perintis Pers Indonesia’ pada Tirto.

Keluarga Tirto pun meyakini leluhur mereka bukan seorang komunis. Okky Tirto adalah keturunan Tirto yang menjadi wartawan, aktivis sekaligus pemerhati sejarah. Pada merdeka.com, dia membeberkan langkah politik Tirto.

“Paham komunis yang dibawa HFJ Sneevliet itu baru masuk sekitar tahun 1913. Sementara kalau kita lihat tahun 1913 itu Tirto sudah mengalami kemunduran. Koran-koran Tirto sudah dibredel semua dan dia dibuang ke Ambon. Jadi tentu Tirto bukan komunis, karena komunis baru muncul setelah karir politik Tirto berakhir,” kata Okky.
Okky menilai Pram mengidolakan Tirto bukan karena Tirto seorang komunis. Tetapi lebih karena peran Tirto di awal kebangkitan nasional. Tirto adalah tokoh terpenting saat awal pergerakan nasional. Dia menjadikan pers sebagai bentuk perlawanan pada kolonialisme.

Secara sederhana ideologi yang digunakan Tirto adalah menyatukan semua golongan senasib. Semua dipersatukan sebagai kaum terjajah atau yang disebutnya bangsa yang terprentah. Sementara Tirto menyasar golongan menengah untuk bergerak. Dia berpendapat kelas menengah bisa mendorong perubahan.

Hal ini terlihat dari slogan surat kabar Medan Prijaji yang didirikannya. “Bagi raja-raja, bangsawan baik usul dan pikiran (kaum intelektual), priyayi, hingga saudagar yang dipersamakan dengan Anak Negeri di seluruh Hindia Belanda.”

Tirto mendirikan organisasi modern pertama ‘Sarikat Prijayi’ tahun 1906. Dua tahun sebelum Boedi Utomo lahir tahun 1908. Sarikat Prijaji dinilai lebih mencerminkan nasionalisme karena menggunakan bahasa Melayu dan keanggotaannya bebas. Sementara Boedi Utomo berbahasa Jawa dan khusus untuk priyayi Jawa.

Sarikat Priyayi didirikan di Batavia. Organisasi awal ini bertujuan membantu para pelajar dengan menyediakan pemondokan, beasiswa dan buku-buku.

Tirto juga bergabung dengan Boedi Oetomo. Tapi dia tidak kerasan karena Boedi Oetomo lebih didominasi tokoh-tokoh tua yang tidak progresif.

Tahun 1909, Tirto mendirikan Sarikat Dagang Islamiyah (SDI). Perkumpulan ini dibuat untuk melawan monopoli pedagang China. Tirto menyebut anggota serikat ini ‘Vrije Burgers’ atau ‘Kaum Mardika’. Mereka yang menggantungkan hidupnya bukan sebagai pegawai kolonial Hindia Belanda. Kaum Mardika ini beranggotakan masyarakat menengah yang bekerja sebagai pedagang dan petani.

Memang pada perkembangannya SDI berkembang menjadi Sarikat Islam. Kemudian beberapa tokoh Sarikat Islam terpengaruh komunis dan sehingga ada aliran SI perah dan SI putih. Tapi itu terjadi tahun 1919, saat Tirto sudah meninggal dan tak lagi mengurusi SDI sejak lama.

Tirto memang bukan komunis, tapi sejarawan Orde Baru tak pernah mengkajinya. Tanpa takaran yang jelas, enak saja cap komunis atau bukan komunis diberikan pada seseorang. Maka gelar pahlawan buat tokoh ini pun harus menunggu 100 tahun.

Jangan salahkan ketidaktahuan, tapi hanya yang bebal yang tetap hidup dalam ketidakmengertian…


sumber : http://serbasejarah.wordpress.com/2013/02/11/raden-mas-djokomono-tirto-adhi-soerjo-t-a-s-jurnalis-organisatoris-propagandis/

Wednesday, April 30, 2014

Kumpulan Puisi Muhammad Yamin

INDONESIA TUMPAH DARAHKU
Pasundan, 26 Oktober 1928

Bersatu kita teguh
Bercerai kita jatuh

Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gunung bagus rupanya
Dilingkari air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya

Lihatlah kelapa melambai-lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-cerai
Memagar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejar bumi ayah dan ibu
Indonesia namanya. Tanah airku

Tanahku bercerai seberang-menyeberang
Merapung di air, malam dan siang
Sebagai telaga dihiasi kiambang
Sejak malam diberi kelam
Sampai purnama terang-benderang
Di sanalah bangsaku gerangan menompang
Selama berteduh di alam nan lapang

Tumpah darah Nusa India
Dalam hatiku selalu mulia
Dijunjung tinggi atas kepala
Semenjak diri lahir ke bumi
Sampai bercerai badan dan nyawa
Karena kita sedarah-sebangsa
Bertanah air di Indonesia

Bangsa Indonesia bagiku mulia
Terjunjung tinggi pagi dan senja,
Sejak syamsiar di langit nirmala
Sampaikan malam di hari kelam
Penuh berbintang cahaya bulan;
Mengapatah mulai, handai dan taulan,
Badan dan nyawa ia pancarkan.

Selama metari di alam beredar
Bulan dan bintang di langit berkisar
Kepada bangsaku berani berikrar;
Salam awan putih gemawan
Memayungi telaga ombak-ombakan,
Selama itu bangsaku muliawan
Kepada jiwanya kami setiawan.

Ke Indonesia kami setia
Di manakah ia di hatiku lupa,
Jikalau darah di badan dan muka
Berasal gerangan di tanah awal;
Sekiranya selasih batang kemboja
Banyak kulihat ditentang mata
Menutupi mejan ayah dan bunda?

Di batasan lautan penuh gelombang,
Mendekati pantai buih berjuang,
Terberai tanahku gewang-gemewang
Sebagai intan jatuh terberai
Dilingkari kerambil lembai-melambai
Menyanyikan lagu dan indah permai
Di sela ombak memecah ke pantai.

Duduk di pantai tanah permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai,
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya,
Dilingkari air mulia tampaknya:
Tumpah darahku Indonesia namanya.

Memandang ‘alam demikian indahnya
Ditutupi langit dengan awannya
Berbilaikan buih putih rupanya,
Rindulah badan ingin dan rewan,
Terkenangkan negeri dengan bangsanya
Berumah tangga selama-lamanya
Penuh peruntungan berbagai sejarahnya.


 TANAH AIR
Bogor, Juli 1920

Pada batasan, bukit barisan
Memandang aku, ke bawah memandang;
Tampaklah hutan rimba dan ngarai;
Lagi pun sawah sungai yang permai;
Serta gerangan, lihatlah pula,
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk, daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku

                                                                                   Sesayup mata, hutan semata
                                                                                   Begunung bukit, lemah sedikit
                                                                                   Jauh di sana, di sebelah situ,
                                                                                   Dipagari gunung satu persatu
                                                                                   Adalah gerangan sebuah surga,
                                                                                   Bukannya janat bumi kedua
                                                                                  -Firdaus melaju di atas dunia!
                                                                                   Itulah tanah yang kusayangi,
                                                                                   Sumatera namanya, yang kujunjungi

Pada batasan, bukit barisan
Memandang ke pantai, teluk permai;
Tampaklah air, air segala
Itulah laut, samudera hindia
Tampaklah ombak, gelombang berbagai
Memecah ke pasir, lalu berderai
Ia memekik, berandai-andai
“Wahai Andalas, Pulau Sumatera, harumkan nama Selatan Sumatera”
TANAH AIR
Tanah Pasundan, 9 Desember 1922
 Di atas batasan Bukit Barisan
Memandang beta ke bawah memandang:
Tampaklah hutan rimba dan ngarai
Lagipun sawah, telaga nan permai:
Serta gerangan lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya tumpah darahku.

Indah ‘alam warna pualam
Tempat moyangku nyawa tertumpang;
Walau berabad sudah lampau
Menutupi Andalas di waktu nan silau
Masih kubaca di segenap mejan
Segala kebaktian seluruh zaman,
Serta perbuatan yang mulia-hartawan
Nan ditanam segala ninikku
Dikorong kampung hak milikku.

Rindu di gunung duduk bermenung
Terkenangkan masa yang sudah lindang;
Sesudah melihat pandang dan tilik
Timur dan Barat, hilir dan mudik,
Teringatlah pulau tempat terdidik
Dilumuri darah bertitik-titik,
Semasa pulai berpangkat naik:
O, Bangsaku, selagi tenaga
Nan dipintanya berkenan juga.

Gunung dan bukit bukan sedikit
Melengkung di taman bergelung-gelung
Memagari daratan beberapa lembah;
Di sanalah penduduk tegak dan rebah
Sejak beliung dapat merambah
Sampai ke zaman sudah berubah:
Sabas Andalas, bunga bergubah
Mari kujunjung, mari kusembah
Hatiku sedikit haram berubah!

Anak Perca kalbunya cuaca
Apabila terkenang waktu nan hilang,
Karena kami anak Andalas
Sejak dahulu sampai ke atas
Akan seia sehidup semati
Sekata sekumpul seikat sehati
Senyawa sebadan sungguh sejati
Baik di dalam bersuka raya
Ataupun diserang bala bahaya.

Hilang bangsa bergantikan bangsa
Luput masa timbullah masa…
Demikianlah pulauku mengikutkan sejarah
Sajak dunia mula tersimbah
Sampai ke zaman bagus dan indah
Atau tenggelam bersama ke lembah
Menyerikan cahaya penuh dan limpah.
Tetapi Andalas di zaman nan tiba
Itu bergantung ke tuan dan hamba.

Awal berawal semula asal
Kami serikat berpagarkan ‘adat,
Tapi pulauku yang mulia raya
Serta Subur, tanahnya kaya
Mari kupagar serta kubilai
Dengan Kemegahan sorak semarai
Lagi ketinggian berbagai nilai,
Karena di sanalah darahku tertumpah
Serta kupinta berkalangkan tanah.

Yakin pendapat akan sepakat
‘Akibat Barisan manik seikat;
Baikpun hampir jauh dan dekat,
Lamun pulauku mari kuangkat
Dengan tenaga kata mufakat
Karena, bangsaku, asal’lai serikat
Mana yang jauh rasakan dekat
Waktu yang panjang rasakan singkat,
Dan Kemegahan tinggi tentu ditingkat.

O, tanah, wahai pulauku
Tempat bahasa mengikat bangsa,
Kuingat di hati siang dan malam
Sampai semangatku suram dan silam;
Jikalau Sumatera tanah mulia
Meminta kurban bagi bersama
Terbukalah hatiku badanku reda
Memberikan kurban segala tenaga,
Berbarang dua kuunjukkan tiga
 
Elok pemandangan ke sana Barisan
Ke pihak Timur pantai nan kabur,
Sela bersela tamasa nan ramai
Diselangi sungai yang amat permai:
Dengan lambatnya seperti tak’kan sampai
Menghalirlah ia hendak mencapai
Jauh di sana teluk yang lampai;
Di mana dataran sudah dibilai
Tinggallah emas tiada ternilai

BAHASA, BANGSA

Selagi kecil berusia muda
Tidur si anak di pangkuan bunda,
Ibu bernyanyi, lagu dan dendang
Memuji si anak banyaknya sedang;
Berbuai sayang malam dan siang
Buaian tergantung di tanah moyang.

Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri
Diapit keluarga kanan dan kiri
Besar budiman di tanah Melayu
Berduka suka, sertakan rayu
Perasaan serikat menjadi berpadu,
Dalam bahasanya, permai merdu.

Meratap menangis bersuka raya
Dalam bahagia bala dan baya;
Bernafas kita pemanjangkan nyawa,
Dalam bahasa sambungan jiwa.
Di mana Sumatera, di situ bangsa,
Di mana Perca, di sana bahasa.

Andalasku sayang, jana-bejana,
Sejakkan kecil muda teruna,
Sampai mati berkalang tanah
Lupa ke bahasa, tiadakan pernah,
Ingat pemuda, Sumatera malang
Tiada bahasa, bangsa pun hilang.

DI LAUTAN HINDIA

Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku

Sebelah Timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku

Di mana laut debur-mendebur
Serta mendesir tiba di papsir
Di sanalah jiwaku, mula bertabur

Di mana ombak sembur-menyembur
Membasahi barissan sebuah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur


BANDI MATARAM! 

Pandangan jauh sekali
kepada zaman yang sudah hilang,
Ketika dewa hidup di bumi
serta bangsaku, bangsaku sayang
Berumah di hutan indah sekali,
atau di ranah lembah dan jurang,
O, Bangsaku, alangkah mujurmu di waktu itu
berjuang di padang ditumbuhi duka
Karena bergerak ada dituju
serta disinari cahaya Cinta
Atau meratap tersedu-sedu
karena kalbunya dipenuhi duka.
Walau demikian beratnya beban
hati nan sesak tiadalah sangka;
Ke langit nan hijau menadahkan tangan
meminta ke-Tuhan junjungan mulia
Supaya peruntungan tuan lupakan,
walau sengsara bukan kepalang
Tuan elakkan segala semuanya
biar terhempas terbawa ke karang,
Karena bangsaku nan sangat mulia
dengan begola, bintang gemilang
Serta bulan bersamaku surya
bertabur di langit gulita cemerlang,
Ia sehati, sekumpul senyawa,
Sebagai anak nan belum gedang
Kulihat tuan bergerak ke muka
dengan sengsara biar berperang,
Kadang berbantu haram tiada:
sungguh demikian Cahaya nurani
Nan bersinar-sinar di dalam dada
Bertambah besarnya bergandakan seri
Biar menentang bala dan baya
yang menceraikan orang, sehidup semati
Atau sepakat taulan saudara.
Dalam pandanganku tampaklah pula
Daripada bangsaku beberapa orang
berjalan berdandan ke padang mulia
Ke medan gerangan hendak berjuang
berbuat kurban meminta sejahtera
Isteri dan anak, sibiran tulang,
Baik bercabul rukun dan damai
bangsaku selalu besar dan tinggi:
Kadang ‘tu fajar hampir berderai
sedangkan embun belumlah pergi
Berjalan tuan alim dan lalai
menjelang sawah sedang menanti,
Beserta kerbau, anak dan bini
Tuan berjerih membuat puja
Kepada tanah yang subur sekali:
berkat pun turun dihadiahkan dewa,
Karena awan di gunung dan giri
turun ke bumi hujan terbawa
Alamat kesejahteraan sangat sejati!
Ditengah malam duduk bersama
Menghadapi seri cahaya pelita
timbullah sukur di hati mesra
Serta mendoa ke-Tuhan Mahakuasa
memulangkan santun, meminta cinta.
Jikalau pekan harilah balai
Alangkah sukanya kecil dan besar.
Segala yang kecil sorak semarai
menurut jalan berputar-putar
Serta sorakan bandar dan permai:
Ada menolong ibu dan bunda
Walaupun ketiding belum berisi!
Ada bermainan, cengkerik dan layang
Dan mengadu ayam, sesuka hati!
Berapalah suka alang kepalang
Bergurau dengan pinangan sendiri,
Si anak dara di hari nan datang!
Gadis perawan muka nan permai,
ketika hari bersuka raya,
Semua berjalan menuju balai:
kalau begini terkenang dik beta
Besarlah hati tiada ternilai,
karena disinari ingatan mulia.
Lihatlah perempuan hiasan di kampung
berpakaian adat bertekatkan emas
Berteduh di surga sebagai payung
menginjakkan kaki langkah yang tangkas
Atau mengidap sebagai ikan tunjung
menceriterakan rahasia, harap dan cemas,
Di belakang berjalan ninik dan mamak,
Ajuk-mengajuk bertukar bicara
Timbang menimbang kuranglah tidak
Ke balai terus gerangan jua
Dengan suara seberapa suka!
Tiada berhingga sehari-harinya.
Apabila hari sudah malam
Datanglah pula satu per satu
berundangan makan di hari kelam:
Demikian teguhnya gerangan bangsaku
Senyawa sebadan, sejahtera dan malam
Membuat kurban setiap sekalu,
kepada kawan handai dan taulan
Jika diserang gundah gulana
tuan sembahkan kedua tangan.
Dan berapalah pula berhati suka
Kalau disinari caya kenangan,
Alamat bagia yang sangat mulia.

Lihatlah gerangan, pandanglah pula
Di sana memutih cahaya mega
Menebarkan harapan di cakrawala.

Dengarkan sungai, air dan gangga
Mengeluarkan lagu merdua suara
Sebagai bunyian di dalam suarga.

Di hati bangsaku di pulau perca
Bersinar Cinta, bersuka riang
Menghadapi usia, gemilang cuaca.

Wahai bangsaku, remaja ‘lah lindang
Sebagai embun di hari pagi
Lenyaplah ke zaman yang sudah hilang

Kini bangsaku, insafkan diri
Berjalan ke muka, marilah mari
Menjelang padang ditumbuhi mujari
Dicayai Merdeka berseri-seri.

Monday, March 24, 2014

Sarjana Fakultatif Lulusan Universitas

Oleh : Emha Ainun Nadjib

Semakin tua, saya makin mengalami kegagapan komunikasi, bahkan kegagalan komunikasi. Kita mendengarkan pidato pejabat, mendengarkan presentasi pemakalah dalam suatu diskusi, lalu lintas perdebatan dalam talk shows, ustadz-ustadz kasih pengajian, pasti kita juga sering berada bersama orang-orang yang mengobrol di warung atau di gardu. Sering kali terasa, kita seakan dua orang tuli yang berpapasan di jalan dan saling menyapa.

"Mau ke mana, Kang? Mancing ya?"

"O, enggak. Saya mau mancing kok."

"O, ya udah. Saya kira mau mancing."

Mungkin saja sekian persen dari kekacauan pembangunan dan kebobrokan keadaan negeri ini bersumber pada mekanisme dan dialektika ketulian massal seperti itu.

Banyak sekali kejadian dimana orang memperbincangkan "mancing" dan merasa lega telah berbincang, padahal mancing yang dimaksudkan oleh seseorang sama sekali berbeda dengan mancingnya orang yang berbincang dengannya.

Terkadang orang mempertengkarkan, bermusuhan serius, sampai terjadi tawur massal, padahal masing-masing pihak sebenarnya sama-sama tidak pergi "mancing".

Berbagai situasi dalam perpolitikan elite atau perkehidupan budaya pada skala bangsa, sebagian tidak kecil mungkin juga sesungguhnya bertemakan "mancing". Bisa puluhan tahun kelompok ini bermusuhan dengan kelompok itu. Tema permusuhan mereka adalah mancing. Padahal, tak ada yang mancing, dan sesudah pertengkaran yang sangat akut dan bertele-tele, toh tak ada yang memperoleh ikan diantara mereka yang bermusuhan.

Kekacauan epistemologis

Salah satu sumber dialektika tuli dan mancing adalah kekacau-balauan epistemologi. Nahdlatul Ulama dan Ikatan Cendekiawan Muslim tak pernah terlihat akur dalam tata pergaulan budaya politik nasional, padahal bahasa Arab-nya Ikatan Cendekiawan adalah Nahdlatul Ulama, dan bahasa Indonesia-nya Nahdlatul Ulama adalah Ikatan Cendekiawan.

Orang pintar dari universitas Islam disebut "cendekiawan muslim", orang pintar dari pesantren disebut "ulama". Padahal, bahasa Arab-nya cendekiawan muslim adalah ulama, dan bahasa Indonesia-nya ulama adalah cendekiawan muslim.

Bank alternatif Islam disebut bank "syariah" sehingga bank "konvensional"  disebut bukan syariah. Padahal, keduanya sama-sama syariah. Syariah (syari'), sebagaimana thariqah (thariq) dan sabil artinya 'jalan', meski konotasi penggunaannya berbeda. Maka, bank umum konvensional juga bank syariah. Berdampingan dengan bank syariah, ia sama-sama syariah : jalan, cara, metode, manajemen, desain, strategi untuk menuju suatu goal tertentu. Bedanya, bank konvensional adalah syariatunnas, bank syariah adalah syariatullah.
Subyeknya bank syariatunnas adalah manusia dan akal pikiran, sedangkan syariatullah berbekal manusia, akal pikiran dan firman.

Yang syariatunnas atau bank konvensional tidak otomatis boleh disebut "bukan jalan Tuhan" atau bukan "sabilillah" karena manusia dan akal pikiran juga suatu jenis firman. Hanya saja, bank konvensional secara resmi tidak mengacu kepada firman literer, yakni ayat-ayat Kitab Suci.

Tercetus, berdiri, dan berlangsungnya bank konvensional hasil akal pikiran manusia bisa saja terkategorikan sebagai upaya religiositas : upaya manusia untuk mencapai kebenaran dan kesejahteraan sejati.

Ia juga bisa menjadi suatu jenis ijtihad (jihad atau perjuangan intelektual), sebagaimana bank syariatullah juga suatu model ijtihad. Hanya saja, ijtihad bank syariatullah mengacu pada religi, bukan sekadar ikhtiar religiousitas. Salah satu bukti empiris bahwa keduanya bisa merupakan upaya ijtihad adalah bahwa bank-bank konvensional yang menyelenggarakan sayap syariah : tidak semata-mata langsung melakukan konversi total dengan membubarkan sistem konvensionalnya dan mengantinya dengan sistem syariatullah. Syariatunnas dan syariatullah berjalan beriring dalam satu institusi bank.

Paguyuban fakultas

Terdapat ribuan contoh kekacauan epistemologis. Ada ribuan lembaga pendidikan yang menyebut dirinya universitas, tetapi yang diproduknya seratus persen sarjana-sarjana fakultatif, bukan sarjana universal. Memang nanti di S-2 dan S-3 dibuka peluang komprehensif antarbidang keilmuan sehingga merupakan tabungan universalitas keilmuan pelakunya.

Namun, di pihak lain, yang berkembang pesat justru spesialisasi keilmuan. Semakin spesialis, semakin tidak universal. Karena itu, tepatnya jangan sebut universitas, melainkan paguyuban fakultas-fakultas dan jurusan-jurusan.

Fakultas-fakultas berpapasan dan bersapaan satu sama lain, "Mau mancing ya?",

"Enggak, orang aku mau mancing kok",

"O, ya udah, kupikir pergi mancing."

Para mahasiswa pergi kuliah, padahal yang mereka maksudkan adalah juz'iyyah. Kuliah berasal dari kata kulliyyah, kata dasarnya kullun, artinya 'setiap'. Meskipun setiap mirip dengan semua, mereka amat berbeda. Setiap maupun semua menyangkut dan melibatkan setiap dan semua subyek, tetapi masing-masing berbeda dengan kebersamaan, ke-setiap-an berbeda bahkan bertentangan dengan ke-semua-an. Aku plus aku plus aku tidak pasti sama dengan kita. Karena dalam "kita", ke-aku-an direlakan untuk tidak menjadi faktor utama.

Pergi kuliah artinya berangkat mencari ilmu universal-komprehensif. Para sarjana fakultatif tidak pernah pergi kuliah, yang mereka lakukan di kampus adalah juz'iyyah: mencari ilmu fakulatif spesialistis. Salah satu tugas akademis mereka adalah berseminar dan menulis makalah. Entah bagaimana asal-usul kata itu. Jika sumbernya bahasa Swahili atau Visayan, saya kurang tahu. Namun, jenis bunyi dan pilihan huruf dari "makalah" sepertinya dari bahasa Arab. Kalau benar demikian, mungkin yang dimaksud adalah ma qala, artinya 'sesuatu yang dikatakan'. Kalau sesuatu yang dituliskan, bahasa Arab-nya : ma kutiba.

Saya yang dasarnya pemalas dalam hal tulis-menulis selalu mendapat keuntungan kalau diundang seminar. Sebab, panitia selalu minta makalah. Maka saya tinggal datang ke acara dan langsung mempersembahkan ma qala, hal-hal yang dikatakan. Jangan sampai ada panitia yang minta ma kutiba, nanti saya terpaksa menuliskannya.


sumber :
* Emha Ainun Nadjib. 2007. Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.